Warga Serang Petugas Ebola di Kongo, Jenazah Korban Ditangani Tanpa Protokol Kesehatan
AKURAT.CO Tim pemakaman khusus Ebola diserang warga di Provinsi Kivu Selatan, Republik Demokratik Kongo, memaksa petugas meninggalkan peti jenazah dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya penyebaran virus mematikan tersebut.
Kementerian Kesehatan Kongo mengungkapkan insiden itu terjadi pada Senin (1/6/2026) di Katana, sebuah kota yang berada sekitar 30 kilometer di utara Bukavu dan saat ini berada di bawah kendali kelompok AFC M23.
Serangan tersebut menyasar tim pemakaman yang bertugas melakukan proses pemakaman aman dan bermartabat bagi korban Ebola. Tim ini terdiri dari petugas khusus yang dilatih untuk menangani jenazah penderita Ebola dengan prosedur ketat guna mencegah penularan penyakit.
Setelah serangan terjadi, jenazah korban dilaporkan ditangani langsung oleh warga setempat. Praktik tersebut dinilai sangat berisiko karena dapat memicu rantai penularan baru virus Ebola.
Otoritas kesehatan belum menjelaskan secara rinci penyebab warga menyerang tim pemakaman tersebut. Namun insiden ini kembali menyoroti tantangan besar yang dihadapi petugas kesehatan akibat ketidakpercayaan masyarakat terhadap upaya penanganan wabah.
Dalam beberapa pekan terakhir, tim pemakaman dan tenaga kesehatan di wilayah terdampak Ebola dilaporkan beberapa kali menjadi sasaran penolakan maupun kekerasan. Sebagian keluarga korban bahkan mempertanyakan penyebab kematian kerabat mereka.
Insiden serupa juga terjadi pada hari yang sama di Bunia, ibu kota Provinsi Ituri. Tim respons Ebola diserang warga saat berada di area pemakaman, mengakibatkan sedikitnya empat orang mengalami luka-luka.
Sementara itu, jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo terus meningkat. Sejak wabah terbaru diumumkan pada 15 Mei lalu, otoritas kesehatan telah mencatat 363 kasus terkonfirmasi dan 62 kematian akibat strain Bundibugyo Ebola.
Dalam laporan terbaru, Kementerian Kesehatan melaporkan 19 kasus baru, termasuk dua kematian. Penyebaran virus kini telah menjangkau 17 dari 36 zona kesehatan di Provinsi Ituri.
Kasus juga terdeteksi di tujuh zona kesehatan di Provinsi Kivu Utara dan satu zona kesehatan di Kivu Selatan, menunjukkan meluasnya penyebaran wabah ke berbagai wilayah.
Meski menghadapi berbagai kendala, pemerintah mencatat sejumlah perkembangan positif. Sebanyak 32 orang yang sempat menjadi kontak erat pasien Ebola di wilayah Rwampara, Ituri, dinyatakan bebas dari infeksi setelah menjalani pemantauan selama 21 hari.
Selain itu, seorang pasien Ebola di Kota Goma, Kivu Utara, dilaporkan telah pulih dan bersiap dipulangkan untuk kembali berkumpul bersama keluarganya.
Wabah Ebola terbaru di Kongo menjadi yang ke-17 dalam sejarah negara tersebut dan kembali menguji kemampuan sistem kesehatan dalam menghadapi penyakit menular yang memiliki tingkat kematian tinggi.
Sumber: TRTWorld
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 6Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 7Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo






