Kabinet Pemerintahan Trump Pecah di Tengah Perang Lawan Iran

AKURAT.CO Kabinet Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan mengalami perpecahan internal di tengah berlanjutnya konflik militer antara Amerika Serikat bersama Israel melawan Iran. Situasi ini memperlihatkan ketidaksatuan arah kebijakan di lingkaran pemerintahan Washington saat tekanan perang semakin meningkat.
Mengutip laporan Al-Jazeera, Jumat (24 April 2026, pukul 15.10 WIB), perpecahan tersebut disorot oleh analis hubungan internasional dari Universitas Amerika, Andrea Dressi, yang menilai bahwa pemerintahan Trump tidak memiliki kesepakatan yang solid terkait kelanjutan perang. Ia menyebut adanya perubahan strategi yang terus-menerus serta ketidakjelasan tujuan yang ingin dicapai oleh Amerika Serikat dalam konflik tersebut.
Menurut Dressi, kondisi ini menunjukkan adanya dinamika internal yang tidak stabil, di mana perbedaan pandangan antarpejabat semakin menguat. Ia juga menyoroti bahwa di balik upaya pemerintah menampilkan kekuatan melalui komunikasi publik dan media sosial, justru terjadi peningkatan ketidaksepakatan di dalam tubuh pemerintahan, termasuk di lingkungan Pentagon dan Departemen Pertahanan.
Baca Juga: Biaya Operasi AS Lawan Iran Tembus Rp1.000 Triliun!
Perpecahan tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari kesalahan perhitungan strategis dalam menghadapi konflik dengan Iran. Minimnya perencanaan jangka panjang dinilai membuat Amerika Serikat kini berada dalam posisi sulit, terjebak dalam kebuntuan antara melanjutkan operasi militer atau mencari jalan keluar diplomatik.
Di sisi lain, tekanan ekonomi global akibat konflik ini turut memperburuk situasi. Dressi menilai bahwa dampak perang tidak hanya dirasakan secara militer, tetapi juga menekan stabilitas ekonomi internasional, yang semakin terancam jika konflik kembali meningkat menjadi perang skala penuh.
Sementara itu, Presiden Trump masih mengupayakan jalur diplomasi dengan mengindikasikan kemungkinan dilakukannya negosiasi damai lanjutan dalam waktu dekat. Pembicaraan tersebut direncanakan berlangsung dalam beberapa hari ke depan dengan melibatkan mediasi dari Pakistan. Namun hingga kini, pihak Iran belum memberikan konfirmasi resmi terkait kesiapan mereka untuk kembali ke meja perundingan.
Sumber dalam pemerintahan Amerika Serikat juga menyebut bahwa Trump mempertimbangkan untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama tiga hingga lima hari guna memberi ruang bagi konsolidasi internal dan pembahasan proposal damai. Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti arah kebijakan Washington, seiring belum adanya kesepakatan yang jelas di dalam kabinet itu sendiri.
Baca Juga: CSR PGN dan BRIN Dorong Panen Padi Biosalin Jepara Melebihi Target
Kondisi ini menegaskan bahwa konflik yang berlangsung tidak hanya berdampak pada medan perang, tetapi juga mengguncang stabilitas politik internal Amerika Serikat, yang kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga konsistensi strategi di tengah tekanan global yang semakin kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








