Umat Katolik Afrika Bereaksi Keras atas Unggahan Trump Bertema Yesus
AKURAT.CO Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Paus Leo memicu reaksi keras di sejumlah negara Afrika. Banyak umat Katolik menilai perseteruan tersebut telah melewati batas, terutama setelah unggahan Trump bertema Yesus menuai kontroversi.
Reaksi ini muncul di tengah rekam jejak hubungan Trump yang kerap tegang dengan Afrika, termasuk pernyataan kontroversial tentang negara-negara di benua tersebut serta kebijakan pemangkasan bantuan luar negeri AS. Bagi sebagian kalangan, polemik terbaru ini memperkuat kekhawatiran terhadap sikap Trump terhadap Afrika dan Gereja Katolik.
Seorang diplomat di Yaounde, Blaise Bebey Abong, mengaku terkejut dengan sikap Trump. Ia menyampaikan hal itu saat Paus Leo tiba di kota tersebut dalam rangka tur ke beberapa negara Afrika. “Saya sangat terkejut,” ujarnya kepada Reuters, seraya menilai kritik Trump terhadap kepausan sebagai sesuatu yang sangat keras dan tidak lazim. Ia bahkan menyebut retorika semacam itu terhadap institusi moral yang dihormati luas sebagai hal yang “tidak terpikirkan”.
Ketegangan mulai meningkat sejak akhir Maret, ketika Paus Leo—pemimpin Gereja Katolik pertama yang lahir di Amerika Serikat—menyuarakan kritik terhadap konflik Iran menyusul serangan AS-Israel. Sikap tersebut menempatkannya berseberangan dengan Trump, yang kemudian merespons dengan kritik yang semakin tajam.
Akhir pekan lalu, Trump melalui platform Truth Social menyerang posisi Paus, menyebutnya “lemah” dalam isu kejahatan dan tidak efektif dalam kebijakan luar negeri. Pada waktu yang hampir bersamaan, Trump juga mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan yang menampilkan dirinya menyerupai sosok Yesus. Unggahan itu memicu kecaman luas, termasuk dari kalangan konservatif religius, sebelum akhirnya dihapus.
Baca Juga: Mengapa Benua Afrika Disebut Benua Hitam? Ternyata Bukan Sekadar Warna Kulit
Bagi banyak umat Katolik di Afrika, kombinasi serangan politik dan simbolisme keagamaan tersebut dinilai mengkhawatirkan. Abong menegaskan bahwa otoritas moral Paus melampaui batas agama Kristen, dan memperingatkan bahwa polemik ini berpotensi merusak citra Trump di kawasan tersebut, bahkan di kalangan pendukungnya.
Meski demikian, ketegangan belum menunjukkan tanda mereda. Paus Leo menegaskan akan terus menyuarakan penolakannya terhadap perang, sementara Trump tetap melanjutkan kritiknya. Dalam penerbangan dari Algeria menuju Cameroon, Paus memilih tidak menanggapi langsung serangan tersebut, dan justru menyerukan pentingnya saling menghormati antarnegara dan antarbangsa.
Perseteruan ini menunjukkan bagaimana perang kata-kata antara Trump dan Paus Leo berkembang menjadi isu yang lebih luas, memengaruhi persepsi terhadap kepemimpinan AS, menguji hubungan dengan komunitas keagamaan, serta berdampak hingga ke berbagai kawasan di luar Amerika Serikat.
Sumber: Indiatoday
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 720 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 8Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja







