Iran Kehilangan Jejak Ranjau di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Masih Terbatas

AKURAT.CO Iran dilaporkan kehilangan jejak lokasi ranjau laut yang dipasang di Selat Hormuz dan tidak memiliki data pasti mengenai titik penempatannya. Informasi tersebut disampaikan sejumlah pejabat Amerika Serikat kepada The New York Times pada Jumat (10/4/2026).
Laporan itu menyebut, Iran mengerahkan pasukan terdesentralisasi dalam operasi penutupan Selat Hormuz, dengan kapal-kapal kecil memimpin pemasangan ranjau tanpa rantai komando yang jelas. Kondisi ini membuat jalur pelayaran strategis tersebut—yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak global—menjadi sangat berisiko untuk dilintasi.
Saat ini, kapal-kapal disebut hanya memiliki opsi memutar melalui perairan Iran. Dalam skema yang diusulkan Teheran, otoritas Iran berencana mengenakan biaya hingga US$2 juta bagi kapal yang ingin melintas, sebagaimana tercantum dalam dokumen tuntutan negosiasi kepada Washington.
Pejabat AS menilai pemasangan ranjau dilakukan secara “tidak terkoordinasi”, dengan intelijen menunjukkan Iran tidak mengetahui secara pasti lokasi setiap ranjau yang telah ditanam.
Selain itu, laporan The New York Times menyebut baik Amerika Serikat maupun Iran saat ini belum memiliki kapasitas memadai untuk membersihkan ranjau laut di kawasan tersebut. Kapal penyapu ranjau utama AS tidak berada di Selat Hormuz, sementara Iran juga tidak memiliki metode konkret untuk membuka kembali jalur pelayaran.
Situasi ini menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya negosiasi kedua negara. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut pembukaan Selat Hormuz secara “penuh, segera, dan aman” sebagai syarat dimulainya perundingan. Pada Jumat, Trump kembali menegaskan Iran tidak memiliki pilihan selain bernegosiasi dan menyebut penutupan selat sebagai “pemerasan jangka pendek terhadap dunia”.
Lalu Lintas Masih di Bawah Normal
Data dari situs pelacakan maritim MaritimeTraffic menunjukkan jumlah kapal yang melintas Selat Hormuz mulai meningkat, dengan sembilan kapal tercatat keluar-masuk pada Kamis.
Meski meningkat hampir dua kali lipat dibanding hari sebelumnya, angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata sebelum konflik yang mencapai lebih dari 130 kapal per hari.
Laporan itu juga mencatat risiko operasional di kawasan tetap tinggi akibat minimnya lalu lintas. Pergerakan kapal masih bergantung pada persetujuan Iran untuk melintas di perairan teritorialnya.
Sejauh ini belum ada laporan serangan baru, meski ancaman serangan drone dan roket Iran—selain ranjau laut—masih menjadi kekhawatiran utama bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sumber: JP
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






