Pusat Data Amazon Diserang Iran, Teheran Mulai Targetkan Teknologi Amerika

AKURAT.CO Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini merambah sektor teknologi. Teheran dilaporkan menyerang dua pusat data milik Amazon Web Services (AWS) di Uni Emirat Arab pada Minggu (1/3/2026) dini hari.
Serangan menggunakan drone Shahed itu menyebabkan gangguan pada sejumlah aplikasi dan layanan digital di UEA. Insiden ini dinilai sebagai babak baru dalam peperangan modern, ketika infrastruktur teknologi komersial menjadi sasaran fisik dalam konflik bersenjata.
Sebelumnya, serangan terhadap pusat data lebih banyak dilakukan melalui siber. Pada 2024, peretas Ukraina pernah menghancurkan data di pusat data yang berafiliasi dengan militer Rusia. Namun, serangan tersebut berbasis digital, bukan serangan fisik terhadap fasilitas.
Baca Juga: Pengamat Luar Negeri: Trump Menutupi Kekalahan Strategi Militernya dalam Perang Lawan Iran
Mengutip laporan The Independent, Kamis (2/4/2026), militer AS semakin mengintegrasikan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pendukung pengambilan keputusan. Teknologi AI digunakan untuk analisis intelijen, perencanaan operasi militer, hingga dukungan strategis di medan perang.
Dalam sejumlah operasi, termasuk penangkapan mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro serta dukungan operasi terhadap Iran, AS disebut memanfaatkan sistem AI seperti Claude dari perusahaan Anthropic.
Meski demikian, sistem AI tersebut tidak berjalan langsung di perangkat militer seperti pesawat atau kapal perang. Infrastruktur komputasi untuk menjalankan model AI umumnya berada di layanan komputasi awan seperti AWS. Artinya, pusat data komersial kini menjadi bagian penting dari infrastruktur strategis.
Pusat data tidak hanya menopang layanan militer, tetapi juga berbagai layanan sipil, mulai dari hiburan digital hingga sistem keuangan. Gangguan pada fasilitas AWS di UEA dilaporkan sempat memengaruhi sistem perbankan lokal.
Hal ini menunjukkan bahwa serangan terhadap pusat data dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi dan aktivitas masyarakat. Dalam era ketika AI menjadi motor pertumbuhan ekonomi global, pusat data menjadi tulang punggung operasional banyak sektor.
Namun, fasilitas pusat data umumnya tidak dilengkapi sistem pertahanan udara khusus. Ukurannya yang besar dan struktur fisik yang relatif terbuka membuatnya lebih rentan dibandingkan target militer.
Ketegangan meningkat setelah pasukan elite Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengeluarkan ancaman terhadap sejumlah perusahaan teknologi AS yang beroperasi di kawasan Timur Tengah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









