Ramai-ramai Mayoritas Yahudi Amerika Tolak Perang AS dengan Iran

AKURAT.CO Mayoritas warga Yahudi Amerika Serikat menyatakan penolakan terhadap keterlibatan militer Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran. Hal itu terungkap dalam survei terbaru yang dirilis Mellman Group pada Senin (30/3/2026).
Survei daring tersebut melibatkan 800 pemilih terdaftar etnis Yahudi di seluruh AS pada periode 13–23 Maret 2026. Hasilnya, sebanyak 55 persen responden menolak serangan militer ke Iran, sementara 32 persen menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut.
Penolakan paling besar datang dari responden yang berafiliasi dengan Partai Demokrat. Sebanyak 74 persen Yahudi Demokrat menyatakan menentang perang. Sebaliknya, dukungan kuat muncul dari kelompok Yahudi Republik, dengan 83 persen menyetujui kebijakan militer yang ditempuh pemerintahan Presiden Donald Trump bersama sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Baca Juga: Akankah Perang AS-Iran Berujung Pada Resesi Ekonomi AS?
Dari sisi gender, perempuan Yahudi lebih banyak menyatakan ketidaksetujuan. Sebanyak 59 persen responden perempuan menolak perang, dibandingkan 49 persen responden laki-laki.
Survei juga mencatat kekhawatiran terkait aspek hukum dan strategi. Sekitar 41 persen responden menilai aksi militer seharusnya dilakukan jika ada provokasi yang jelas dan tujuan strategis yang terdefinisi dengan baik. Banyak responden memandang prasyarat tersebut belum terpenuhi dalam konflik saat ini.
Selain itu, 73 persen responden berpendapat Presiden Donald Trump seharusnya meminta persetujuan Kongres sebelum meluncurkan serangan. Bahkan, 29 persen responden yang mendukung perang tetap berpandangan bahwa langkah militer perlu melalui persetujuan legislatif.
Survei ini juga merekam sikap ambivalen di sebagian responden. Sekitar satu dari empat responden mengakui Iran merupakan sebuah “ancaman”, namun pada saat yang sama meragukan pendekatan militer yang diambil Gedung Putih.
Keterlibatan erat antara AS dan Israel dalam konflik tersebut turut memunculkan kecemasan jangka panjang. Sebanyak 54 persen responden khawatir kemitraan militer ini dapat memicu pertanyaan publik mengenai peran strategis Israel dan komunitas Yahudi Amerika dalam kebijakan luar negeri AS di masa depan.
Baca Juga: Israel Bunuh Sejumlah Jurnalis Lebanon, Menlu Iran: Upaya Pembunuhan Terhadap Kebenaran
Temuan ini menunjukkan adanya kecenderungan sebagian besar warga Yahudi Amerika untuk lebih berhati-hati terhadap kebijakan intervensi militer, terutama yang dinilai belum memiliki landasan hukum dan strategi yang jelas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen









