Netanyahu Beda Pendapat dengan Trump Soal Serang Fasilitas Gas Iran

AKURAT.CO Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui adanya perbedaan pandangan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait serangan Israel terhadap fasilitas gas South Pars milik Iran.
Mengutip laporan The Telegraph India, Jumat (20/3/2026), Netanyahu menyatakan bahwa Israel bertindak sendiri dalam serangan terhadap ladang gas raksasa tersebut pada Kamis (19/3/2026).
Ia juga mengungkapkan telah menyetujui permintaan Trump untuk menunda serangan lanjutan terhadap South Pars, yang merupakan ladang gas bersama Iran dan Qatar.
“Telah disebut selama 40 tahun saya mengatakan bahwa Iran adalah ancaman bagi Israel dan ancaman bagi dunia. Itu benar. Tahukah Anda siapa lagi yang mengatakan itu? Presiden Trump,” kata Netanyahu dalam konferensi pers di Yerusalem.
Sementara itu, Trump sebelumnya menyampaikan sikap yang berbeda saat menerima kunjungan Perdana Menteri Jepang di Gedung Putih. Ia mengaku telah meminta Netanyahu agar tidak melanjutkan serangan.
“Saya sudah bilang padanya untuk jangan lakukan itu,” ujar Trump merujuk pada keputusan Israel menyerang fasilitas energi tersebut.
Trump juga menegaskan bahwa koordinasi tetap dilakukan antara kedua negara, meskipun terdapat perbedaan sikap dalam beberapa keputusan.
“Kami akur. Itu terkoordinasi, tetapi kadang-kadang dia akan melakukan sesuatu. Dan jika saya tidak menyukainya, maka kami tidak akan melakukan itu lagi,” tambahnya.
Perbedaan pernyataan antara kedua pemimpin itu disebut sebagai yang paling mencolok sejak konflik antara Israel dan Iran memasuki hari ke-20.
Serangan terhadap fasilitas gas South Pars dilaporkan memicu serangan balasan dari Iran yang menyasar infrastruktur energi di sejumlah wilayah Timur Tengah.
Dampak eskalasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi global yang sebelumnya telah berada dalam tren tinggi.
Baca Juga: Operasi Keamanan Iran Tangkap 97 Orang yang Dituduh Terkait Israel
Sejumlah negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk dilaporkan mendesak Washington untuk menahan langkah Israel guna mencegah perluasan konflik lebih lanjut.
Hingga kini, situasi keamanan di kawasan masih terus berkembang di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









