Akurat Logo

Takut Dirudal Iran, Sejumlah Kapal di Selat Hormuz Menyamar Jadi Milik China

Lufaefi | 16 Maret 2026, 16:41 WIB
Takut Dirudal Iran, Sejumlah Kapal di Selat Hormuz Menyamar Jadi Milik China
Kapal Melewati Selat Hormuz Iran (istimewa)

AKURAT.CO Ketegangan di kawasan Teluk Persia memunculkan fenomena baru di jalur pelayaran internasional. Sejumlah kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan mengubah identitas digital mereka dan mengaku sebagai milik China untuk menghindari potensi serangan di tengah konflik Iran dengan koalisi AS-Israel.

Berdasarkan data pelacakan maritim, praktik ini mulai marak sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026. Sejumlah kapal besar yang berada di Teluk Persia dan Teluk Oman tidak lagi mencantumkan pelabuhan tujuan pada sistem identifikasi otomatis (AIS), melainkan menuliskan pesan seperti CHINA OWNER atau CHINA OWNER & CREW.

Langkah tersebut dinilai sebagai strategi pencegahan untuk meminimalkan risiko menjadi sasaran militer Iran. Dalam situasi konflik terbuka, kapal-kapal komersial yang diduga memiliki keterkaitan dengan negara-negara tertentu dinilai lebih rentan terhadap ancaman.

China dipandang relatif aman dari risiko serangan langsung karena memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan Teheran serta posisi politik yang cenderung lebih netral dalam konflik tersebut.

Baca Juga: Chatbot AI Grok Tegaskan Video Terbaru Netanyahu di Kedai Kopi 100% Deepfake

Data pengiriman energi menunjukkan bahwa Iran tetap menyalurkan jutaan barel minyak ke China melalui Selat Hormuz meski kawasan itu berada dalam tensi tinggi.

Meski mencantumkan identitas sebagai milik China, sebagian besar kapal tersebut sebenarnya terdaftar dengan bendera Panama atau Kepulauan Marshall.

Dalam praktik pelayaran internasional, penggunaan bendera negara lain memang lazim dilakukan dan tidak selalu mencerminkan kewarganegaraan pemilik kapal yang sebenarnya.

Namun, efektivitas taktik penyamaran digital ini masih menjadi perdebatan di kalangan analis risiko dan pakar transportasi maritim. Belum ada kepastian apakah perubahan identitas pada transponder benar-benar mampu mencegah serangan.

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati perairan sempit ini setiap harinya. Ancaman blokade atau serangan di kawasan tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan krisis energi global.

Baca Juga: Diisukan Tewas, Iran Janji Buru Netanyahu Jika Masih Hidup

Sejak konflik meningkat, dilaporkan belasan kapal komersial mengalami kerusakan akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari eskalasi militer.

Iran sebelumnya juga memperingatkan bahwa harga minyak dunia dapat melonjak drastis apabila agresi militer terus berlanjut dan jalur pelayaran di Selat Hormuz terganggu.

Di tengah situasi yang semakin tidak menentu, para pelaku industri pelayaran menghadapi dilema antara menjaga keselamatan awak dan muatan, atau mempertahankan kelancaran distribusi logistik global. Fenomena menyamar sebagai kapal China menjadi salah satu gambaran betapa gentingnya situasi di jalur strategis tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi