Akurat Logo

AS Hadapi Krisis Logistik di Tengah Perang Iran, Sekutu Disebut Tolak Permintaan Trump

Lufaefi | 11 Maret 2026, 21:12 WIB
AS Hadapi Krisis Logistik di Tengah Perang Iran, Sekutu Disebut Tolak Permintaan Trump
Pejabat Amerika Serikat (US)

AKURAT.CO Militer Amerika Serikat dilaporkan menghadapi krisis logistik yang kian serius seiring berlanjutnya perang melawan Iran yang kini memasuki hari ke-12.

Sumber militer menyebut persediaan rudal pertahanan udara AS di kawasan Asia Barat menipis drastis akibat serangan balasan Iran.

Laporan yang dikutip dari Press TV, Rabu (11/3/2026), menyebutkan bahwa Washington tengah berpacu memindahkan persenjataan dari berbagai lokasi strategis global ke kawasan tersebut.

Langkah ini diambil setelah gelombang serangan rudal dan drone Iran menghantam target-target di wilayah Israel dan pangkalan militer AS.

Sumber internal Angkatan Darat AS yang mengetahui langsung operasi tersebut mengatakan bahwa pengerahan darurat dilakukan karena stok sistem pertahanan udara, termasuk baterai THAAD, semakin menipis. Menurutnya, kondisi ini membuat sejumlah pangkalan AS di kawasan menjadi rentan.

Baca Juga: Media Amerika Beberkan Salah Perhitungan Trump dan Para Penasehatnya dalam Perang Melawan Iran

Serangan balasan Iran dilaporkan berlangsung dalam kerangka operasi militer yang disebut True Promise 4. Sumber itu mengklaim seluruh serangan drone dan rudal Iran dalam beberapa hari terakhir berhasil mencapai sasaran, sehingga menyingkap kelemahan dalam sistem pertahanan udara Amerika.

Situasi tersebut disebut mendorong Presiden AS, Donald Trump, untuk meminta dukungan militer dari sekutu-sekutu Eropa dan Asia Tenggara. Dalam komunikasi diplomatiknya, Trump dilaporkan mendesak negara-negara mitra mengirim kapal perang serta mengerahkan sistem radar buatan AS guna membantu mencegat rudal Iran dan kelompok Poros Perlawanan.

Namun, menurut sumber yang sama, sebagian besar negara yang dihubungi menolak permintaan tersebut. “Tiga negara menolak secara tegas, dan hanya satu pemimpin yang menyatakan akan mempertimbangkan, itu pun di tengah tekanan domestik yang kuat,” ujar sumber tersebut.

Penolakan itu dinilai mencerminkan keengganan internasional untuk terlibat lebih jauh dalam konflik yang dinilai berisiko meluas dan berdampak pada stabilitas energi global serta keamanan kawasan.

Baca Juga: Tegaskan Tak Terlibat Kasus CPNS Bodong, Nia Daniaty Tak Nikmati Sepeser Pun Hasil Penipuan

Perang ini dilaporkan pecah pada 28 Februari lalu setelah terbunuhnya Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer senior dalam serangan yang memicu eskalasi besar.

Sejauh ini, angkatan bersenjata Iran disebut telah meluncurkan 37 gelombang serangan rudal dan drone ke target Israel dan pangkalan AS di kawasan. Sementara itu, tekanan logistik terhadap pasukan Amerika dilaporkan terus meningkat, tanpa tanda-tanda deeskalasi dalam waktu dekat.

Perkembangan terbaru ini diperkirakan akan memengaruhi dinamika keamanan Asia Barat serta posisi strategis AS di kawasan tersebut.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi