Akurat

Iran Bantah Klaim Trump Soal Kematian Ali Khamenei: Serangan Masih Berlangsung

Lufaefi | 1 Maret 2026, 08:12 WIB
Iran Bantah Klaim Trump Soal Kematian Ali Khamenei: Serangan Masih Berlangsung
Ali Khamenei Pimpinan Tertinggi Iran

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam kompleks kediamannya pada Sabtu (28/2/2026). Pernyataan tersebut langsung memicu ketegangan baru di kawasan.

Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa Khamenei dan sejumlah pejabat Iran lainnya tidak dapat lolos dari intelijen Amerika Serikat dan sistem pelacakan canggih. Ia juga mengumumkan dimulainya operasi tempur besar di Iran dan secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat menginginkan perubahan rezim.

“Kini saat kebebasan Anda telah tiba,” ujar Trump, ditujukan kepada rakyat Iran, dilansir Al Jazeera, Minggu (1/3/2026).

“Ketika kami selesai, ambillah alih pemerintahan Anda. Pemerintahan itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda selama beberapa generasi,” tambah Trump.

Ia menambahkan bahwa dirinya bersedia melakukan apa yang belum pernah dilakukan presiden Amerika sebelumnya.

“Jadi mari kita lihat bagaimana Anda merespons," katanya lagi.

Baca Juga: Serangan Israel Hantam Sekolah Dasar Putri di Iran Selatan, 108 Orang Dilaporkan Tewas

Namun, pihak Iran membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa serangan masih terus berlangsung. Hingga kini belum ada verifikasi independen terkait kabar kematian Khamenei.

Ali Khamenei memimpin Republik Islam Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Iran 1979. Di bawah kepemimpinannya, Iran memperkuat peran militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta membangun jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai poros perlawanan.

Dalam pernyataan sebelumnya saat mendapat ancaman, Khamenei menegaskan, “Orang-orang cerdas yang mengenal Iran dan sejarahnya tidak akan pernah berbicara kepada bangsa ini dengan bahasa ancaman, karena bangsa Iran tidak akan menyerah, dan Amerika harus mengetahui bahwa setiap intervensi militer Amerika Serikat pasti akan menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.”

Laporan Al Jazeera juga menyebutkan bahwa serangan ini terjadi setelah rangkaian ketegangan panjang, termasuk perang hampir dua pekan pada Juni 2025, ketika Israel menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran dan Teheran membalas dengan rentetan rudal ke Tel Aviv. Konflik tersebut turut melibatkan dukungan militer Amerika Serikat.

Baca Juga: Klaim Israel Ali Khamenei Tewas, Iran Angkat Bicara

Sebelum operasi militer terbaru, perundingan antara Washington dan Teheran mengenai pembatasan program nuklir Iran dilaporkan berlangsung di Uni Emirat Arab dan Jenewa, namun tidak mencapai terobosan.

Amerika Serikat menuntut pembongkaran total infrastruktur nuklir Iran serta penghentian dukungan terhadap sekutu regionalnya, tuntutan yang sebagian besar ditolak Teheran.

Hingga laporan ini diberitakan, situasi di kawasan masih tegang. Sejumlah negara menutup wilayah udara mereka, sementara maskapai internasional menghentikan penerbangan akibat meningkatnya risiko keamanan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi