Gempa Jepang Terjadi Lebih dari 1.000 Guncangan dalam Dua Pekan, Warga Panik!

AKURAT.CO Jepang kembali diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 yang terjadi di wilayah Kepulauan Tokara, Prefektur Kagoshima, bagian barat daya negara itu, pada Kamis, 3 Juli 2025, pukul 16.13 waktu setempat.
Gempa tersebut tercatat pada level lower 6 dalam skala intensitas seismik Jepang yang berkisar dari 0 hingga 7.
Getaran kuat ini mengguncang wilayah kepulauan kecil tersebut dan menambah daftar panjang gempa susulan yang telah terjadi lebih dari 1.000 kali dalam dua pekan terakhir.
Badan Meteorologi Jepang (JMA) mengonfirmasi bahwa pusat gempa terletak di lepas pantai Kepulauan Tokara dengan kedalaman sekitar 20 kilometer. Meski guncangannya dirasakan kuat, otoritas Jepang tidak mengeluarkan peringatan tsunami.
Ini menunjukkan bahwa meskipun intensitas gempa tinggi, potensi dampak lebih luas yang terkait dengan gelombang pasang tidak terdeteksi.
Warga di Pulau Akusekijima, yang menjadi salah satu lokasi terdekat dengan pusat gempa dan mengalami dampak terberat, menggambarkan bagaimana guncangan yang berlangsung cukup lama membuat mereka terkejut dan bergegas keluar rumah untuk mencari tempat aman.
Baca Juga: Gempa M 6,3 Guncang Bengkulu, Ini Doa saat Mendengar Kabar Gempa Bumi
Sekitar 80 penduduk pulau tersebut dilaporkan segera menuju pusat evakuasi demi keselamatan mereka. Pemerintah setempat bahkan telah menyiagakan kapal feri sebagai sarana evakuasi jika situasi memburuk.
Pemerintah desa Toshima, yang mengelola wilayah Kepulauan Tokara, memastikan bahwa seluruh warga dalam keadaan aman. Sampai saat ini belum ada laporan mengenai korban luka atau korban jiwa, dan tim kepolisian bersama instansi terkait terus mengumpulkan informasi terkait potensi kerusakan infrastruktur.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Hayashi Yoshimasa, dalam pernyataan resminya menyampaikan bahwa pemerintah pusat telah mengambil langkah-langkah cepat untuk menilai kerusakan dan memprioritaskan penyelamatan jiwa.
Pemerintah pusat juga berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah guna mengatasi dampak gempa serta menyiapkan bantuan yang diperlukan.
Yang menarik, kejadian gempa ini terjadi di tengah maraknya perbincangan tentang ramalan gempa besar yang beredar di media sosial.
Ramalan tersebut, yang merupakan terbitan lama dari tahun 2021 dan kembali viral, memprediksi akan terjadinya gempa besar pada tanggal 5 Juli.
Meski tidak didukung bukti ilmiah, isu tersebut sempat menimbulkan keresahan publik, terutama di sektor pariwisata.
Maskapai Greater Bay Airlines yang berbasis di Hong Kong dilaporkan mengurangi penerbangan ke Jepang karena penurunan jumlah wisatawan yang signifikan, dengan angka penurunan mencapai lebih dari 11 persen untuk turis asal Hong Kong.
Menanggapi rumor ini, Kepala JMA, Ryoichi Nomura, menegaskan bahwa gempa bumi hingga kini tidak dapat diprediksi secara pasti, baik dari sisi waktu, lokasi, maupun kekuatannya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tetap tenang dan fokus pada kesiapsiagaan menghadapi bencana, bukan pada kekhawatiran yang tidak berdasar.
Nomura mengajak seluruh warga Jepang untuk senantiasa siap menghadapi gempa bumi kapan saja, mengingat negara tersebut berada di kawasan Cincin Api Pasifik yang aktif secara geologis.
Namun, ia juga mengimbau agar masyarakat tidak bertindak secara berlebihan yang justru dapat menimbulkan kepanikan baru.
Peristiwa ini kembali mengingatkan dunia bahwa Jepang, dengan segala kecanggihan teknologi mitigasi bencananya, tetap menghadapi tantangan alam yang tak terduga.
Kesigapan pemerintah dan kedisiplinan warga menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan jiwa di tengah ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










