Akurat Logo

Apa yang Terjadi di Rafah? Target Israel Selanjutnya

Iwan Gunawan | 13 Februari 2024, 19:59 WIB
Apa yang Terjadi di Rafah? Target Israel Selanjutnya

AKURAT.CO Rafah merupakan daerah yang melintasi perbatasan antara Jalur Gaza dan Mesir. Di sisi Palestina terdapat nama gubernur paling selatan di Gaza dan ibu kotanya serta nama penyeberangan ke Sinai di Mesir.

Di sisi Mesir ini adalah sebuah kota di Provinsi Sinai Utara.

Rafah memiliki luas 64 kilometer persegi. Ketika Israel menyerang Gaza selama empat bulan terakhir, semakin banyak orang digiring ke sana oleh militer Israel dengan janji keamanan namun tidak kunjung dipenuhi.

Sekitar 1,4 juta warga Palestina kini terdesak ke Rafah akibat pengeboman Israel yang tiada henti. Serangan ini menewaskan hampir 30.000 warga Palestina.

Orang-orang berada dalam kelompok padat di ruang terbatas yang tidak dipenuhi puing-puing atau dibom oleh Israel. Kondisinya sangat buruk dan terjadi kekurangan yang parah.

Baca Juga: Di Mana Kota Rafah dan Mengapa Jadi Sasaran Baru Tentara Israel?

Apa yang dimaksud dengan operasi Israel?

Tel Aviv mengeklaim empat brigade Hamas hadir di Rafah. Sehingga kehadiran mereka digunakan untuk membenarkan serangan yang berlangsung melalui udara serta rencana serangan darat. Israel juga mengeklaim rencana untuk mengevakuasi kota tersebut ke tempat tidak jelas dan sedang dalam persiapan, sehingga membuat mereka yang berlindung di Rafah lumpuh.

Apakah saat ini Rafah sudah aman?

Rafah dinyatakan tidak aman karena Israel telah membunuh lebih dari 100 orang setiap hari lewat serangan udara. Mereka yang selamat dari serangan tersebut hidup dalam kondisi sangat buruk. Mereka tinggal di tenda yang tidak layak pakai sehingga ketika hujan air akan masuk dan di bawah puing-puing apapun untuk berlindung.

Banyak warga Palestina di Rafah yang telah berkali-kali mengungsi dan mengatakan mereka tidak akan pindah lagi apapun yang terjadi. Seperti Jihan al-Hawajri yang mengatakan kepada stasiun televisi PBS bahwa dia akan tetap tinggal di tendanya.

"Tidak ada tempat lagi... untuk melarikan diri," kata Angelita Caredda, Direktur Dewan Pengungsi Norwegia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kondisi Rafah saat ini

Dilansir Al Jazeera menunjukkan suatu wilayah sudah berada pada titik puncaknya. Sekitar 22.000 orang memadati kawasan Rafah yang memiliki luas 64 kilometer persegi.

Sebelum perang, 275.000 orang tinggal di wilayah tersebut dan menjadikan Rafah salah satu wilayah Gaza yang paling padat.

Massa mengungsi masuk ke fasilias UNRWA dengan harapan badan yang dibentuk untuk membantu mereka dapat menjalankan tugasnya. Namun hampir 150 staf UNRWA tewas dalam serangan Israel.

Pemerintah Barat juga menarik dana ketika Israel menuduh tanpa bukti bahwa 12 staf UNRWA ikut serta dalam serangan tanggal 7 Oktober.

Padatnya penduduk di Rafah mengakibatkan penyebaran penyakit dengan cepat. Pejabat kesehatan melaporkan wabah Hepatitis A berkembang biak apabila terjadi kontak dekat dengan penderita. Isolasi tidak dapat dilakukan sebab kecil kemungkinan untuk menghentikan wabah ini terlebih kurangnya kamar mandi atau toilet bersih.

Baca Juga: Israel Bombardir Serangan Udara ke Rafah Hingga Berjatuhan Korban Jiwa

Apakah menyerang Rafah membantu Israel mencapai sesuatu?

Hal ini tidak mungkin terjadi karena klaim Israel mengenai "pembongkaran batalion teroris" mengacu pada faksi bersenjata Palestina, tampak tidak bertahan lama dibandingkan dengan klaim pusat komando bawah tanah.

Mereka menyatakan faksi-faksi yang berperang di Palestina "dinetralkan" di Gaza Utara, namun kemudian mengakui bahwa hal tersebut tidak terjadi.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mendapat tekanan -termasuk dari Inggris dan Amerika Serikat untuk membatalkan serangan darat- namun ia menegaskan bahwa ini adalah operasi untuk "membubarkan Hamas".

AS melontarkan kritik paling tajam pada masa perang terhadap Tel Aviv dengan mengatakan Israel harus "mengutamakan warga sipil," namun tidak mengancam akan memotong bantuan atau dukungan. Bahkan Uni Eropa dan Inggris juga mengikuti jejak AS.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
Reporter
Iwan Gunawan
W
Editor
Wahyu SK