Ramai Boikot Produk Israel Demi Bela Palestina, Efektifkah?

AKURAT.CO Serangan Israel ke Palestina yang terus membabi buta membuat jutaan warga di seluruh penjuru dunia menaruh simpati pada Palestina.
Berbagai dukungan pun ditujukan untuk Palestina, salah satunya melalui gerakan boikot produk Israel.
Boikot produk Israel sendiri sebenarnya bukan hal baru, melainkan telah digaungkan sejak Juli 2005 oleh organisasi masyarakat sipil Palestina. Gerakan boikot produk Israel ini dikenal dengan nama Boycott, Divestment and Sanctions (BDS).
Gerakan boikot produk Israel kini kembali ramai digaungkan, menyusul tindakan Israel yang terus membombardir Gaza hingga menewaskan lebih dari 7.000 warga Gaza. Namun apakah gerakan boikot produk Israel ini berpengaruh signifikan terhadap Israel?
Pemerintah Israel dan AS yang merupakan sekutu setia mulanya menanggapi gerakan BDS dengan santai dan menganggapnya sebagai angin lalu saja. Israel dan AS tak melihat gerakan itu sebagai ancaman serius.
Baca Juga: Etika Perang Dalam Islam, Beri Catatan Menohok Untuk Zionis Israel
Namun, ketika Israel dan AS menunjukkan rasa ketidakpeduliannya, perlahan namun pasti, gerakan BDS berhasil mempropaganda Israel dan sekutunya itu.
Menurut Ellen Cannon dalam ‘The BDS and Anti-BDS Campaigns’ (Jewish Political Studies Review, 2019), BDS berhasil menjadi alat perlawanan terbaik yang mampu menjelek-jelekkan, mendelegitimasi, dan mencela Israel serta AS.
"Gerakan BDS telah berhasil menembus perbincangan politik global dan sukses menggambar Israel dan para pendukungnya sebagai negara yang layak mendapat delegitimasi dan isolasi di panggung dunia. Meskipun itu semua tak mengakibatkan pembentukan Palestina atau perbaikan nyata terhadap warga sipil," tulis Ellen Cannon.
Gerakan BDS sendiri kini telah mendapat perhatian khusus dunia internasional. Banyak gerakan BDS lokal di beberapa negara, termasuk Indonesia, yang terhubung dengan BDS pusat di Palestina.
Misalnya di Kuwait, pemerintah resmi memboikot 50 produk yang berkaitan dengan pendudukan Israel di Palestina. Juga pemerintah Chile yang membekukan kerjasama dagang dengan Israel.
Kemudian di Australia yang pernah memberi tempat khusus bagi gerakan BDS dan gerakan pro-Palestina lainnya untuk tampil di acara televisi melalui wawancara eksklusif.
Tayangan ini kemudian berhasil merebut atensi masyarakat hingga membuat Israel terpojok.
Selain itu, menurut laporan Al Jazeera, gerakan BDS dapat berpotensi menghasilkan kerugian hingga USD11,5 miliar atau setara Rp180,35 triliun per tahun bagi Israel.
Analis politik Dov Waxman bahkan menyebut gerakan BDS mulai membuat Israel merasakan adanya ancaman nyata yang harus diperhitungkan.
"BDS dilihat sebagai ancaman nyata bagi legitimasi dan pendirian Israel di tingkat global. Jika ini dibiarkan, maka akan menghancurkan Israel," kata Dov, dikutip dari Al Jazeera.
Baca Juga: Konflik Israel-Palestina, Sesama Muslim, Lakukan 4 Hal Ini Untuk Membantu Gaza
Menanggapi gerakan BDS yang kian berpengaruh pada eksistensi Israel, menurut laporan Al Jazeera pada 2018, pemerintah Israel pun menjalankan misi prioritas diplomatik untuk menanggulangi BDS.
Bahkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah bertindak untuk melarang kelompok-kelompok yang mendukung gerakan BDS.
Meski demikian, Israel dan sekutunya masih enggan mengakui dampak merugikan BDS bagi eksistensi Israel dan sekutunya.
Menurut Brookings Institution di Washington DC, gerakan BDS tidak mempengaruhi perekonomian Israel secara drastis. Hal itu dikarenakan sekitar 40 persen ekspor Israel adalah barang intermediet atau produk tersembunyi yang digunakan dalam proses produksi barang di tempat lain, seperti semikonduktor.
Namun, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa ekspor barang-barang intermediet Israel mengalami penurunan tajam dari 2014 hingga 2016 sehingga menimbulkan kerugian sekitar USD6 miliar atau setara Rp94,25 triliun. (Adinda Shafa Afriasti)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







