Akurat

Calon Pengganti Paus Fransiskus Terseret Tuduhan Pelecehan Seksual

Bani Maryanto | 17 Agustus 2022, 12:15 WIB
Calon Pengganti Paus Fransiskus Terseret Tuduhan Pelecehan Seksual

AKURAT.CO Tuduhan pelecehan seksual yang diajukan di Kanada, telah menyeret seorang kardinal Vatikan terkemuka. Kardinal tersebut, sementara diketahui, telah dianggap sebagai calon penerus Paus Fransiskus. Sebagaimana diwartakan CBC News, Marc Ouellet, mantan uskup agung provinsi Quebec, telah dituduh melakukan pelecehan seksual oleh seorang wanita yang hanya dikenal sebagai 'F'.

Tuduhan yang menjerat Ouellet itu muncul dalam daftar yang dipublikasikan sebagai bagian gugatan class action baru terhadap keuskupan agung Quebec.

Kardinal Ouellet, yang menjadi uskup agung Quebec ketika Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi berlangsung, termasuk di antara sekitar 88 anggota klerus yang menghadapi tuduhan penyerangan seksual. Ini pertama kalinya nama Ouellet muncul dalam proses hukum.

Gugatan perdata tersebut mewakili lebih dari 100 korban yang diduga diserang secara seksual oleh para imam dan staf lain yang bekerja untuk keuskupan agung sejak 1940.

Menurut gugatan itu, sebagian besar serangan terjadi pada rentang waktu antara tahun 1950-an sampai 1960-an, dengan korban kebanyakan di bawah umur.

F pun menjadi salah satu dari ratusan korban tersebut. Dalam dokumen itu, F menjalani masa magang sebagai agen pastoral dari 2008 hingga 2010. Pada masa serangan terjadi, Quellet dituding telah melakukan pelecehan, termasuk perilaku mencium.

"Dia meraih saya dan kemudian ... tangannya di punggung saya. Kedua tangannya turun cukup rendah," ucap F, yang membagikan versinya tentang apa yang terjadi pada program investigasi Radio-Kanada Enquete Radio-Canada musim semi lalu.

"Itu cukup mengganggu. Katakanlah untuk seseorang yang merupakan atasan saya, yang adalah seorang uskup agung Quebec."

Selama pertemuan tersebut, kardinal itu diduga mengatakan kepada F bahwa ini adalah kedua kalinya mereka bertemu minggu itu. Menurut F, saat bertemu kembali itu, Quellet mungkin akan mencium pipinya lagi.

"Itu membuat saya sangat tidak nyaman, apalagi kata 'mengobati' dirinya sendiri. Seolah-olah saya adalah suguhannya," ujarnya.

Sementara pada kesempatan-keempatan lain, Quellet dituduh melakukan perilaku lain seperti memeluk tubuh F, memijat bahunya atau membelai punggungnya dengan 'gairah'.

"Saya merasa dikejar-kejar. Itu (perilaku Quellet) menjadi semakin invasif, semakin intens sampai-sampai saya berhenti menghadiri acara. Saya mencoba menghindari kehadirannya sebanyak mungkin," kata pengadu tersebut.

Ouellet sejauh ini adalah orang yang paling menonjol di antara para terduga pelaku yang terdaftar dalam class action. Ia pun menjadi orang dengan posisi tertinggi di Gereja Katolik. Sejauh ini, Ouellet belum menghadapi tuduhan kriminal.

Dalam email ke Radio-Canada, keuskupan agung Quebec mengatakan bahwa mereka mengetahui tuduhan terhadap Ouellet. Namun, hingga kini, keuskupan masih menolak untuk mengeluarkan komentar lebih lanjut.

Pada saat dugaan penyerangan, Ouellet adalah uskup agung dan kepala keuskupan agung. Dia memiliki keputusan akhir tentang siapa yang dipekerjakan sebagai agen pastoral, menurut Alain Arseneault, pengacara yang mewakili para penggugat dalam gugatan tersebut.

"Saat itu Anda memiliki seorang wanita muda berusia pertengahan 20-an versus seorang pria kuat dalam posisi otoritas, yang dikenal di seluruh dunia pada saat itu, yang mungkin berusia 60 tahun, Seperti kebanyakan korban, dia membeku," kata Arsenault.

Ketika F berbicara tentang kegelisahannya dengan orang-orang di sekitarnya, dia diberi tahu bahwa Quellet adalah pria yang hangat. F juga diberi tahu bahwa dia bukan satu-satunya wanita yang menghadapi 'masalah seperti itu dengan Quellet'.

Seorang imam yang aktif di keuskupan agung pada saat itu mengatakan kepada Enquete bahwa ada desas-desus yang beredar tentang perilaku Quellet.

Imam itu, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, adalah salah satu anggota klerus yang diberi tahu F tentang apa yang telah menimpanya. Ia pun percaya dengan berbagai tuduhan dari korban untuk Quellet.

"Kami tidak bisa melupakannya. Dia tiba seperti seorang sheriff yang datang untuk menertibkan keuskupan agung Quebec, yang dikirim dari Roma. Karenanya saat kami menemukan bahwa dia memiliki perilaku yang tidak pantas dengan wanita-wanita itu, kami menganggapnya aneh," kata sumber imam tersebut.

Tuduhan terhadap Ouellet tampak kurang serius secara fisik dibandingkan kasus lain yang dikutip dalam class action, dampak pada korban tetap sama pentingnya, kata Arsenault.

"Sulit untuk membayangkan bahwa seseorang dengan kecerdasannya, dalam posisinya, tidak menyadari apa yang dia lakukan dan konsekuensinya," katanya.

Pada 2010, Ouellet dipanggil kembali ke Roma dan dipromosikan sebagai prefek untuk Dikasteri Uskup, departemen Vatikan yang bertanggung jawab untuk memilih uskup baru.

F mengatakan bahwa begitu Ouellet pergi dan digantikan oleh Gerald Cyprien Lacroix, uskup agung Quebec saat ini, segalanya berubah secara signifikan.

"Dia lebih menyesuaikan diri. Kalau ada kontak fisik, itu (hanyalah) jabat tangan sederhana," kata F menggambarkan tentang perilaku Lacroix, yang jauh berbeda dari Quellet.

Keluhan Telah Diajukan ke Vatikan

 Kardinal Marc Ouellet di Roma pada 2019, menjelang acara Paus, 'Pertemuan tentang Perlindungan Anak di Bawah Umur di Gereja'-Stephanie Jenzer/CBC

Menurut gugatan, F memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi padanya dengan komite yang bertugas meninjau tuduhan seksual di dalam keuskupan agung Quebec.  Hal itu dilakukannya 10 tahun kemudian, setelah ia juga mengalami pertemuan yang kurang mengenakkan dengan imam lain.

"Saya tidak tahu apakah saya adalah korban, tapi ini adalah cerita saya."

"Saya merasa perlu untuk memberi tahu (mereka) tentang semua yang telah saya lalui, hal-hal tidak pantas yang terjadi sejak saya mulai menjadi agen pastoral," kata F.

Usai bercerita itu, para anggota komite mengatakan kepada F bahwa kedua kasus yang dia alami merupakan kasus pelanggaran seksual. Pendapat ini kemudian yang diduga telah mendorong F untuk mengajukan pengaduan. 

Namun, saat juga, komite baru mengetahui bahwa salah satu imam yang terlibat adalah Kardinal Ouellet. Sebelumnya, F menyebutkan nama kardinal tersebut.

Pengaduan terhadap Ouellet diajukan langsung ke Vatikan pada 2021, yang kemudian disampaikan ke imam Jacques Servais. Ia adalah seorang teolog yang ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut.

Sebuah pertemuan virtual telah diatur antara korban dan Vatikan. Namun, satu setengah tahun kemudian, F mengatakan dia masih belum diberi tahu tentang kesimpulan penyelidikan. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti