Akurat Logo

5 Kisah Tragis Orang yang Suka Menimbun Barang, Tewas di Rumah dalam Tumpukan Sampah

Bani Maryanto | 6 Juli 2022, 20:05 WIB
5 Kisah Tragis Orang yang Suka Menimbun Barang, Tewas di Rumah dalam Tumpukan Sampah

AKURAT.CO, 'Hoarding disorder' merupakan perilaku gemar menimbun barang-barang yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan lagi. Juga dianggap sebagai masalah gangguan mental, penderita hoarding disorder umumnya enggan menyingkirkan benda-benda tersebut, yang biasanya ditumpuk sembarangan. 

Para 'hoarder' cenderung akan merasa cemas, tak aman jika benda-benda bekas yang menumpuk di rumahnya, dibuang atau diberikan ke orang lain. Masalah yang kemudian muncul adalah barang-barang yang ditumpuk menjadi mempersempit ruang gerak, hingga memicu lingkungan tak sehat.

Dalam beberapa kasus, penderitanya benar-benar 'tertawan' oleh barang-barang mereka, hingga meninggal dalam tumpukan sampah, tanpa diketahui orang. Sebut saja, kisah terkenal Collyer Bersaudara, yang meninggal di tengah 140 ton lebih tumpukan barang yang dikumpulkan selama beberapa dekade. Selain Collyer Bersaudara, beberapa orang ini juga bernasib hampir sama, yang berjuang dengan masalah mental hinggga saat-saat terakhir akhirnya ditelan oleh timbunan barang.

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO pada Rabu (6/7) menghimpun 5 kisah penderita hoarding disorder yang tewas dengan tumpukan sampah di rumahnya sendiri.

1. Kisah Sally Honeycheck, yang jenazahnya sampai dimakan anjing sendiri

 ERIC SEALS, DETROIT FREE PRESS

Tidak ada yang tahu jika Sally Honeycheck, adalah seorang penimbun berat, sampai semuanya sudah terlambat. Wanita 80 tahun dari Detroit, AS, itu terlanjur ditemukan sudah dalam kondisi tak bernyawa, dalam tumpukan barang, dengan jasad digerogoti tikus dan anjingnya sendiri. 

Saat ditemukan pada akhir 2018, mayat Sally sudah membengkak, tergeletak di atas kursi. Tubuhnya saat itu, sudah tidak memiliki mata, hidung, atau mulut. Hanya rambut di tengkorak, dan tulang mencuat dari balik sweter merah dan celana kotak-kotak. Di Hari Thanksgiving itu, jenazah Sally dikelilingi oleh kotoran manusia, kotoran tikus, sampah, dan tumpukan barang yang kacau balau.

 ELAINE TWOREK

Kisah Sally berawal ketika ia tinggal dengan saudaranya, Lorraine, di rumah yang dibeli orang tuanya pada tahun 1951. Sally dan Lorraine pun tampak sangat normal, dengan halaman yang dirawat, dan selalu terlihat rapi jika keluar rumah. 

Namun, di balik itu, keduanya ternyata telah menghabiskan tujuh dekade terakhir mengumpulkan berbagai barang, seperti pakaian, perhiasan, make-up, hingga memorabilia bisbol. Karena perilaku menimbunan itu, rumah tersebut menjadi lembab, dengan jamur tumbuh dari dinding yang pudar, dan lantai yang meleyot.

Dalam gambar-gambar yang beredar, bagian dalam rumah Sally benar-benar berantakan, kotor, dan penuh dengan barang-barang yang berserakan. Sementara, di luar, rumah tersebut terlihat bersih dengan cat yang tampak masih bagus. Dalam sebuah adegan, sepupunya Sally, Linda Kajma, sampai kelelahan, menghirup udara untuk bernapas saat membersihkan rumah tersebut.

Linda sendiri menjadi orang yang pertama menemukan sepupunya tersebut, yang dikenal sebagai umat Katolik yang taat.

Nahas, anjing Rottweiler yang diyakini ikut menggegoti jenazah Sally, juga ditemukan mati dengan kondisi menyedihkan. Sementara, Lorraine, berada di Detroit Receivibg Hospital, menggunakan ventilator karena stroke pada 10 November 2018. Menurut Detroit Free Press, Sally kemungkinan meninggal sekitar 12 November 2018. Perkiraan  itu ditarik dari hari sejak ia terakhir memeriksakan diri dari rumah sakit dan 1 Desember, hari di mana jasadnya ditemukan. Setidaknya selama 19 hari, tidak ada yang melaporkan melihat atau mendengar kabar darinya.

2. Kisah Evelyn Sakash, pemenang Emmy yang ditemukan tewas dalam timbunan barang

 Evelyn Sakash-GoFundMe

Evelyn Sakash adalah perancang set dan produksi untuk beberapa acara televisi terkenal seperti Sesame Street, Law and Order: Criminal Intent, Orange Is the New Black. Tidak hanya itu, ia juga terlibat dalam sejumlah film layar lebar, seperti Mermaids yang dirilis tahun 1990, hingga Still Alice, tahun 2014,

Sakash bahkan sempat memenangkan Daytime Emmy Award pada tahun 2003, untuk acara anak-anak Between the Lions. Selain berbakat dan brilian, Sakash juga dikenal teman-temannya sebagai sosok yang murah hati, dan selalu membantu mereka yang membutuhkan. 

Namun, siapa sangka, Sakash ternyata juga seorang 'penimbun berat'. Halaman depannya dipenuhi dengan perabotan besar, tong sampah, hingga bahan bangunan. Sementara, bagian dalam rumah menyimpan berbagai tumpukan barang seperti kardus, pakaian, dan barang-barang lain yang tersebar tak beraturan. Beberapa timbunan bahkan bisa mencapai tinggi hingga 1,5 meter.

 Carla Roman

Perilaku 'hoarding' Sakash itu pun terkuak setelah ia dinyatakan hilang selama 8 bulan, dan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa pada Maret 2021 lalu. Penemuan itu berawal ketika kakak Sakash berinisiatif menyewa pekerja untuk membersihkan apartemennya di New York, yang dikira ditinggal sejak kehilangannya pada September 2020.

Nahas, petugas kebersihan itu justru dibuat syok karena mendapati Sakash sudah seperti mumi, tergeletak di bawah tumpukan barang-barang.

Sakash meninggal karena penyebab alami, menyerah pada penyakit kardiovaskular arteriosklerotik, menurut kantor Pemeriksa Medis kota. Penyelidik juga mengonfirmasi bahwa Stewas meninggal dalam longsoran sampah dan puing-puing lain di dalam dapurnya yang kotor.

3. Kisah Skip Bynum dari Dallas

 The Dallas Morning News

Tahun 2014, Skip Bynum membuat cemas teman-temannya karena telah menghilang selama hampir dua minggu. Menurut kesaksian, Bynum tercatat tidak bisa dihubungi sejak 15 Maret tahun itu. Kawan-kawannya yang khawatir kemudian menghubungi polisi untuk membantu menemukan pria 67 tahun itu.

Bynum, selama beberapa tahun, tinggal bersama dengan ibunya. Namun, ia kemudian tinggal sendiri setelah ibunya wafat. Pria Dallas itu juga tidak memiliki saudara kandung lainnya. 

Karenanya, polisi bergegas ke rumah Bynum, untuk mencari keberadaannya. Namun, belum sampai masuk rumah, para petugas dibuat kebingungan, lantaran mereka dihadapkan pada tumpukan sampah yang begitu besar. Bahkan, saking besarnya, para petugas harus membuat lubang di atap dan merangkak melalui loteng untuk mendapatkan akses ke dalam rumah Bynum. 

Anjing pelacak dan tim pencari kemudian diterjunkan demi membantu penyelamatan. Awalnya, satu-satunya tubuh yang mereka temukan adalah bangkai rakun. Karena gunungan sampah yang menumpuk, pencarian akhirnya dilanjutkan hingga dua hari lagi. 

Petugas dengan pakaian pelindung hingga masker, mulai mengeluarkan sejumlah besar sampah, puing-puing, hingga kendi berisi air seni dan kotoran. Setelah upaya itulah, Bynum ditemukan meski dalam kondisi sudah tak bernyawa. Meski begitu, petugas pemadam kebakaran berhasil membuat satu penyelamatan sukses; mereka menemukan anjing pria tua itu, Buddy. Buddy ditemukan dalam kondisi hidup di dalam rumah majikannya tersebut, dan akhirya diberikan kepada teman Bynum.

Kawan-kawan Bynum kemudian mengatakan bahwa mereka tidak tahu bahwa korban selama ini ternyata tinggal dengan kondisi rumah penuh dengan timbunan barang.

4. Kisah Rita Corpin

 KTLA

Rita Corpin adalah seorang pensiunan guru sejarah yang telah mengabdikan diri selama 40 tahun. Namun, di balik profesinya yang kerap berinteraksi itu, Corpin digambarkan sebagai 'sosok yang eksentrik dan cenderung kesepian'. Perubahan sikapnya itu dilaporkan mulai muncul terutama setelah kekasihnya meninggal karena serangan jantung.

Sejak itu, Corpin menghabiskan sebagian waktunya untuk mengumpulkan barang dan menjadi hoarder. Kebiasaan itu sebenarnya sempat memicu konflik di lingkungan tempat tinggal Corpin di kota Santa Ana, California. Dilaporkan para tetangga kerap mengeluh dengan kondisi rumah Corpin yang berantakan. Ditambah, dua properti lain milik Corpin juga berada dalam kekacauan.

 Daily News

Sayang, Corpin tidak bisa langsung berubah, dan masih mempertahankan perilaku hoarding. Bahkan, meski ia telah menerima pemberitahuan dan denda oleh pemerintah kota. Setelah itu, Corpin hanya melakukan usaha minimal untuk mematuhi perintah, dan menjaga agar otoritas tidak bisa masuk ke propertinya.

Hingga pada Juni 2014, Corpin ditemukan tewas oleh seorang tukang kebun. Wanita 72 tahun itu duduk di kursi di teras depan rumahnya, dikelilingi oleh sampah dan kucing. Jumlah puing-puing di sekitar Corpin begitu banyak hingga petugas membutuhkan waktu lebih dari tiga jam untuk membersihkan area guna mengeluarkan jasadnya.

5. Bruce Roberts, anak jutawan yang jadi hoarder 

 Youtube via AllThat'sInteresting

Bruce Andrew Roberts dikenal sebagai 'pertapa' kaya raya, yang tinggal di lingkungan di Greenwich, Sydney, Australia. Ia mewarisi rumah mendiang orang tuanya pada usia yang masih sangat muda, bersama dengan harta senilai USD 1 juta (Rp15 miliar).

Selama 40 hingga 50 tahun terakhir, Roberts hanya memiliki sedikit kontak dengan orang lain di dunia di luar rumahnya. Ia pun digambarkan sebagai penyendiri, dan saban hari, memakai mantel cokelat saat mondar-mandir di jalan. Selain sosoknya yang penyendiri, Roberts juga dikenal memiliki rumah yang menyeramkan, dengan bangunan dikelilingi oleh kawat berduri. Jendela-jendela bahkan sampai dipaku dan ditutup. Sementara kaleng-kaleng berserakan di halaman yang tidak terawat.

Di samping itu, Roberts juga seorang penimbun kronis, dan rumahnya penuh dengan kardus, peralatan rusak, koran, dan sampah. Kebiasaan hoarding Roberts itu pun baru diketahui ketika dia ditemukan meninggal, pada usia 60, pada Juli 2017. Mengerikannya, saat polisi datang, jasad Roberts dalam kondisi sangat mengenaskan. Setengah tubuhnya sudah membusuk, tergeletak di lorong. Sementara setengah tubuh lainnya hangus, membungkuk di atas pemanas.

 Youtube via AllThat'sInteresting

Namun, kengerian tidak berakhir di situ. Setahun kemudian, sebuah perusahaan pembersih datang ke rumah Roberts untuk melakukan upaya pembersihan. Saat itulah, hal mengejutkan lain muncul, di mana petugas  menemukan mayat lain dikelilingi oleh 70 botol pengharum ruangan. 

Mayat kedua itu kemudian diidentifikasi sebagai Shane Snellman, pria 39 tahun yang telah hilang sejak 2002. Diyakini bahwa Snellman berusaha masuk ke rumah Roberts dan ditembak beberapa kali. Roberts pun diyakini menyimpan jasad Snellman di rumahnya selama kurang lebih 15 tahun dan dengan sengaja menggunakan pengharum ruangan dalam jumlah besar untuk menutupi baunya.

Kisah memilukan di atas hanyalah beberapa contoh kasus bagaimana penderita hoarding disorder sampai ditemukan tewas sendirian di rumahnya. Semoga kisah di atas bisa menjadi pelajaran bahwa kesehatan mental sangat penting bagi kehidupan pribadi, maupun bermasyarakat. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti