Akurat Logo

6 Fakta Menarik Eks PM Israel Ariel Sharon, Viral karena Tubuhnya Dikabarkan Membusuk saat Sekarat

Bani Maryanto | 11 Oktober 2021, 21:05 WIB
6 Fakta Menarik Eks PM Israel Ariel Sharon, Viral karena Tubuhnya Dikabarkan Membusuk saat Sekarat

AKURAT.CO  Sosok eks-Perdana Menteri (PM) Israel, Ariel Sharon kembali viral di media sosial. Sharon yang sudah meninggal pada tahun 2014, ramai diperbincangan di grup WhatsApp karena kisah tragisnya menjelang meninggal.

Diberitakan, Sharon mengalami stroke dan terkena koma hingga delapan tahun lamanya. Saat sekarat itu, tubuh Sharon dikabarkan membusuk, menurut sejumlah media Indonesia. 

Tak jarang ada yang kemudian menyebut Sharon 'diazab' karena telah melakukan pembantaian terhadap penduduk Palestina. Dalam edaran Facebook hingga Twitter, dinarasikan Sharon juga punya 'prestasi terbaik', yakni membunuh 3 ribu muslim Palestina  di kamp pengungsian tahun 1982. 

Lalu, siapa sebenarnya sosok Ariel Sharon, dan bagaimana sepak terjangnya selama memimpin Israel? Apakah benar tubuhnya membusuk saat koma?

Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO pada Senin (11/10) menghimpun 6 fakta menarik Eks PM Israel Ariel Sharon.

1.  Aktif dalam organisasi pertahanan Israel sejak usia dini 

 Wikipedia

Pada 1922, orang tua Sharon mulai bermigrasi ke Mandat Britania atas Palestina, sebuah wilayah di Timur Tengah yang berdiri dari tahun 1920-1948, dan kini terdiri atas Yordania, Israel, dan wilayah-wilayah yang diperintah oleh Otoritas Palestina. 

Saat itu, orang tua Sharon menjadi salah satu migran Yahudi yang meninggalkan Republik Georgia, Uni Soviet ke Mandat untuk Palestina. Mereka terusir di tengah meningkatnya penganiayaan oleh pemerintah Komunis Rusia terhadap orang-orang Yahudi di wilayah tersebut.

Pada 26 Februari 1928, Sharon lahir dengan nama Ariel Scheinerman di sebuah desa pertanian di timur laut Tel Aviv,  Kfar Malal. Nama Sharon diambil dari wilayah tempatnya dibesarkan, yakni Dataran Sharon.

Sharon yang fasih berbicara bahasa Ibrani dan Rusia, sudah belajar tentang pertahanan diri Yahudi sejak usia dini. Saat masih berusia 10 tahun, ia aktif di HaNoar HaOved VeHaLomed, sebuah gerakan pemuda Israel yang berafiliasi dengan gerakan Zionis Buruh. Kemudian, saat menginjak usia remaja, ia mulai mengambil bagian dalam patroli malam bersenjata di moshav (pemukiman)-nya. 

Hingga pada tahun 1942, saat berusia 14 tahun, Sharon yang akrab dipanggil Arik bergabung dengan batalion pemuda paramiliter Gadna. Pada tahun 1945, Sharon lulus dari SMA di Tel Aviv dan mulai bergabung dengan Haganah untuk memperjuangkan kemerdekaan Israel dari kekuasaan Inggris.

Sementara, diketahui, Haganah adalah pasukan paramiliter bawah tanah dari populasi Yahudi di Mandat atas Palestina. Ini adalah paramiliter utama Zionis yang jadi pendahulu untuk pasukan Pertahanan Israel (IDF). 

Saat itu, Haganah memiliki tujuan awal untuk mempertahankan pemukiman Yahudi dari serangan Arab, seperti kerusuhan 1920, 1921, 1929, dan selama pemberontakan Arab 1936-1939 di Palestina.

2. Aktif di militer

 Kementerian Pertahanan Israel

Karier militer Sharon mulai menanjak pesat sejak bergabung dengan pekerjaan rahasia Haganah. Pada 1947, Sharon yang seorang sekuler, dipercaya menjadi instruktur di Haganah dan mengajar satuan polisi yang ditugaskan untuk melindungi Kibbutzim di sekitar Palestina.

Pada musim gugur di tahun yang sama, unit Haganah pimpinan Sharon terlibat dalam pertempuran serius yang dimulai oleh Pertempuran Yerusalem. Tanpa tenaga untuk menjaga jalanan, unit Sharon melakukan serangan tabrak lari ofensif terhadap pasukan Arab di sekitar Kfar Malal. 

Meski hanya beranggotakan 30 orang, Sharon dan unitnya mampu menggempur desa-desa Arab, jembatan dan pangkalan, serta menyergap lalu lintas antara desa dan pangkalan Arab.

Atas perannya dalam serangan malam terhadap pasukan Irak di Bir Adas, Sharon pun diangkat menjadi komandan peleton di Brigade Alexandroni selama Perang Kemerdekaan Israel 1948.

Setelah Deklarasi Kemerdekaan Israel dan permulaan Perang Kemerdekaan, peletonnya menangkis kemajuan Irak di Kalkiya. Sharon yang dikenal sangat keras dan agresif, dengan cepat naik pangkat selama perang.

Sebagai seorang prajurit, Sharon pastinya menghadapi ancaman yang merenggut nyawa. Dalam upaya gagal Yahudi di Pertempuran Latrun Pertama (1948) misalnya, Sharon tertembak di selangkangan, perut, dan kaki oleh Legiun Arab Yordania. Meski selamat, Sharon sempat menulis kecewaannya terhadap pertempuran itu. Ia menyebutnya sebagi 'perang mengerikan' dan menyebut brigadenya menderita 139 kematian.

Setelah pulih dari luka yang diterima di Latrun, Sharon kembali memimpin unit patroli dan pada September 1949, ia dipromosikan menjadi komandan kompi (unit pengintai Brigade Golani) dan pada 1950 menjadi perwira intelijen Komando Pusat. Setelahnya, Sharon masih terlibat dalam banyak perang, di antaranya termasuk Perang Suez, Perang Enam Hari, Perang Atrisi, hingga Perang Yom Kippur.

3. Mendirikan komandan elit Israel yang membasmi gerilyawan Palestina

 AFP

Meski posisinya terus menanjak, tetapi karier militer Sharon juga diwarnai dengan kontroversi. Mengutip NPR, Sharon memiliki peran penting dalam pembentukan komandan elit pertama Israel yang disebut Unit 101. Unit ini melakukan operasi kontraterorisme terhadap serangan Fedayeen Palestina pada 1950-an. 

Fedayeen Palestina sendiri adalah gerilyawan atau militan Palestina berhaluan nasionalis. Sebagian besar orang Palestina menganggap fedayeen sebagai 'pejuang kemerdekaan, sementara Israel mencap mereka sebagai teroris. Fedayeen Palestina bermula dari para pengungsi yang melarikan diri atau diusir dari desa mereka akibat Perang Arab-Israel 1948, dan dalam aksinya mereka gencar melancarkan serangan lintas perbatasan dari Suriah, Mesir, dan Yordania ke Israel. Jalur Gaza ikut menjadi pusat aktivitas fedayeen Palestina.

Imbasnya, Israel melancarkan serangan balasan yang lantas memicu serangan-serangan lain dari fedayeen, dan Sharon yang berpangkat mayor, saat itu disebut sembrono, oleh pasukannya sendiri hingga warga sipil Palestina. 

Pada musim gugur tahun 1953, Unit 101 dikecam karena bertanggung jawab atas pembantaian desa Qibya di Tepi Barat. Saat itu, Qibya dijadikan oleh sekelompok gerilyawan Palestina sebagai titik pementasan untuk serangan Fedayeen di Yehud yang menewaskan seorang wanita Yahudi dan dua anaknya di Israel. Karena serangan itulah, Unit 101 melakukan pembalasan ke desa tersebut.

Laporan kemudian menunjukkan bahwa pasukan Sharon telah menyerang 45 rumah dan sebuah sekolah di desa tersebut. Dalam insiden itu, 65-70 warga sipil Palestina, setengah dari mereka wanita dan anak-anak, tewas. 

Menghadapi kecaman internasional atas serangan itu, Ben-Gurion membantah bahwa militer Israel terlibat. Dalam memoarnya, Sharon menulis bahwa unit tersebut telah memeriksa semua rumah sebelum meledakkan bahan peledak dan dia mengira rumah-rumah itu kosong. Meskipun dia mengakui hasilnya tragis, Sharon tetap membela serangan itu.

"Sekarang orang bisa merasakan bahwa geng teroris akan berpikir dua kali sebelum menyerang, sekarang mereka tahu pasti mereka akan dipukul balik," tulisnya. 

4. Terjun ke dunia politik dan mulai memperluas pemukiman Yahudi di Tepi Barat dan Gaza

 REUTERS/Herman Chanania/Government Press Office

Setelah bergabung dengan IDF selama lebih dari 25 tahun dan terlibat dalam berbagai perang, Sharon pensiun dan mulai terjun ke dunia politik pada tahun 1973. Sharon kemudian mulai bergabung dengan Partai Liberal dan berperan penting dalam mendirikan Likud, partai yang berhasil mengantarkan Menachem Begin hingga Benjamin Netanyahu sebagai PM. 

Sharon lalu diangkat menjadi menteri pemerintah, dan saat itulah ia dikaitkan dengan masalah yang akan melekat padanya selama sisa hidupnya, yakni perluasan permukiman Yahudi di wilayah yang direbut selama Perang Enam Hari 1967. Oleh Al Monitor, Sharon pun dicap sebagai 'bapak pendiri pemukiman Israel'.

"Dia menjadikan pekerjaan itu sebagai figur dominan dalam mempromosikan permukiman Israel di Tepi Barat dan Gaza.  Sharon tanpa henti mengejar skemanya sendiri untuk membangun jaringan permukiman di Tepi Barat, untuk membuatnya mustahil mengembalikan wilayah itu kepada kepemimpinan Arab mana pun," kata Samuel Lewis, mantan duta besar AS untuk Israel.

Sharon menegaskan niatnya beberapa tahun kemudian ketika dia mengatakan tentang kehadiran Israel di Tepi Barat, "Jika menyangkut keamanan, kami akan tinggal di sana selamanya," katanya.

5. Dijuluki 'Jagal Beirut' 

 AFP

Setelah masuk di Knesset (parlemen Israel) dan menjabat menteri pertanian, Sharon berhasil menjadi Menteri Pertahanan tahun 1981. Namun, menutut NPR, sejak jadi menteri pertahanan itu, Sharon tampaknya sedang merencanakan perang Israel berikutnya. Orang-orang Palestina di Lebanon, di utara Israel, mengancam wilayah Israel, dan Sharon ingin mengakhirinya.

Pada 1982, Sharon melancarkan invasi ke Lebanon yang disebut Operasi Perdamaian untuk Galilea. Invasi ini kemudian dikenal sebagai Perang Lebanon 1982, dan meletus menyusul kasus penembakan duta besar Israel di London, Shlomo Argov. Meskipun percobaan pembunuhan itu sebenarnya dilakukan oleh Organisasi Abu Nidal, mungkin dengan keterlibatan Suriah atau Irak, pemerintah Israel membenarkan invasi dengan mengutip 270 serangan teroris oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) di Israel, wilayah pendudukan, dan perbatasan Yordania dan Lebanon

Saat itu, Sharon juga mengklaim operasi sebagai cara untuk mengamankan perbatasan utara Israel, tetapi Lewis mengatakan Sharon tidak jujur ​​tentang tujuan utamanya.

Sharon lalu melontarkan maksud bahwa operasi adalah demi membasmi PLO dari dalam Lebanon. Namun, invasi ke Lebanon itu akhirnya justru menjadi salah satu insiden paling berdarah dalam sejarah kontemporer Timur Tengah. Perang Lebanon pun pada ujungnya dikenang dunia karena pembantaian di kamp pengungsi Sabra dan Shatila di Beirut. Dalam pembantaian tiga hari antara 16 dan 18 September itu, sekitar 460 hingga 3 ribu warga sipil  meregang nyawa. Sebagian besar dari mereka warga Palestina dan Syiah Lebanon. Mereka dibunuh oleh militan Falangis—milisi Kristen Maronit Lebanon yang jadi sekutu Israel. Dilaporkan dalam insiden itu, pasukan Falangis menyerang kamp dan langsung membantai ratusan warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, sementara petugas Israel melihat.

Jaksa kepala tentara Lebanon menyelidiki pembunuhan dan menghitung 460 tewas, intelijen Israel memperkirakan 700-800 tewas, sedangkan Bulan Sabit Merah Palestina mengklaim 2 ribu tewas dan 1.200 sertifikat kematian dikeluarkan.

Shatila sendiri sebelumnya menjadi salah satu dari tiga kamp pelatihan utama PLO untuk teroris asing dan kamp pelatihan utama untuk teroris Eropa. Israel menyatakan bahwa 2-3 ribu teroris tetap berada di kamp, ​​tetapi tidak mau mempertaruhkan nyawa lebih banyak orang. 

Pembunuhan itu terjadi setelah bertahun-tahun perang saudara sektarian di Lebanon yang menewaskan 95 ribu orang. Saat itu, orang-orang Kristen Maronit, yang dipimpin oleh partai Falangis dan milisinya, mula-mula bersekutu dengan Suriah, dan kemudian dengan Israel, yang mendukung mereka dengan senjata dan latihan untuk memerangi fraksi PLO.

Sharon menyatakan dirinya tidak bersalah, tetapi sebuah komisi penyelidikan di Israel kemudian menemukan dia bertanggung jawab secara tidak langsung, ini terutama karena pasukannya tidak menghentikan kelompok milisi Kristen Phalanges dan imbasnya, ia dilarang memegang jabatan sebagai menteri pertahanan lagi. 

Dalam sebuah wawancara tahun 1983 dengan NPR, Sharon menyatakan penyesalannya tentang pembantaian itu. Namun, nama buruknya dalam invansi Lebanon sudah terlanjur 'melegenda' hingga ia dijuluki sebagai 'Jagal Beirut'.

6. Meninggal setelah koma delapan tahun

 SCIENCE PHOTO LIBRARY

Meski dilarang jadi menteri pertahanan, Sharon tetap bisa memegang jabatan menteri lain. Setidaknya, ia sempat menjadi menteri perdagangan dan perindustrian; menteri konstruksi dan perumahan; menteri infrastruktur nasional; hingga menteri luar negeri pada 1998. 

Setelah terpilih sebagai ketua partai Likud, Sharon memenangkan pemilihan khusus dan pada tahun 2001, ia resmi menjabat sebagai PM Israel ke-11. Kemudian pada tahun 2003, Sharon kembali mengukuhkan posisinya sebagai PM dan mengalahkan Netanyahu yang saat itu menjadi menteri luar negeri. 

Namun, saat  masih  menjabat sebagai PM, Sharon terserang stroke ringan pada Desember 2005. Sharon memang sudah menderita obesitas sejak tahun 1980-an dan juga diduga menderita tekanan darah tinggi kronis dan kolesterol tinggi. Kisah nafsu makan dan kegemukan Sharon melegenda di Israel. Saat itu, Sharon memiliki tinggi 170 cm dengan berat mencapai hingga 115 kilogram. 

Kemudian, pada 4 Januari 2006, ia dilarikan ke rumah sakit Universitas Hadassah di Yerusalem karena strokenya berkembang menjadi signifikan. 11 Februari 2006, dokter mengangkat sekitar 20 inci usus Sharon setelah kurangnya aliran darah menyebabkan daerah tersebut menjadi gangren atau jaringan mati. Setelahnya, Sharon dalam kondisi kritis dan koma tetapi kondisinya stabil. 

11 April 2006, Kabinet Israel menyatakan Sharon lumpuh secara permanen, secara resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai PM. Pada Oktober 2011, Sharon dilaporkan hanya memiliki  kesadaran  minimal dan hanya mampu menerima beberapa respons terhadap rangsangan eksternal.

Tidak diketahui bagaimana ada kabar bahwa tubuh Sharon 'membusuk'. Sementara, menurut laporan, pada Januari 2013, tes atas Sharon menunjukkan 'aktivitas otak yang signifikan' lantaran dokter menunjukkan foto keluarganya dan meminta dia mendengarkan suara putranya.

Setelah delapan tahun koma, Sharon mengembuskan napas terakhir pada 11 Januari 2014. Salah satu tokoh politik paling kontroversial Israel ini wafat di usia 85 tahun. 

Itulah beberapa fakta soal eks-PM Israel, Ariel Sharon yang kembali viral belakangan ini. Bagaimana menurutmu tentang sosoknya?[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti