4 Kasus Karikatur Nabi Muhammad atas Nama Kebebasan Berekspresi, Banyak yang Berujung Nahas

AKURAT.CO Dalam aturan Islam, Nabi Muhammad dilarang untuk digambar secara visual. Tak ayal, jika ada yang nekat, ini dianggap sebagai penistaan agama.
Di sisi lain, ada saja pihak-pihak yang melakukannya dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi. Sejumlah karikatur Nabi Muhammad pun tercatat pernah diterbitkan, sehingga menyinggung banyak umat Muslim. Bahkan, penerbitan karikatur ini mengundang aksi terorisme yang berujung mengenaskan.
Baca juga: 5 Fakta Sepak Terjang Lars Vilks, Kartunis Swedia yang Gambar Nabi Muhammad dengan Tubuh Anjing
Dihimpun AKURAT.CO dari berbagai sumber, ini 4 kasus karikatur Nabi Muhammad yang mengatasnamakan kebebasan berekspresi.
1. Jyllands-Posten
Kontroversi dimulai setelah surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, menerbitkan 12 karikatur editorial pada 30 September 2005 yang sebagian besar menggambarkan Nabi Muhammad. Menurut mereka, ini adalah upaya untuk berkontribusi pada perdebatan tentang kritik terhadap Islam dan penyensoran diri.
Karikatur ini sontak menyinggung banyak Muslim. Organisasi Muslim Denmark yang keberatan pun mengajukan petisi kepada kedutaan besar negara-negara Islam dan pemerintah Denmark agar bertindak. Mereka juga mengajukan gugatan hukum terhadap Jyllands-Posten. Masalah ini juga menuai perhatian media terkemuka di sejumlah negara mayoritas Muslim, sehingga terjadi aksi protes di seluruh dunia pada akhir Januari hingga awal Februari 2006. Beberapa pecah menjadi kerusuhan, mengakibatkan tewasnya lebih dari 250 orang, serangan terhadap misi diplomatik Denmark, serangan pada gereja dan umat Kristen, dan pemboikotan Denmark.
Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen pun menyebut kontroversi itu sebagai insiden internasional terburuk Denmark sejak Perang Dunia II.
2. Lars Vilks
Seniman Swedia ini menggambar karikatur kepala Nabi Muhammad berbadan anjing yang diterbitkan pada 2007. Akibatnya, banyak umat Muslim tersinggung dan menganggapnya sebagai penistaan agama. Faksi Al Qaeda lantas menjanjikan imbalan USD 100 ribu (Rp1,4 miliar) untuk kepala Vilks pada September 2007. Dua pria Muslim pun ditangkap dan didakwa di Irlandia terkait dugaan rencana pembunuhan terhadapnya.
Sejak itu, ia menerima banyak ancaman pembunuhan dan hidup dikawal polisi terus-menerus. Pada 2013, seorang wanita Amerika Serikat (AS) yang menamai dirinya Jihad Jane divonis 10 tahun penjara karena merencanakan pembunuhan terhadapnya. Pada 2015, pria 75 tahun ini menjadi sasaran utama serangan terorisme di Kopenhagen.
Sosoknya kembali ramai diperbincangkan setelah mengalami kecelakaan mobil pada Minggu (3/10). Saat bepergian bersama 2 petugas polisi, mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk dan terbakar. Menurut laporan media Swedia, nyawanya melayang dalam kecelakaan itu. Kedua polisi yang mengawalnya juga tewas. Sementara itu, sopir truk dilarikan ke rumah sakit.
3. Charlie Hebdo
Surat kabar Prancis ini menerbitkan serangkaian karikatur Nabi Muhammad pada bulan September 2012. Karena masalah ini muncul beberapa hari setelah kedutaan besar AS di Timur Tengah diserang sebagai balasan atas film anti-Islam berjudul 'Innocence of Muslim', pemerintah Prancis lantas meningkatkan keamanannya di kedutaan tertentu dan menutup kedutaan besar, konsulat, pusat budaya, dan sekolah internasional Prancis di sekitar 20 negara Muslim. Polisi antihuru-hara pun mengawal kantor media tersebut untuk melindunginya dari kemungkinan serangan.
Meski dikecam banyak pihak, termasuk Presiden Barack Obama di depan PBB, editor Charlie Hebdo berdalih telah membuat karikatur semua orang dan baru sekarang itu disebut provokasi.
Kontroversi ini lantas memicu 2 pria bersenjata melancarkan serangan terorisme ke kantor Charlie Hebdo di Paris. Mereka menerobos masuk dan memberondong tembakan. Akibatnya 12 staf tewas dalam serangan itu dan 11 lainnya luka-luka. Pelaku diidentifikasi sebagai Said Kouachi dan Cherif Kouachi, dua bersaudara Muslim Prancis keturunan Aljazair.
Namun, Charlie Hebdo kembali menerbitkan ulang karikatur Nabi Muhammad pada 1 September 2020. Serangan teror yang menargetkan mereka lagi-lagi terjadi pada 25 September 2020. Dua orang ditikam di luar bekas kantor media itu, sehingga luka parah. Keduanya merupakan karyawan perusahaan tersebut. Sementara itu pelaku diidentifikasi sebagai Zaheer Hassan Mehmood, seorang pengungsi dari Pakistan yang tiba di Prancis pada 2018. Ia mengakui kalau aksinya untuk balas dendam atas publikasi ulang karikatur Nabi Muhammad, tetapi tidak tahu kalau kantor Charlie Hebdo telah pindah
4. Samuel Paty
Kasus ini bermula saat Samuel Paty, seorang guru sekolah menengah Prancis, menunjukkan karikatur Nabi Muhammad karya Charlie Hebdo saat mengajar topik kebebasan berekspresi. Salah satu karikaturnya menunjukkan sosok di karikatur itu telanjang dengan kelaminnya terekspos. Paty pun membebaskan murid-muridnya untuk mengalihkan pandangan mereka atau meninggalkan ruangan jika keberatan.
Namun, ada salah satu siswi yang memelintir kejadian di kelas itu saat ia mengadu pada ayahnya. Sang ayah, Brahim Chnina, menuduh Paty menyebarkan pornografi kepada siswa dan menggugatnya ke polisi. Ia juga menyebarkan klaimnya di YouTube dan Facebook, menyebutkan nama Paty, bahkan membeberkan alamat sekolah. Sontak orang tua lainnya termobilisasi untuk melawan guru itu.
Tak disangka, 1,5 pekan setelah kelas tersebut, tepatnya pada 16 Oktober 2020, seorang remaja 18 tahun bernama Abdoullah Abouyedovich Anzorov datang ke sekolah itu dan memenggal Paty. Ia lantas tewas tertembak saat polisi mencoba menangkapnya.
Insiden ini pun meluas hingga memicu ketegangan antarnegara. Sejumlah negara mayoritas Muslim mengecam serangan ini dan mengutuk penerbitan karikatur tersebut. Di sisi lain, presiden Prancis membela penerbitan karikatur Nabi Muhammad. Akibatnya, sejumlah pemimpin dunia mengkritiknya dan timbul gelombang demonstrasi massa di beberapa negara. Beberapa di antaranya bahkan menyerukan boikot produk Prancis.
Setelah diselidiki, siswi yang menuding Paty islamofobia ternyata memang tak menghadiri pelajaran kelas tersebut dari awal. Usut punya usut, ia telah diskors dari sekolah sebelum Paty menunjukkan karikatur tersebut. Jadi, ia berbohong agar tak dimarahi ayahnya.
Kontroversi karikatur Nabi Muhammad lantas memicu perdebatan tentang batas-batas kebebasan berekspresi di masyarakat, toleransi beragama dan hubungan minoritas Muslim dengan masyarakat lyas di Barat, dan hubungan antara kawasan Islam pada umumnya dengan kawasan Barat.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara




