China Tantang Wakil PM Jepang Minum Air Limbah Nuklir Fukushima

AKURAT.CO, Langkah Jepang untuk melepas air limbah nuklir Fukushima terus menuai kritikan tajam dari China. Pasalnya, tidak hanya menyindir Tokyo untuk membuang limbah ke AS, Beijing juga menganjurkan wakil Perdana Menteri (PM) Jepang, Taro Aso untuk menenggak air tersebut. Terlebih, karena sebelumnya, pejabat Jepang tersebut mengklaim air dari nuklir Fukushima aman untuk dikonsumsi.
Diwartakan Washington Post, sindiran baru untuk Jepang itu dilontarkan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian melalui Twitter hingga acara jumpa pers Rabu (14/4) waktu setempat. Saat itulah, meski tidak menyebut nama, Zhao tegas menantang Taro untuk meminum air olahan dari reaktor pembangkit listrik Fukushima yang rusak.
"Seorang pejabat Jepang berkata, tidak apa-apa jika Anda meminum air ini. Kalau begitu, tolong diminum.
"Laut bukanlah tempat sampah untuk Jepang," kata Zhao yang sebelumnya juga menyindir Jepang untuk membuang limbah Fukushima ke AS.
Some say Japan's decision was endorsed by the US. But that doesn't mean endorsement by the international community. Oddly, the US "thanked" Japan for its efforts. If the US values environmental protection, it should shoulder its responsibility rather than adopt double-standards. pic.twitter.com/GRA9KPqOuL
— Lijian Zhao (@zlj517) April 14, 2021
Pernyataan Kementerian Luar Negeri China itu datang setelah Jepang mengumumkan pada Selasa (13/4) bahwa mereka telah memutuskan untuk melepas 1,3 ton air radioaktif Fukushima.
Didukung Washington, saat itu, Taro mengatakan air tersebut telah diolah dan bakal aman untuk diminum. Bahkan, Taro menyebut bahwa pemerintah Jepang harusnya melepas air tersebut lebih awal.
Sementara, menurut Reuters, jumlah air itu setara dengan volume 500 kolam renang ukuran olimpiade. Saat ini, air limbah tersebut memang belum dilepaskan dan dilaporkan masih disimpan dalam tangki-tangki besar.
Tokyo juga telah mengonfirmasi bahwa pekerjaan untuk membuang air itu bakalan dimulai setidaknya selama dua tahun. Namun, langkah Jepang ini pada ujungnya tetap menuai kontroversi dari banyak pihak. Protes tidak hanya datang dari China, melainkan negara tetangga Korea Selatan (Korsel) yang sampai memanggil duta besar Jepang.
Kecaman juga ikut disuarakan oleh industri perikanan Jepang yang khawatir konsumen akan menolak untuk membeli produk dari daerah tersebut.
Kisruh ini sendiri berawal dari rusaknya reaktor pembangkit listrik tenaga nuklir Daiichi Fukushima akibat gempa bumi dan tsunami pada tahun 2011.
Tsunami itu melumpuhkan sistem pendingin pada reaktor, tiga di antaranya meleleh, seperti diwartakan BBC. Untuk mendinginkan reaktor yang meleleh itulah, Jepang menggunakan lebih dari satu juta ton air. Lalu, air itu diolah lebih lanjut untuk menghilangkan elemen radioaktif atau isotop berbahaya. Oleh Jepang, air itu juga diencerkan untuk memenuhi standar WHO untuk air minum.
Air itu kini diurus oleh operator pabrik Tokyo Electric Power Co (TepCo) dan diharapkan akan terisi penuh pada tahun 2022.
Namun, yang menjadi perhatian adalah bahwa pengolahan limbah tidak serta merta bisa menghilangkan kandungan tritium (salah satu isotop radioaktif dari hidrogen). Meski dalam hal ini, tritium hanya berbahaya bagi manusia jika dikonsumsi dalam dosis sangat besar.
Menanggapi itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengaku akan mengawasi operasi pembuangan limbah dan kandungannya. Para ahli radiasi juga telah mengecilkan ketakutan tentang air, dengan mengonfirmasi bahwa menelannya hanya akan menghasilkan dosis radiasi satu menit dan tritium di dalam air akan dengan cepat melewati tubuh.
Kendati demikian, kelompok pecinta lingkungan seperti Greenpeace terus kekeh menyatakan penolakannya untuk melepaskan air tritium tersebut ke laut. Tahun lalu misalnya, Greenpeace melaporkan bahwa air limbah dari reaktor nuklir Fukushima lebih berbahaya daripada yang diklaim aman oleh pemerintah Jepang.
Dalam publikasinya 'Stemming the Tide 2020: The Reality of the Fukushima Radioactive Water Crisis', Greenpeace bahkan mengklaim bahwa air yang diolah masih mengandung tingkat karbon-14 yang berbahaya. Ini adalah sebuah zat radioaktif yang memiliki potensi untuk merusak DNA manusia.
Kini, protes kembali dilontarkan kelompok LSM tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa rencana Jepang untuk melepaskan air limbah menunjukkan bahwa pemerintah 'sekali lagi mengecewakan rakyat Fukushima'.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon


