52 Tahun Lunasi Utang IMF, Turki Percaya Diri Tidak Akan Diserang Negara Lain

AKURAT.CO, Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali melontarkan pernyataan mengejutkan terkait dengan perkembangan ekonomi Turki. Dalam pernyataan teranyar, Erdogan mengklaim bahwa Turki tidak bakal dikalahkan lagi oleh negara-negara lain.
Kepercayaan diri Erdogan ini muncul tidak lain lantaran status bebasnya Turki dari jeratan utang Dana Moneter Internasional (IMF).
Seperti diketahui, sama seperti Indonesia, Turki juga memiliki sejarah panjang terkait dengan utang IMF. Mengutip Anadolu Agency, Turki telah meneken 'Perjanjian Siaga' pertamanya dengan IMF sejak tahun 1961 silam.
Namun, setelah 52 tahun berselang, Turki pada akhirnya mampu menghapus utangnya kepada IMF. Tepat pada 14 Mei 2013 lalu, Turki resmi menggenapi angsuran utang terakhirnya.
Erdogan berujar bahwa setelah membayar utang sebesar USD23,5 miliar (Rp347,4 triliun), Turki akhirnya mendapatkan kembali kemerdekaan ekonomi.
Mengutip Hurriyet Daily, Erdogan menyatakan bahwa era negara lain menggoyahkan Turki dengan ekonomi akhirnya berakhir. Pasalnya, menurut Erdogan, negara-negara yang tidak mampu menundukkan Turki dengan diplomasi, pertahanan, atau militer, selalu menggunakan ekonomi sebagai senjata.
"Sepanjang sejarah, mereka yang tidak bisa membungkukkan pergelangan tangan negara kita dalam bidang diplomasi, pertahanan, dan militer, selalu menggunakan ekonomi sebagai senjata," ucap Erdogan ketika menghadiri pertemuan perusahaan asuransi Turkiye Sigorta pada Senin (7/9) kemarin.
Lebih lanjut, Erdogan menjelaskan bahwa sebelumnya, Turki tidak cukup kuat dalam bidang ekonomi. Karena fakta inilah, tidak sedikit negara yang lantas menggunakan nilai tukar, bunga, hingga inflasi sebagai alat untuk menjatuhkan Turki.
"Negara kita telah melewati hari-hari ketika bunga dalam semalam naik menjadi 7.500 persen. Bahkan, kita telah melihat periode ketika pendapatan pajak juga tidak bisa menutupi pembayaran bunga."
"Ada pula saat-saat ketika kita dalam ancaman (karena) tidak bisa membayar gaji para pegawai negeri," sambung Erdogan.
Setelah itu, Erdogan mengenang masa kelam saat birokrasi ekonomi Turki harus diserahkan kepada pihak IMF. Tidak hanya itu, saat masih menggantungkan negaranya kepada IMF, Erdogan sampai menyebut Turki serasa berada 'dalam lingkaran setan'.
"Kami menyaksikan adegan memalukan di mana birokrasi ekonomi benar-benar dikucilkan, dan keuangan serta perbendaharaan negara diserahkan kepada komisaris IMF. Perekonomian kita, yang telah dibawa ke dalam spiral nilai tukar, bunga, dan inflasi, telah miring selama bertahun-tahun dengan krisis yang berulang hampir setiap 10 tahun."
"Turki (dulu) tidak mampu menggunakan potensinya. Sementara negara-negara yang memulai perlombaan pembangunan bersama dengan kita, justru memperoleh kemajuan. Lingkaran setan ini sudah kita akhiri dengan reformasi yang telah kita lakukan sejak 2002 dan mencegah pemborosan sumber daya dan waktu dalam perekonomian (yang terbuang)," tegas Erdogan.
Setelah itu, Erdogan bersumpah bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Turki kembali ke masa lalu.
"Kami tidak akan pernah membiarkan kalian kembali ke masa lalu. Kita sedang berupaya melalui tikungan kritis dalam proses ini," tambah Erdogan.
Terlepas dari kepercayaan diri Erdogan tentang ekonomi negaranya, Turki sendiri sebenarnya juga tengah dililit krisis karena pandemi COVID-19.
Pada Mei lalu misalnya, Middle East Eye mulai membeberkan bagaimana cadangan internasional bank sentral Turki telah mengering. Selain itu, disebutkan pula bagaimana lira telah mencapai titik terendah dalam 20 bulan di tengah krisis virus corona.
Namun, lagi-lagi, Erdogan dan sebagian besar masyarakat Turki benar-benar tidak ingin kembali ke masa lalu. Erdogan dan rakyatnya pun disebutkan tidak ingin tidak ingin Ankara mengambil pinjaman dari IMF.
Bahkan, 69,2 persen responden Turki mengatakan menentang pengambilan batas kredit dari IMF untuk mengurangi dampak ekonomi akibat virus corona.
Kesimpulan itu diperoleh dari proses jajak pendapat yang dijalankan oleh Riset Ekonomi Istanbul pada April lalu.
"Pandemi yang mengganggu keseimbangan dunia telah membuka peluang baru di hadapan negara-negara dengan kapasitas produksi tinggi seperti Turki. Ekonomi Turki akan diperkuat, bersama dengan daerah lain setelah pandemi," kata Erdogan saat berbicara tentang dampak COVID-19 terhadap ekonomi Turki. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah



