Akurat Logo

Kasus Reynhard Sinaga, Begini Cara Pelaku Memancing Korbannya

Arrayyan Nurrochim | 7 Januari 2020, 14:32 WIB
Kasus Reynhard Sinaga, Begini Cara Pelaku Memancing Korbannya

AKURAT.CO, WNI 36 tahun asal Indonesia bernama Reynhard Sinaga dijatuhi hukuman seumur hidup atas ratusan pemerkosaan yang dilakukannya. Reynhard pertama kali ditangkap pada 2017, sejak itu ia dinyatakan bersalah atas 136 tuduhan pemerkosaan, 8 tuduhan percobaan perkosaan, dan 14 tuduhan serangan seksual. Sejak penangkapannya, ia telah menjalani 4 persidangan terpisah.

Korbannya ditaksir berjumlah 195 orang dengan 48 di antaranya diperkosa berulang - seluruh korbannya adalah pria. Selain memerkosa, ia juga merekam aksinya dan terkadang mencuri barang-barang korban untuk dijadikan 'trofi'. Perbuatannya juga diceritakan ke teman-temannya lewat grup WhatsApp, namun dalam percakapan terlihat bahwa teman-temannya mengira hubungan seksual yang dilakukan Reynhard bersifat konsensual.

Lantas bagaimana Reynhard memikat para korbannya?

Reynhard tinggal di sebuah apartemen di Manchester yang terletak di dekat pabrik dan klub malam. Ia disebut kerap keluar pada dini hari dan mengincar orang-orang yang terlihat rentan, korban biasanya adalah mereka yang terpisah dari teman, tersesat, kehabisan baterai ponsel, atau mabuk berat.

Sebagian besar dari mereka berusia belasan hingga 20an tahun. Seringkali korban dalam keadaan mabuk berat sehingga tidak mengingat percakapannya dengan Reynhard.

Situasi-situasi seperti itu dimanfaatkan oleh Reynhard untuk mengajaknya ke apartemen. Ia biasanya menawarkan minuman atau sekadar ruang untuk mengisi baterai ponsel.

Hal lain yang membuat para korban tidak terintimidasi adalah perawakan Reynhard yang pendek, kurus, dan terlihat tidak membahayakan. Para korban juga menuturkan bahwa Reynhard begitu murah senyum sehingga mereka mengira Reynhard bukanlah orang jahat.

Selain itu, Reynhard yang merupakan mahasiswa, mengajak korbannya berbincang dengan berbagai topik. Salah satu korban menuturkan diajak berbincang tentang kuliah dan riset sehingga citra yang tergambar adalah bahwa ia seorang akademisi.

Sesampainya di apartemen, korban diberikan minuman yang dicampur obat bius. Korban yang tidak sadarkan diri lalu diperkosa berulang kali selama tak sadarkan diri, salah satu korban diperkosa 7 kali dalam rentang waktu 8 jam. Reynhard menggunakan obat jenis GHB untuk membius korbannya, sebuah obat berbahaya yang dapat menimbulkan kematian.

Para korban terbangun keesokan harinya dalam keadaan bingung, salah satu korban menuturkan ia bertanya apa yang terjadi dan Reynhard menjawab bahwa ia menemukannya tergeletak mabuk di jalanan dan menolongnya. Para korban juga tidak menyadari bahwa mereka telah diperkosa, banyak dari para korban yang mengetahui bahwa mereka adalah korban setelah diberitahu polisi.

Itu adalah investigasi pemerkosaan terbesar dalam sejarah Inggris. Untuk menemukan para korban, polisi menggunakan rekaman video yang diambil Reynhard dan barang-barang pribadi para korban seperti jam tangan atau dompet. Ketika mereka kekurangan informasi pengidentifikasian, para penyelidik mencoba teknologi pengenal wajah, mendekati universitas setempat, dan bertanya kepada pasukan polisi lain di Inggris apakah mereka kenal salah satu dari mereka.

Petugas juga mempertimbangkan apakah Reynhard Sinaga mungkin telah membunuh salah satu korbannya dengan overdosis fatal, memeriksa kemungkinan kaitannya dengan kematian yang tidak terpecahkan atau kehilangan orang, tetapi tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa inilah masalahnya.

Ketika petugas membuat identifikasi positif, orang itu akan didekati dan diberi tahu bahwa dia telah menjadi korban pelanggaran seksual. Polisi menuturkan banyak korban yang bingung dan tampak tidak percaya saat diberitahukan bahwa mereka adalah korban pemerkosaan.

Reynhard ditangkap setelah salah satu korbannya berhasil menyelamatkan diri, korban tersebut diketahui merupakan atlet rugby, ia tersadar saat Reynhard menindihnya dalam keadaan telanjang dan langsung menghajar Reynhard hingga mengalami pendarahan di otak. Ia lalu menghubungi polisi dan berujung pada penangkapan pria 36 tahun itu.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.