Akurat Logo

Ahed Tamimi Berpindah Banyak Penjara dan Tak Diizinkan Ganti Pakaian

Khaerul S | 26 Desember 2017, 21:50 WIB
Ahed Tamimi Berpindah Banyak Penjara dan Tak Diizinkan Ganti Pakaian

AKURAT.CO, Ahed Tamimi dan Nour berupaya mengusir tentara Israel menjauh dari rumah mereka setelah sepupu mereka, Mohammad, 15, ditembak wajahnya dengan peluru karet oleh tentara Israel.

Penembakan itu membuat Mohammad koma selama 72 jam. Aksi Ahed dan Nour mengusir tentara Israel itu terekam dalam video yang menjadi viral di media sosial. Video itu pun memicu tentara Israel menahan Ahed, Nour, dan ibu Ahed bernama Nariman. Penahanan terhadap tiga perempuan itu pun semakin memicu kemarahan dunia pada kebrutalan Israel terhadap warga Palestina.

Ahed hingga kini belum mendapat dakwaan melakukan kejahatan. Menurut pengacara Ahed, Gabi Laski, kliennya diinvestigasi untuk insiden lain yang tidak terkait dengan video yang kini beredar luas di dunia tersebut.

“Remaja itu ditahan di bagian pertama penjara HaSharon, Israel, yang menahan anak-anak,” kata Gabi Laski, dikutip Aljazeera, Selasa (26/12).

Gabi menambahkan, “Ahed tidak diberikan pakaian ganti sejak dia ditahan hampir sepekan lalu. Sejak dia ditahan, Ahed juga dipindahkan ke beberapa penjara di Israel. Kebijakan Israel itu bertujuan untuk menghancurkan semangat Anda.”

Para tahanan Palestina biasanya diborgol dan kaki mereka dibelenggu selama pemindahan penjara. Perjalanan antar berbagai penjara berbeda itu sering berlangsung tidak nyaman dan dapat mengakibatkan luka fisik serius dan menguras emosi.

Pemindahan penjara ini tetap dilakukan Israel meski langkah tersebut melanggar hukum internasional yang melarang pemindahan tahanan Palestina dari wilayah pendudukan ke kawasan Israel. “Meski demikian, 60 persen tahanan anak Palestina dipindahkan ke Israel dari wilayah Palestina,” ungkap kelompok hak asasi tahanan Addameer.

Addameer melaporkan, banyak tahanan anak Palestina diinterogasi saat kurang tidur dan sering mengalami luka memar atau gores. Proses interogasi itu pun dinilai sangat kasar.

“Anak Palestina sering kali harus menandatangani dokumen yang ditulis dalam bahasa Ibrani meski sebagian rakyat Palestina tidak paham bahasa itu,” ungkap pernyataan Addameer.

Defense for Children International-Palestine melaporkan, sebanyak 520 kasus anak Palestina yagn ditahan Israel antara 2012 dan 2016, 72 persen mengalami kekerasan fisik dan 66 persen mengalami penghinaan dan pelecehan verbal. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Khaerul S
A