Lebih dari 500 Sekolah di Ho Chi Minh City Terapkan Pembatasan Penggunaan Ponsel Siswa Mulai 2026

AKURAT.CO Pemerintah Kota Ho Chi Minh City, Vietnam, akan menerapkan pembatasan penggunaan ponsel di sekolah mulai tahun 2026. Kebijakan ini akan berlaku di lebih dari 500 sekolah menengah pertama, menengah atas, dan sekolah kejuruan, khususnya saat jam istirahat.
Langkah tersebut diumumkan oleh Dinas Pendidikan dan Pelatihan Ho Chi Minh City pada 30 Desember lalu. Tujuannya bukan untuk melarang total penggunaan ponsel, melainkan mengurangi kebiasaan screen time pasif di kalangan siswa.
Dalam kebijakan baru ini, sekolah didorong untuk mengganti aktivitas bermain ponsel saat istirahat dengan berbagai kegiatan alternatif. Jam istirahat akan diisi dengan permainan berbasis gerak, olahraga, pertunjukan seni, hingga aktivitas yang lebih tenang seperti membaca, bermain catur, menggambar, atau sekadar relaksasi.
Meski demikian, siswa tetap diperbolehkan menggunakan ponsel untuk keperluan pembelajaran atau kegiatan kelompok yang disetujui guru. Penggunaan tersebut hanya boleh dilakukan di area tertentu dan dengan izin pengajar. Pemerintah menegaskan, yang ingin ditekan adalah kebiasaan menyendiri sambil bermain gim, menggulir media sosial tanpa henti, atau menonton video dalam waktu lama.
Sekolah juga diminta menyusun aturan yang jelas mengenai waktu dan lokasi penggunaan ponsel, menugaskan guru atau staf untuk mengawasi jam istirahat, serta dilarang menyita ponsel siswa secara sepihak di luar ketentuan resmi.
Kebijakan ini sebelumnya telah diuji coba di 16 sekolah pada Oktober lalu. Hasilnya dinilai positif. Penggunaan ponsel secara pasif menurun signifikan, lebih dari 80 persen siswa terlibat dalam setidaknya satu aktivitas selama istirahat, dan hampir 98 persen orang tua menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih ditemukan, seperti sebagian kecil siswa yang masih sulit lepas dari gim dan media sosial, serta keterbatasan fasilitas di beberapa sekolah.
Secara nasional, Vietnam sebenarnya masih memperbolehkan penggunaan ponsel di kelas untuk keperluan belajar selama mendapat izin guru. Siswa juga secara umum tidak dilarang membawa ponsel saat jam istirahat. Namun, pembatasan penggunaan ponsel di sekolah terus menjadi perdebatan seiring semakin banyak daerah yang mempertimbangkan aturan lebih ketat.
Ibu kota Hanoi, misalnya, sejak Agustus lalu mewajibkan seluruh sekolah mengumpulkan ponsel siswa sebelum pelajaran pertama dimulai dan baru mengembalikannya setelah jam sekolah berakhir. Kebijakan ini bersifat wajib, berbeda dengan aturan sebelumnya yang hanya berupa imbauan.
Direktur Dinas Pendidikan dan Pelatihan Hanoi, Tran The Cuong, menyatakan kebijakan tersebut diterapkan setelah banyak orang tua mengeluhkan siswa tetap bermain gim dan hiburan di kelas meski sudah ada aturan sebelumnya.
“Dalam kondisi darurat, orang tua dan siswa tetap bisa saling menghubungi melalui wali kelas atau hotline sekolah,” ujarnya.
Tren pembatasan ponsel siswa ini tidak hanya terjadi di Vietnam. Sejumlah negara seperti Prancis, Yunani, Hungaria, Denmark, dan Belgia telah memperketat aturan penggunaan ponsel di sekolah dengan alasan dampaknya terhadap konsentrasi belajar dan kesehatan mental.
Korea Selatan bahkan telah mengesahkan undang-undang yang melarang penggunaan ponsel di ruang kelas secara nasional mulai Maret tahun depan.
Ho Chi Minh City sendiri kini juga tengah mengkaji kemungkinan penerapan larangan yang lebih ketat, termasuk pembatasan ponsel siswa saat jam istirahat, yang direncanakan mulai diberlakukan pada tahun ajaran berikutnya.
Isu ini mendapat perhatian global setelah UNESCO pada 2023 mengimbau negara-negara di dunia untuk melarang ponsel di sekolah. Lembaga tersebut menilai ponsel dapat mengganggu proses belajar, menurunkan kualitas pendidikan, serta meningkatkan risiko seperti perundungan siber.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







