1 Juta Orang Tinggalkan Sudan Akibat Perang Tak Terkendali
AKURAT.CO Menurut laporan PBB, lebih dari 1 juta orang telah melarikan diri dari Sudan ke negara-negara tetangga dengan kondisi di dalam negeri yang kehabisan makanan akibat perang, pada Selasa (15/8/2023).
Diketahui, pertempuran antara tentara Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) yang sudah berlangsung selama empat bulan telah menghancurkan ibukota Khartoum dan memicu serangan berbasis etnis di Darfur.
Perang tersebut juga mengancam dan menjerumuskan Sudan ke dalam perang saudara yang berlarut-larut serta mengganggu kestabilan wilayah negara itu.
"Waktu hampir habis bagi para petani untuk menanam tanaman yang akan memberi makan mereka dan tetangga mereka. Persediaan medis sangat langka. Situasi semakin tidak terkendali," kata PBB, dikutip Rabu (16/8/2023).
Menurut laporan yang diterbitkan oleh IOM, perang di Sudan telah menyebabkan 1.017.449 orang menyeberang dari negara tersebut ke negara-negara tetangga dan banyak di antaranya telah berjuang dengan dampak konflik atau krisis ekonomi.
Sementara mereka yang mengungsi di dalam Sudan diperkirakan berjumlah 3.433.025 orang.
Dengan laporan kekerasan seksual yang meningkat sebesar 50 persen.
Elizabeth Throssell, juru bicara Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) mengatakan banyak jenazah dari mereka yang terbunuh belum dikumpulkan, diidentifikasi atau dikuburkan.
PBB memperkirakan lebih dari 4.000 orang telah terbunuh, tambah Throssel.
Pertempuran di Sudan meletus pada tanggal 15 April karena ketegangan yang terkait dengan rencana transisi ke pemerintahan sipil. Membuat warga sipil di ibu kota dan sekitarnya menjadi sasaran pertempuran dan serangan setiap hari.
Jutaan orang yang masih bertahan di Khartoum dan kota-kota di wilayah Darfur dan Kordofan dengan menghadapi penjarahan yang merajalela serta pemadaman listrik, komunikasi dan air yang berkepanjangan.
Pemadaman Listrik di Sudan
Otoritas listrik nasional melaporkan, sebagian besar wilayah di negara itu mengalami pemadaman listrik yang membuat jaringan seluler offline, sejak Minggu (13/8/2023).
Menambahkan bahwa keadaan tersebut mengharuskan pembentukan pemerintahan sementara untuk menyediakan layanan dan pembangunan kembali.
Tidak hanya itu, hujan musiman yang meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air telah menghancurkan atau merusak rumah-rumah hingga 13.500 orang.
Sementara itu, upaya-upaya yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat untuk merundingkan gencatan senjata dalam konflik di Sudan telah terhenti.
Bahkan, lembaga-lembaga kemanusiaan telah berjuang untuk memberikan bantuan karena ketidakamanan, penjarahan hingga rintangan birokrasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai



