Akurat Logo

Tegang! Kepulauan Pasifik Desak Jepang Tunda Pembuangan Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut

Bani Maryanto | 18 Januari 2023, 12:57 WIB
Tegang! Kepulauan Pasifik Desak Jepang Tunda Pembuangan Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut

AKURAT.CO  Negara-negara Kepulauan Pasifik telah mendesak Jepang untuk menunda pelepasan air limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Mereka khawatir langkah Jepang itu akan mencemari tempat penangkapan ikan.

Seruan itu datang pada Rabu (18/1), hanya beberapa hari setelah Jepang mengumumkan agendanya bahwa air limbah yang diolah dari pabrik Fukushima bisa dibuang ke laut sekitar musim semi atau musim panas tahun ini.

PLTN Fukushima hancur akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 9.0 dan tsunami pada tahun 2011, di mana lebih dari 18 ribu orang  tewas. Insiden di Fukushima dianggap sebagai kecelakaan nuklir paling parah sejak bencana Chernobyl pada tahun 1986. 

Pasca bencana itu, Jepang memerintahkan penyimpanan lebih dari 1 juta ton air limbah dari PLTN Fukushima yang rusak. Air limbah  nuklir ini ditaruh di dalam lebih dari seribu tangki, dan perlu dipindahkan agar pabrik dapat dinonaktifkan-sebuah  proses yang diperkirakan akan memakan waktu 30-40 tahun. 

Sayang, ada ancaman bahwa tangki-tangki itu akan bocor jika terjadi gempa besar atau tsunami. 

Langkah Jepang untuk membuang limbah Fukushima ke laut terjadi lebih dari dua tahun setelah pemerintah menyetujui wacana tersebut. Menurut Jepang, air limbah itu akan diolah, disaring dengan tujuan menghilangkan sebagian besar bahan radioaktif tetapi masih mengandung tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.

Pejabat Jepang bersikeras bahwa air tersebut, yang telah diolah tidak akan menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia atau lingkungan laut. Namun, rencana tersebut,  bagaimanapun, langsung memicu protes dari para nelayan. Mereka mengatakan langkah itu berisiko menghancurkan mata pencaharian mereka, menurut The Guardian.

Forum Pulau Pasifik (PIF), sebuah blok regional dari 17 negara kepulauan, juga menentang. Banyak dari negara-negara itu yang masih harus bergulat dengan warisan pengujian nuklir beberapa dekade lalu. 

Mereka merasa makin terbebani, mengatakan pelepasan air limbah Fukushima bisa berdampak signifikan pada tempat penangkapan ikan yang menjadi sandaran ekonomi mereka, dan di mana setengah dari tuna dunia bersumber dari wilayan tersebut.

"Wilayah kami berdiri teguh, menegaskan tidak boleh ada pelepasan sampai semua pihak memverifikasi keamanannya," kata Sekretaris Jenderal PIF Henry Puna pada hari Rabu dalam pertemuan publik yang disiarkan langsung di Suva, Fiji.

"Kita harus mencegah tindakan yang bisa mengarahkan atau menyesatkan, yang menuju bencana kontaminasi nuklir besar lainnya di tangan orang lain," tambah Puna, mengatakan penduduk Kepulauan Pasifik terus menanggung efek jangka panjang dari warisan pengujian nuklir setiap hari.

 PLTN Fukushima Daiichi hancur dalam tsunami 2011 dan air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor disimpan di lokasi-Kyodo/via Reuters

Amerika Serikat melakukan uji coba nuklir di Kepulauan Pasifik pada 1940-an hingga 1950-an. Kepulauan Marshall terus mengampanyekan lebih banyak kompensasi dari Washington atas efek kesehatan dan lingkungan yang dampanya bertahan lama.

Prancis juga melakukan pengujian atom antara tahun 1966-1996 di Mururoa Atoll di wilayah Pasifik Prancis.

Ken Buesseler, seorang ilmuwan dari Institut Oseanografi Woods Hole, mengatakan pada Rabu, bahwa panel ahli ilmiah PIF mendesak Jepang untuk mempertimbangkan kembali pelepasan limbah karena tidak didukung oleh data. Masih dibutuhkan pula banyak informasi soal pembuangan air limbah Fukushima oleh pemerintah Jepang.

Radioaktif bergerak melintasi lautan dengan arus dan pasang surut, dan berisiko mencemari ikan, kata Buesseler.

Tetangga-tetangga regional Jepang, termasuk China dan Korea Selatan, dan kelompok-kelompok seperti Greenpeace, juga telah mengkritik rencana tersebut.

Namun, kementerian luar negeri Jepang bersikukuh mengatakan soal anggapan regulator pemerintah tentang keamanan melepas air limbah Fukushima. 

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengatakan pelepasan itu memenuhi standar internasional dan 'tidak akan membahayakan lingkungan', Al Jazeera melaporkan.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
E
Editor
Endarti