Tegang! Kepulauan Pasifik Desak Jepang Tunda Pembuangan Limbah Radioaktif Fukushima ke Laut

AKURAT.CO Negara-negara Kepulauan Pasifik telah mendesak Jepang untuk menunda pelepasan air limbah dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi. Mereka khawatir langkah Jepang itu akan mencemari tempat penangkapan ikan.
Seruan itu datang pada Rabu (18/1), hanya beberapa hari setelah Jepang mengumumkan agendanya bahwa air limbah yang diolah dari pabrik Fukushima bisa dibuang ke laut sekitar musim semi atau musim panas tahun ini.
PLTN Fukushima hancur akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 9.0 dan tsunami pada tahun 2011, di mana lebih dari 18 ribu orang tewas. Insiden di Fukushima dianggap sebagai kecelakaan nuklir paling parah sejak bencana Chernobyl pada tahun 1986.
Pasca bencana itu, Jepang memerintahkan penyimpanan lebih dari 1 juta ton air limbah dari PLTN Fukushima yang rusak. Air limbah nuklir ini ditaruh di dalam lebih dari seribu tangki, dan perlu dipindahkan agar pabrik dapat dinonaktifkan-sebuah proses yang diperkirakan akan memakan waktu 30-40 tahun.
Sayang, ada ancaman bahwa tangki-tangki itu akan bocor jika terjadi gempa besar atau tsunami.
Langkah Jepang untuk membuang limbah Fukushima ke laut terjadi lebih dari dua tahun setelah pemerintah menyetujui wacana tersebut. Menurut Jepang, air limbah itu akan diolah, disaring dengan tujuan menghilangkan sebagian besar bahan radioaktif tetapi masih mengandung tritium, isotop hidrogen yang sulit dipisahkan dari air.
Pejabat Jepang bersikeras bahwa air tersebut, yang telah diolah tidak akan menimbulkan ancaman bagi kesehatan manusia atau lingkungan laut. Namun, rencana tersebut, bagaimanapun, langsung memicu protes dari para nelayan. Mereka mengatakan langkah itu berisiko menghancurkan mata pencaharian mereka, menurut The Guardian.
Forum Pulau Pasifik (PIF), sebuah blok regional dari 17 negara kepulauan, juga menentang. Banyak dari negara-negara itu yang masih harus bergulat dengan warisan pengujian nuklir beberapa dekade lalu.
Mereka merasa makin terbebani, mengatakan pelepasan air limbah Fukushima bisa berdampak signifikan pada tempat penangkapan ikan yang menjadi sandaran ekonomi mereka, dan di mana setengah dari tuna dunia bersumber dari wilayan tersebut.
"Wilayah kami berdiri teguh, menegaskan tidak boleh ada pelepasan sampai semua pihak memverifikasi keamanannya," kata Sekretaris Jenderal PIF Henry Puna pada hari Rabu dalam pertemuan publik yang disiarkan langsung di Suva, Fiji.
"Kita harus mencegah tindakan yang bisa mengarahkan atau menyesatkan, yang menuju bencana kontaminasi nuklir besar lainnya di tangan orang lain," tambah Puna, mengatakan penduduk Kepulauan Pasifik terus menanggung efek jangka panjang dari warisan pengujian nuklir setiap hari.
Amerika Serikat melakukan uji coba nuklir di Kepulauan Pasifik pada 1940-an hingga 1950-an. Kepulauan Marshall terus mengampanyekan lebih banyak kompensasi dari Washington atas efek kesehatan dan lingkungan yang dampanya bertahan lama.
Prancis juga melakukan pengujian atom antara tahun 1966-1996 di Mururoa Atoll di wilayah Pasifik Prancis.
Ken Buesseler, seorang ilmuwan dari Institut Oseanografi Woods Hole, mengatakan pada Rabu, bahwa panel ahli ilmiah PIF mendesak Jepang untuk mempertimbangkan kembali pelepasan limbah karena tidak didukung oleh data. Masih dibutuhkan pula banyak informasi soal pembuangan air limbah Fukushima oleh pemerintah Jepang.
Radioaktif bergerak melintasi lautan dengan arus dan pasang surut, dan berisiko mencemari ikan, kata Buesseler.
Tetangga-tetangga regional Jepang, termasuk China dan Korea Selatan, dan kelompok-kelompok seperti Greenpeace, juga telah mengkritik rencana tersebut.
Namun, kementerian luar negeri Jepang bersikukuh mengatakan soal anggapan regulator pemerintah tentang keamanan melepas air limbah Fukushima.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengatakan pelepasan itu memenuhi standar internasional dan 'tidak akan membahayakan lingkungan', Al Jazeera melaporkan.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon




