5 Fakta Menarik Kosovo, Negara Mayoritas Muslim Albania yang Cinta Amerika

AKURAT.CO Serbia dan bekas provinsinya yang memerdekakan diri, Kosovo, lagi-lagi bersitegang. Dalam perkembangan terbaru, Beograd sampai meningkatkan angkatan bersenjatanya di perbatasan, dalam posisi 'siaga tempur tertinggi'.
Sementara Serbia mengerahkan tentaranya, Kosovo utara bergejolak, dengan etnis Serbia yang tinggal di sana, terus mendirikan barikade, memutus jalanan di wilayah yang terpecah secara etnis. Aksi itu pun dilaporkan telah terjadi selama berminggu-minggu, dan kian marak setidaknya sejak 10 Desember lalu.
Terlepas dari masa lalu yang kelam di antara keduanya, ketakutan akan kekerasan meningkat sejak dimulainya perang Rusia di Ukraina. Amerika Serikat (AS), dan sebagian besar negara Uni Eropa telah mengakui kemerdekaan Kosovo. Sementara Serbia mengandalkan Rusia dan China dalam upayanya untuk mempertahankan klaim atas provinsinya tersebut.
Ketegangan telah diperparah dengan beberapa masalah, seperti insiden penembakan tanpa korban jiwa di Zubin Potok di Kosovo utara hingga sengketa pelat nomor mobil Kosovo-Serbia yang berbuntut pengunduran diri ratusan pekerja.
Bagaimanapun, di balik ancaman perang Beograd-Pristina, Kosovo, yang baru 'lahir' menyimpan sejumlah fakta menarik. Apa saja itu?
Dilansir dari berbagai sumber, berikut 5 fakta menarik Kosovo, negara yang tak pernah akur dengan Serbia.
1. Negara termuda kedua di dunia
Kosovo adalah negara termuda kedua di dunia, yang mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia pada 17 Februari 2008. Satu-satunya negara yang mendeklarasikan kemerdekaannya baru-baru ini adalah Sudan Selatan, yang dibentuk pada 2011 dari Sudan.
Setelah pecahnya Yugoslavia pada 1990-an, Kosovo, yang semula adalah provinsi, mencari otonomi dan kemerdekaannya sendiri. Namun, upaya itu dengan tegas ditolak Serbia, yang dulu menguasai Kosovo, merebutnya dari Turki. Sebaliknya, Serbia ingin mengganti budaya dan bahasa Albania dengan institusi Serbia, yang memicu perang.
Serbia lantas menanggapi gerakan separatis dengan meluncurkan tindakan brutal terhadap etnis Albania yang mencari kemerdekaan.
Konflik baru berakhir pada 1999, dengan kampanye pengeboman NATO melawan Serbia, antara Maret hingga Juni. Lebih dari 13ribu orang tewas dalam perang Kosovo yang berlangsung antara 1998-1999, menurut BBC. Ratusan ribu warga sipil, sementara itu, harus mengungsi hingga negara-negara tetangga untuk menghindari pembersihan etnis oleh Serbia.
Pasukan Serbia memang telah mundur dari Kosovo. Namun, bagi banyak orang Albania dan etnis Serbia di Kosovo, konflik tersebut tidak pernah terselesaikan. Presiden Serbia Aleksandar Vucic yang populis juga telah bersumpah bahwa Serbia tidak akan pernah mengakui Kosovo sebagai negara merdeka.
Pasukan Kosovo (KFOR) yang dipimpin NATO hingga kini masih berbasis di Kosovo, dengan kekuatan saat ini mencapai 3.762 tentara.
Sebanyak 99 dari 193 negara PBB, bagaimanapun, telah mengakui kemerdekaan Kosovo, termasuk AS, Inggris, dan 22 dari 27 negara Uni Eropa.
Tetapi Rusia dan China, yang tidak, telah memblokir keanggotaan Kosovo di PBB.
Baik Kosovo maupun Serbia tidak berada di UE, tetapi pada Serbia telah menjadi negara kandidat UE sejak 2012, dan melamar keanggotaan sejak 2009 silam. Sementara Kosovo secara resmi melamar keanggotaan UE pada pertengahan Desember tahun ini.
2. Negara kecil, tanpa laut, dengan mayoritas penduduk muslim Albania
Kosovo adalah negara kecil yang terkurung daratan di Balkan, berbatasan dengan Albania, Makedonia Utara, Montenegro, dan Serbia. Sekitar 40 persen tanahnya ditutupi oleh hutan, dan lebih dari separuh tanahnya diisi pertanian. Luas Kosovo hanyalah 10,8 km persegi atau sepertiga dari luas Yogyakarta.
Banyak orang Serbia menganggap Kosovo sebagai tempat kelahiran bangsa mereka. Baik Serbia dan Albania, keduanya merupakan bahasa utama Kosovo.
Namun, dari 1,8 juta orang lebih yang tinggal di Kosovo, lebih dari 90 persennya adalah muslim Albania. Secara total, etnis Albania membentuk mayoritas keseluruhan dengan 92,9 persen. Sisanya, hanya sekitar 6 persen adalah etnis Serbia. Sementara lainnya adalah orang Bosnia, Goran, Turki dan Roma.
Kekaisaran Ottoman memerintah Kosovo dari pertengahan abad ke-15 hingga awal abad ke-20, di mana Islam tumbuh menonjol dan jumlah penutur bahasa Albania meningkat secara signifikan, yang menyebabkan ketegangan antara mayoritas etnis Albania Muslim baru dan minoritas Serbia Ortodoks Timur.
Juga selama pemerintahan Yugoslavia, warisan arsitektural orang Kosovo Albania diwarnai dengan pengabaian hingga beberapa dekade sebelum konflik langsung pecah pada akhir abad ke-20. Banyak situs budaya Albania di Kosovo dihancurkan selama periode pemerintahan Yugoslavia dan khususnya saat perang Kosovo (1998-1999). Selama konflik itu, secara keseluruhan, 225 dari 600 masjid di Kosovo rusak, dirusak, atau dihancurkan bersamaan dengan arsitektur Islam lainnya.
3. Cinta Amerika
Ada kebanggaan dan cinta yang besar untuk AS di Kosovo. Maka jangan heran jika Anda akan melihat bendera hingga monumen AS dimana-mana saat pergi ke Kosovo. Pastinya ada alasan penting untuk ini. Kosovo melihat AS sebagai negara yang membebaskannya. Secara khusus, mereka menyukai mantan presiden AS Bill Clinton, yang telah membantu mengakhiri perang Kosovo dengan intervensi NATO. Karenanya, Clinton telah dipandang sebagai salah satu nama yang memulai proses menuju kemerdekaan negara tersebut.
Kosovo bahkan menamai jalan paling besar di pusat ibukota Pristina dengan sebutan Bill Clinton Boulevard, dan mereka juga memahat patung mantan pemimpin AS tersebut. Sosok 'penyelamat' setinggi tiga meter itu didirikan tidak lain untuk menghormati pembebasan Republik Kosovo dari tirani Serbia dan tentara Yugoslavia.
Selain Clinton, mantan Presiden George W. Bush juga memiliki nama jalan di Pristina. Kemerdekaan Kosovo diakui pada masa pemerintahannya.
4. Kosovo, negara termiskin di Eropa
Sayangnya, keterlibatan AS dalam menciptakan kehidupan yang bebas dan bahagia di Kosovo hanya terbatas pada pengeboman Serbia dan penempatan di pangkalan militer Camp Bondsteel di dekat kota Urosevac. Euforia kemerdekaan sejak itu telah berlalu, dan Kosovo dihadapkan pada masalah lain- pengangguran dan kemiskinan. Negara ini masih sangat sangat bergantung pada komunitas internasional dan diaspora untuk bantuan keuangan dan teknis.
Kosovo pun diketahui menjadi termiskin di Eropa, menyusul Moldova. Pada 2017, produk domestik bruto per kapita negara itu hanya mencapai sekitar USD10.400 (Rp164juta), dengan tingkat pengangguran mencapai sebesar 33 persen, dan tingkat pengangguran kaum muda mendekati 60 persen. Padahal, dengan usia rata-rata 29,1 tahun, Kosovo termasuk populasi termuda di Eropa, dengan lebih dari 40 persen penduduknya berumur di bawah 25 tahun.
Dilaporkan sebagian besar penduduk Kosovo tinggal di pedesaan di luar ibukota Pristina.
5. Masalah yang kini berkobar
Hubungan antara pemerintah yang didominasi Albania dan minoritas Serbia telah tegang selama bertahun-tahun. Namun, pada akhir tahun 2022, kekerasan menjadi semakin kentara, setelah perang Rusia-Ukraina. Ketegangan pada tahun ini akhirnya menyebabkan pembangkangan sipil.
Awalnya, pemerintah Kosovo ingin membuat orang-orang di wilayah mayoritas etnis Serbia menukar pelat nomor mobil mereka yang dikeluarkan Serbia dengan pelat nomor yang dikeluarkan Kosovo. Namun, kebijakan itu ditolak mentah-mentah. Sekitar 50ribu etnis Serbia yang tinggal di utara Kosovo, enggan menggunakan plat nomor Kosovo karena mereka tidak mengakui kemerdekaan negara itu.
Dalam protesnya, ratusan pekerja etnis Serbia di Kosovo juga ramai-ramai mengundurkan diri, dengan unjuk rasa ini dilakukan oleh berbagai kalangan, dari walikota, jaksa, polisi sampai hakim. Al Jazeera hingga Reuters mengungkap bahwa hingga 600 polisi hengkang akibat kebijakan nomor pelat tersebut.
Hingga akhirnya di musim panas, etnis Serbia di utara Kosovo, yang berbatasan dengan Serbia, membarikade jalan, dengan beberapa pria dilaporkan melepaskan tembakan selama protes. Sebagai tangggapan, pemerintah Kosovo menunda penerapan aturan baru tersebut.
Uni Eropa kemudian turun tangan, memediasi kesepakatan antara kedua belah pihak, meredakan ketegangan.
Berdasarkan kesepakatan itu, Kosovo akan membatalkan rencananya untuk mendenda pemegang pelat nomor yang dikeluarkan Serbia, dan Beograd harus berhenti mengeluarkan pendaftaran kendaraan dengan inisial kota-kota di Kosovo.
Sayangnya, tidak lama setelah kesepakatan dicapai, kerusuhan kembali terjadi. Konflik lebih lanjut dipicu oleh penangkapan seorang mantan polisi Serbia, yang mundur pada 10 Desember di Kosovo utara. Mantan polisi ini telah dituduh menyerang petugas selama protes sebelumnya. Dalam bentrokan itu, polisi setempat terlibat baku tembak dengan kelompok tak dikenal.
Sejak itu, protes pendirian barikade truk terus berlanjut, dengan sejumlah insiden penembakan kembali muncul, termasuk polisi Kosovo yang mengalami tiga serangan senjata api berturut-turut.
Beograd yang emosi, sementara itu, berulang kali memperingatkan akan melindungi warga Serbia lokal 'dengan segala cara' jika mereka diserang. Hingga dalam langkah terbaru, Serbia memutuskan mengerahkan tentaranya ke perbatasan, pada posisi 'tingkat kesiapan tempur tertinggi', yaitu pada tingkat penggunaan angkatan bersenjata.
Atas perintah Presiden Vucic, angkatan bersenjata khusus juga akan untuk ditingkatkan dari 1.500 menjadi 5ribu prajurit, menurut Menteri Pertahanan Serbia Milos Vucevic, pada Senin (26/12) malam.
Itulah fakta tentang Kosovo dan hubungannya yang tak pernah akur dengan Serbia. Semoga tidak akan ada perang tambahan di tahun 2023 ya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ancaman Denny Indrayana ke Presiden Prabowo Bentuk Penghinaan pada Mandat Rakyat
- 2Tujuh Dekade Asuransi Astra Menjaga Asa: Merajut Kemandirian Ekonomi UMKM, Perempuan, hingga Penyandang Disabilitas
- 3Memutus Mata Rantai Kejahatan Keuangan Digital: Upaya OJK Melindungi Masyarakat dari Jerat Judi Online
- 4Tak Tergilas Disrupsi, Tak Terjebak Perang Harga: Rahasia Bluebird Menjaga Takhta di Industri Transportasi Dalam Negeri
- 5Ina Liem Kini Setuju Gibran Mundur dari Wapres, Alasannya Bikin Heboh
- 6Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 7Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 8Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 9Pemerintah Pastikan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
- 10Harga Cabai Berangsur Turun Awal November




