China Alami Panic Buying usai Longgarkan Pembatasan Covid-19, Buah Persik Jadi Rebutan

AKURAT.CO Tak hanya penguncian, langkah pelonggaran pembatasan Covid-19 ternyata juga memicu panic buying di China.
Seperti yang baru-baru ini terjadi, orang-orang di China langsung bergegas membeli ibuprofen, obat flu, hingga alat uji coba untuk Covid-19. Panic buying yang melanda warga China terjadi di tengah laporan kekurangan akan bahan-bahan esensial tersebut, dengan negara menghadapi masalah penimbunan usai melonggarkan pembatasan Covid-19 ketatnya minggu lalu.
Dilaporkan bahwa kini, produk untuk pengobatan rumahan sebagian besar telah ludes secara online, termasuk lemon hingga buah persik kalengan yang kaya vitamin C, dan air elektrolisis.
Penimbunan, bagaimanapun, telah menjadi masalah global yang umum, tetapi apa yang sedang terjadi di China mungkin contoh pertama dari dampak langsung pelonggaran pembatasan Covid-19.
Di China, seperti di tempat-tempat lain di dunia, sudah biasa melihat warga berbagi foto toko bahan makanan yang kosong. Foto-foto yang lazim muncul ini internet ini, biasanya diambil di kota-kota besar menjelang perintah pembatasan Covid-19, menyuruh mereka 'agar tetap di dalam rumah'.
Patients in China were getting treated while hooked up to IV drips in their cars because local clinics in several provinces are fully-booked. pic.twitter.com/xVVp2aKrge
— South China Morning Post (@SCMPNews) December 14, 2022
Sebenarnya, situasi telah berubah sejak protes besar pecah akhir bulan lalu. Pelonggaran secara perlahan diterapkan, dengan pemerintah sampai melonggarkan aturan track-and-trace untuk virus, memungkinkan warganya untuk mengisolasi diri di dalam rumah sendiri dan menguji sendiri virusnya.
Namun, usai pelonggaran pembatasan Covid-19 diberlakukan, apa yang terjadi justru seperti masa menjelang penguncian. Orang-orang terlihat panik membeli obat-obatan untuk mengantisipasi gelombang musim dingin. Panic buying yang melanda warga China, bagaimanapun, menjadi bentuk kekhawatiran sendiri, tentang ancaman lonjakan kasus.
Sebagaimana dilaporkan BBC, pemerintah-pemerintah daerah di negara itu telah didesak untuk meningkatkan unit ICU mereka. Mereka juga diminta untuk membuka klinik demam pada akhir bulan, dengan alasan 'sebagai persiapan menghadapi gelombang infeksi'.
Sudah pula ada tanda-tanda bahwa sistem kesehatan di negara itu dengan cepat kewalahan. Sebuah video telah beredar minggu ini, memperlihatkan pasien yang dipasangi infus dari mobil mereka 'karena klinik penuh'.
Bersamaan dengan itu, China Daily melaporkan tentang bagaimana telah terjadi 'pertumbuhan permintaan yang eksplosif' untuk obat pereda nyeri, vitamin, dan obat flu.
Beberapa gerai telah membagikan foto lorong-lorong apotek yang kosong, dan media memuat cerita sepanjang minggu, tentang bagaimana lini produksi di perusahaan farmasi harus bekerja 'dengan kapasitas penuh' untuk menghadapi lonjakan permintaan.
Surat kabar China Daily bahkan mencatat bagaimana panic buying telah menjadi begitu marak sampai-sampai pemerintah di Kota Guangzhou menyerukan agar warga melakukan 'pembelian yang masuk akal'.
"Tidak perlu menimbunnya dalam jumlah besar," kata otoritas Guangzhou dalam sebuah pernyataan. Guangzhou adalah kota yang mengalami jumlah kasus virus tertinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Minggu lalu, surat kabar Global Times juga mengamati bahwa omzet alat deteksi Covid-19 telah melonjak lebih dari 300 persen, yang mana ini terjadi sejalan dengan kebijakan baru China yang melonggarkan Covid-19. Dikatakan bahwa stok alat tersebut dengan cepat habis di platform-platform terkemuka seperti JD Health.
-Stok habis!-
Situs berita The Paper mengungkap situasi serupa, menambahkan bagaimana 'permintaan konsumen akan vitamin C telah meroket'. The Paper melaporkan bahwa lemon ludes terjual di beberapa platform perbelanjaan, begitu juga dengan 'teh rasa lemon, permen rasa lemon, hingga air soda rasa lemon'.
China Daily mengamati tren serupa dengan buah persik kalengan. Karena produk tersebut dikatakan 'kaya akan vitamin C' dan 'memiliki umur simpan yang lebih lama', buah persik kalengan telah menjadi produk dambaan warga, secara online maupun offline.
"Pada beberapa platform belanja online, permintaan buah persik kuning kalengan meningkat sangat tajam sehingga sering diberi label 'stok habis'," lapor surat kabar itu.
Sina News mengungkap bahwa rumor telah menyebar secara online bahwa buah persik dapat 'meredakan gejala' Covid-19.
Dokter, bagaimanapun, membantah hal tersebut, dengan beberapa muncul di media terkemuka CCTV, memperingatkan orang-orang untuk tidak mengonsumsi vitamin C secara 'berlebihan'. Beberapa bahkan memperingatkan bahwa makan buah persik secara berlebihan dapat 'memperparah batuk'.
Diprediksi, tren pengobatan lain juga akan cepat mengikuti jejak penjualan yang meningkat. Pear Video misalnya, telah mengamati lonjakan orang yang bergegas membeli air elektrolit, setelah produk dipasarkan dengan keterangan 'mampu membantu hidrasi setelah berkeringat atau demam'.
Desas-desus lain juga diungkap oleh Global Times, yang menyebut adanya rumor yang beredar secara online, menyebut 'minum alkohol dalam jumlah tinggi' dapat 'menghalau' atau 'membunuh virus'. Surat kabar itu kemudian memperingatkan warga akan bahayanya, mengatakan bahwa minum alkohol dalam jumlah banyak hanya akan berdampak buruk pada kesehatan.
Saat ini, koran-koran China telah dipenuhi dengan peringatan dokter terhadap orang yang 'secara membabi buta' membeli obat, mencampur obat, atau mengonsumsi lebih dari yang diperlukan.
Badan Pengawas Makanan dan Minuman China telah mendesak perusahaan farmasi untuk 'memastikan kualitas, keamanan, dan pasokan' terhadap pengobatan Covid-19. Mereka juga berjanji akan memperkuat pengawasan atas produksi dan peredaran produk-produk tersebut.
Otoritas pengawas pasar juga telah memperingatkan konsumen untuk tidak membeli terapi pengobatan Covid-19 yang disebut-sebut secara online, kecuali produk telah jelas memiliki kualifikasi medis yang tepat. Saran turut diberikan kepada masyarakat agar membeli produk melalui toko tepercaya, dan tidak membeli 'obat palsu'.
Outlet-outlet berita juga telah menekankan bahwa pemerintah telah mengatur 'alat kesehatan' guna memastikan pasien yang sangat rentan tidak makin buruk kondisinya.
China Daily melaporkan bahwa penduduk lanjut usia dan mereka yang menderita penyakit kronis telah menerima paket yang berisi obat-obatan, tes antigen, dan sirup tenggorokan di Kota Wuhan, episentrum awal merebaknya Covid-19.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 2Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK



