Seluas Pulau Madura, Gunung Es Terbesar di Dunia Pecah dan Hanyut di Lautan Antartika

AKURAT.CO, Bongkahan es raksasa, yang ukurannya hampir setara dengan Pulau Madura atau Pulau Bali, dilaporkan telah pecah dan hanyut di lautan Antartika.
Melansir Scientific American, gumpalan es raksasa itu kini dikatakan telah mengambang bebas di Laut Weddell, sebuah teluk besar di Antartika barat tempat penjelajah Ernest Shackleton pernah kehilangan kapalnya, Endurance.
Bongkahan es berbentuk jari yang kini hanyut di lautan itu diberi nama A-76, dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di dunia.
Iceberg A-76 calves from the western side of the Ronne Ice Shelf in the Weddell Sea and is currently the largest iceberg in the world. pic.twitter.com/Z0JrF85yKV
— U.S. National Ice Center (@usnatice) May 14, 2021
A-76 dilaporkan memiliki panjang sekitar 170 km, dan lebar menyentuh 120 km. Jika dihitung, luasnya mencapai 1.667 mil persegi atau setara dengan 4.320 kilometer persegi. Sementara, diketahui, Pulau Madura membentang dengan luas mencapai kurang lebih 5.168 km persegi. Ini sedikit lebih besar daripada Pulau Bali yang memiliki luas 5.780 km persegi, seperti dilansir dari Wikipedia.
Sebelum hanyut, A-76 telah dipantau oleh para ilmuwan sejak 13 Mei lalu. Ketika itu, A-76 sudah mulai terpisah dari Rak Es Ronne, rak es Antartika yang berbatasan dengan Laut Weddell.
Pemisahan A-76 awalnya diungkap oleh oleh British Antarctic Survey (BAS) dan citra 'calving', istilah yang digunakan saat gunung es pecah dan dikonfirmasi menggunakan gambar dari satelit Copernicus.
Citra A-76 itu kemudian ditangkap oleh Copernicus Sentinel dari Uni Eropa, konstelasi dua satelit yang mengorbit kutub Bumi. Dari pengamatan itulah, A-76 dikatakan memisah secara perlahan-lahan dalam beberapa hari terakhir ini.
Namun, karena lapisan es tempat terbentuknya gunung es ini sudah mengapung di atas air, kejadian tersebut tidak akan berdampak langsung pada permukaan laut.
Kendati demikian, rak es membantu memperlambat aliran gletser dan aliran es ke laut. Jadi secara tidak langsung, hilangnya sebagian lapisan es pada akhirnya berkontribusi pada naiknya air laut, menurut National Snow and Ice Data Center (NSIDC).
Para ilmuwan tidak berpikir bahwa perubahan iklim yang disebabkan manusia yang melahirkan bongkahan A-76. Begitu pula dengan pendahulunya, A-74.
Dan sebaliknya, ilmuwan percaya A-76 atau A-74 adalah bagian dari siklus alami pembentukan gunung es di wilayah tersebut.
Karena inilah, setelah mencair, gunung es baru tidak akan menyebabkan kenaikan permukaan laut lantaran itu adalah bagian dari lapisan es terapung. Ini sama seperti ketika es batu mencair, tetapi tidak akan meningkatkan kadar minuman di gelas Anda.
"A76 dan A74 hanyalah bagian dari siklus alami di rak es yang tidak menghasilkan sesuatu yang besar selama beberapa dekade. Penting untuk memantau frekuensi semua proses gunung es," tulis Laura Gerrish, seorang peneliti dari BAS di Twitter.
Kendati demikian, dengan satelit, ahli akan terus melacak A-76 seperti halnya A-68A.
Sebagai catatan, A-68A juga sempat memegang gelar sebagai gunung es terbesar di dunia. A-68A memisahkan diri dari lapisan es Antartika pada tahun 2017, dan terlepas oleh arus laut pada tahun 2020.
Dalam prosesnya itu, A-68A nyaris bertabrakan dengan Pulau Georgia Selatan, tempat berkembang biak bagi anjing laut dan penguin.
Gunung berbahaya itu pecah menjadi lusinan bagian sebelum menyebabkan kerusakan, lapor Live Science sebelumnya.
Suhu permukaan rata-rata bumi telah naik satu derajat Celcius sejak abad ke-19, cukup untuk meningkatkan intensitas kekeringan, gelombang panas, dan siklon tropis.
Kini, udara di atas Antartika juga telah menghangat lebih dari dua kali lipatnya, seperti dilaporkan oleh Phys.org.
NSIDC juga menjelaskan bahwa benua Antartika, yang memanas lebih cepat daripada bagian planet lainnya, menampung cukup air beku untuk menaikkan permukaan laut global hingga 200 kaki (60 meter). []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





