Data Sensus Ekonomi 2026 Jadi Acuan Utama Pemprov Jakarta Susun Kebijakan

AKURAT.CO Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menegaskan hasil Sensus Ekonomi 2026 akan menjadi landasan utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta dalam menyusun berbagai kebijakan pembangunan.
Menurut dia, data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi referensi paling penting untuk memastikan setiap kebijakan diambil berdasarkan pendekatan teknokratis.
"Bagi saya, data ini adalah referensi yang paling utama untuk mengambil keputusan secara teknokrasi. Maka hampir semua data BPS dalam rapat-rapat di Balai Kota selalu digunakan untuk menjadi referensi di dalam pengambilan keputusan," kata Pramono, saat menghadiri Deklarasi Sensus Ekonomi 2026 Provinsi Jakarta di Balai Kota Jakarta, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: Gelar Sensus Ekonomi 2026, BPS Fokus Data Pelaku Usaha hingga Rumah Tangga
Dia mengatakan, data statistik tidak hanya digunakan untuk menyusun kebijakan pembangunan, tetapi juga menjadi dasar pembahasan berbagai program strategis, termasuk penyaluran bantuan sosial yang hingga kini masih menjadi pembahasan di lingkungan Pemprov Jakarta.
"Termasuk data-data yang kadang memusingkan, yang berkaitan untuk bansos. Perdebatannya masih panjang di Balai Kota terkait desil," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Pramono juga menyoroti hasil survei BPS yang menunjukkan penurunan signifikan jumlah rukun warga (RW) kumuh di Jakarta. Berdasarkan data tersebut, jumlah RW kumuh berkurang dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026.
Seluruh data yang dihasilkan BPS harus disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai dasar evaluasi dan perbaikan kebijakan. Menurutnya, kondisi riil di lapangan harus diungkap apa adanya tanpa ditutupi.
"Jangan tertutup, lebih baik disampaikan. Susah ya susah, senang ya senang, kaya ya kaya, miskin ya miskin gitu," ucapnya.
Selain itu, dia juga menyinggung masih adanya masyarakat yang tidak memberikan informasi sesuai kondisi sebenarnya saat pendataan berlangsung. Karena itu, Pramono mengingatkan pentingnya kejujuran agar data yang dihasilkan akurat dan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan yang tepat sasaran.
"Biasanya orang kita ini kalau kaya ngaku miskin. Tapi intinya adalah data ini betul-betul kita gunakan untuk referensi membangun Jakarta," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T






