Kasus Siswa Tewas di Bandung Barat Jadi Alarm Pencegahan Kekerasan Pelajar

AKURAT.CO Komisi X DPR RI menyoroti kasus tewasnya seorang siswa SMP di kawasan eks wisata Kampung Gajah, Bandung Barat, Jawa Barat.
Peristiwa tersebut dinilai menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan dalam upaya pencegahan kekerasan di kalangan pelajar.
Korban diketahui merupakan siswa kelas VII SMP di Kota Bandung berusia 14 tahun yang sebelumnya dilaporkan hilang.
Ia kemudian ditemukan tewas di area semak-semak kawasan eks Kampung Gajah.
Aparat kepolisian telah menangkap dua remaja yang masih berstatus pelajar sebagai terduga pelaku.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter di sekolah sebagai langkah preventif.
“Dunia pendidikan kita ini semakin kita benahi, tetapi muncul lagi kasus-kasus baru. Oleh sebab itu, antisipasi harus dilakukan, salah satunya melalui penguatan pendidikan karakter,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Menurut Lalu, pendidikan karakter telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan nasional dan diperkuat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Baca Juga: Bursa Transfer: Persib Bandung Dikabarkan Dekati Kiper Telstar Putra Ronald Koeman
Upaya tersebut bertujuan mencegah kekerasan di lingkungan sekolah, baik verbal, fisik, maupun seksual.
Ia menilai fenomena kekerasan di kalangan pelajar ibarat gunung es yang memerlukan penanganan komprehensif.
“Ini ibarat mati satu tumbuh seribu. Nah, ini yang harus kita antisipasi bersama,” katanya.
Komisi X, lanjut dia, telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk memperkuat langkah preventif, termasuk optimalisasi satuan tugas di sekolah.
Menurutnya, regulasi yang ada sebenarnya sudah cukup memadai, namun sosialisasi dan implementasinya di lapangan masih perlu diperkuat.
Selain itu, Lalu menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak.
Ia menegaskan pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah.
“Tidak bisa dibebankan kepada sekolah saja. Peran orang tua sangat penting untuk mengontrol pergaulan putra-putrinya,” tegasnya.
Ia menambahkan, upaya pencegahan harus dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan sekolah, keluarga, dan pemerintah agar kasus serupa tidak kembali terulang.
Baca Juga: Persib Bandung Geser Latihan ke Malam Hari Selama Ramadan, Bojan Hodak Tetap Jaga Intensitas
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat








