Permintaan Meledak, Petani Manggarai Kewalahan Penuhi Kebutuhan Dapur MBG

AKURAT.CO Petani di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengaku kewalahan memenuhi lonjakan permintaan pasar dari dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Gili Jenadi, petani asal Kelurahan Bangka Leda, Kecamatan Langke Rembong, mengaku baru kali ini merasakan permintaan hasil pertanian yang begitu tinggi hingga tak mampu dipenuhi sepenuhnya.
“Permintaannya banyak, petani tidak memenuhi,” ujar Gili saat ditemui, dikutip Minggu (22/2/2026).
Meski kewalahan, Gili bersyukur hasil tanamannya kini terserap maksimal. Untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG, ia mulai menanam berbagai komoditas hortikultura sesuai permintaan.
Awalnya, ia menanam buncis dan seluruh hasil panennya langsung diborong untuk kebutuhan MBG.
“Tahun 2025 kemarin, saya punya buncis kurang lebih 3.000 pohon. Terjual habis untuk program MBG,” katanya.
Tak hanya buncis, Gili juga menanam tomat dan cabai keriting. Bahkan untuk jangka panjang, ia mulai menyiapkan brokoli guna memenuhi kebutuhan tahunan dapur MBG.
Lonjakan permintaan tersebut membuatnya semakin percaya diri memperluas jenis tanamannya.
“Berani menanam wortel, sebelumnya saya tidak berani. Kebutuhan wortel sangat tinggi sekali untuk MBG,” jelasnya.
Gili berharap program MBG terus berlanjut karena selain meningkatkan asupan gizi, khususnya bagi siswa sekolah, program ini juga membawa dampak ekonomi signifikan bagi petani lokal.
Baca Juga: Impor Pikap dari India untuk Kopdes Merah Putih Jangan Sampai Matikan Industri Nasional
Harga Mentimun Naik 10 Kali Lipat
Pengalaman serupa dirasakan Mikael Jehudu, Ketua Kelompok Tani Harapan Baru, Kelurahan Wali. Ia mengaku berani memperluas tanamannya karena permintaan dari dapur MBG terus meningkat.
Komoditas andalannya antara lain daun bawang, terung, dan mentimun. Khusus mentimun, ia merasakan lonjakan harga yang signifikan.
Sebelum ada program MBG, mentimun jenis baru yang ia tanam hanya dihargai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram di pasar umum.
“Kalau di pasar umum beberapa bulan lalu, besar-besar begini saya punya, hanya seribu,” kenangnya.
Kini, harga mentimunnya melonjak hingga Rp10.000 bahkan Rp12.000 per kilogram karena seluruh hasil panen diserap dapur MBG.
“Jadinya per kilogram Rp10 ribu, bahkan Rp12 ribu,” ujarnya.
Lonjakan harga dan kepastian pasar tersebut dinilai menjadi angin segar bagi petani di Manggarai.
Program MBG tak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi desa secara langsung.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 6Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 7Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat







