Klub Rugi, Investor Merasa Terancam: Suporter Sepakbola Indonesia Mau Diapakan ?

AKURAT.CO, Fenomena kerusuhan suporter kembali menjadi sorotan besar dalam sepakbola Indonesia. Mulai dari aksi turun ke lapangan, penyalaan flare, hingga perusakan fasilitas stadion terus berulang dan berujung pada hukuman berat dari Komisi Disiplin PSSI.
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah hukuman yang selama ini diberikan benar-benar efektif?
Pengamat sepakbola, Doni Setiabudi, menilai hukuman yang dijatuhkan sejatinya sudah cukup berat dan sangat merugikan klub.
Namun, di sisi lain, perilaku oknum suporter masih terus berulang sehingga diperlukan langkah yang lebih tegas dan modern dalam pengelolaan pertandingan.
Sejumlah kasus dalam beberapa musim terakhir menunjukkan dampak kerusuhan suporter bukan hanya merugikan klub secara moral, tetapi juga secara finansial.
Persela Lamongan misalnya, sempat dihukum larangan bermain tanpa penonton selama satu musim akibat kerusuhan suporter.
Hukuman itu menjadi pukulan besar bagi klub karena kehilangan pemasukan pertandingan dan berdampak terhadap kondisi finansial tim hingga membuat sejumlah investor memilih mundur.
Terbaru, Persipura Jayapura juga menerima hukuman larangan bermain tanpa penonton selama satu musim.
Situasi tersebut membuat klub berjuluk Mutiara Hitam harus mengeluarkan biaya operasional lebih besar, terutama untuk kebutuhan akomodasi dan transportasi tim, sementara pemasukan dari penjualan tiket dan kehadiran suporter praktis hilang.
Belum selesai sampai di situ, kasus terbaru kembali terjadi saat laga PSM Makassar kontra Persib Bandung. Ulah oknum suporter yang masuk ke dalam lapangan kembali membuat klub berada dalam posisi dirugikan dan terancam sanksi tambahan.
"Kalau saya berkaca dari beberapa pertandingan terakhir yang memang sering terjadi kerusuhan atau suporter masuk ke lapangan, sebenarnya hukuman itu cukup terasa," ujar Doni saat dihubungi, Selasa (19/5/2026).
"Contohnya Persib Bandung yang kena denda AFC sampai Rp3,5 miliar dan larangan didampingi penonton beberapa pertandingan. Itu jelas berat dan sangat merugikan klub."
Menurut pria yang akrab disapa Kang Jalu itu, efektivitas hukuman harus dilihat dari dua sisi. Pertama, Komdis PSSI harus benar-benar tegas dan konsisten menjalankan regulasi tanpa pandang bulu.
"Kalau regulasinya mengatakan pelanggaran tertentu hukumannya sekian, ya harus diterapkan seperti itu. Jangan sampai sanksi muncul berdasarkan persepsi atau suka tidak suka terhadap klub tertentu,” kata Doni.
Namun, Doni juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar, yakni budaya suporter di Indonesia yang dinilai masih belum siap menerima kekalahan.
Dalam sepakbola cuma ada tiga hasil, menang, kalah, atau seri. Namun, budaya menerima kekalahan suporter Indonesia masih rendah. Makanya, kata Doni, edukasi kepada suporter itu penting.
Doni menilai kerusuhan yang terjadi sejatinya bukan hanya merugikan klub secara finansial, tetapi juga merusak atmosfer pertandingan dan membuat penonton lain merasa tidak nyaman.
“Walaupun mereka bilang cinta klub, tapi kalau tindakannya merugikan klub, ya sebenarnya kita tidak butuh suporter seperti itu,” tegasnya.
Ia juga menilai hukuman larangan suporter hadir di stadion sudah mulai kehilangan efektivitas. Makanya, kata Doni, harus ada sistem pendataan yang lebih baik.
Doni bahkan mendorong penggunaan teknologi face recognition seperti yang sudah diterapkan di sejumlah liga luar negeri. Menurutnya, teknologi tersebut dapat membantu mengidentifikasi pelaku kerusuhan agar tidak bisa kembali masuk stadion.
“Kalau memang mau ada efek jera, pelaku kerusuhan harus bertanggung jawab langsung. Jangan cuma klub yang dihukum. Kalau perlu dikaitkan juga dengan pidana,” katanya.
Selain itu, Doni menilai klub juga harus lebih aktif membangun komunikasi dengan komunitas suporter. Salah satunya dengan membuat forum rutin atau sarasehan agar suporter memahami kondisi finansial klub.
“Misalnya dijelaskan bahwa pemasukan klub banyak habis karena denda akibat pelanggaran suporter. Kalau stadion aman dan sponsor masuk lebih banyak, efeknya tiket bisa lebih murah dan fasilitas lebih baik."
"Jadi suporter juga harus sadar bahwa menjaga keamanan stadion itu menguntungkan mereka sendiri,” ucapnya.
Senada dengan Doni, Chief Executive Officer Deltras FC Sidoarjo, Amir Burhanuddin, menilai akar utama persoalan tetap berada pada perilaku suporter yang harus berubah.
“Perilaku suporter yang harus berubah, jangan semaunya sendiri. Sepakbola itu harus siap menang dan kalah. Jujur saja, makin ke sini perilaku suporter makin meresahkan publik dan pengelola klub,” ujar Amir.
Menurut Amir, keputusan Komdis PSSI sebenarnya sudah sesuai aturan yang berlaku. Namun, ia mengakui klub tetap menjadi pihak yang paling dirugikan akibat ulah oknum suporter.
“Putusan Komdis PSSI sebenarnya sudah sesuai ketentuan, meski tetap klub yang sejatinya dirugikan,” katanya.
Amir juga menilai edukasi dan sosialisasi kepada suporter sebenarnya sudah sering dilakukan. Namun, perubahan perilaku belum sepenuhnya terjadi.
“Mau formula apa pun kalau perilaku suporter kita tidak berubah ya susah. Edukasi dan sosialisasi menurut kami sudah tidak kurang-kurang,” ungkapnya.
Ia pun menegaskan aparat keamanan kini tidak lagi mentoleransi tindakan melanggar hukum di stadion.
"Mereka harus disamakan dengan masyarakat umum. Kalau melanggar ya ditindak,” tegas Amir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








