Akurat

Piala Presiden 2025: Festival Pramusim di Tahun Paling Bersejarah dan Refleksi Satu Dekade

Badri | 15 Juli 2025, 15:14 WIB
Piala Presiden 2025: Festival Pramusim di Tahun Paling Bersejarah dan Refleksi Satu Dekade

AKURAT.CO, Betapapun sederhananya publik Stadion Si Jalak Harupat pada pertandingan final Piala Presiden 2025 antara Oxford United dan Port FC, mereka jelas tidak buta soal kualitas tim yang sedang mereka saksikan.

Dibolongan,” kata salah seorang penonton yang duduk di belakang saya di salah satu sisi tribun barat mengomentari aksi salah satu pemain Port FC saat melakukan nutmeg alias mengalirkan bola melalui kolong kaki salah seorang pemain Oxford United di awal-awal laga dalam bahasa Sunda.

Suasana di tribun cukup punya ekspektasi dengan pertandingan final di salah satu stadion utama Jawa Barat yang terletak di Soreang, Kabupaten Bandung, Minggu (13/7) itu.

Diwarnai dengan cuaca gerimis, baik Oxford United dan Port FC menunjukkan permainan yang terorganisir dengan taktik yang bisa dicerna oleh penonton di tribun. Kemudian dimantapkan dengan gol pembuka yang dicetak penyerang Oxford United, Thomas Harris, di menit kedelapan.

Baca Juga: Kalahkan Oxford United dengan 10 Pemain, Port FC Juara Piala Presiden!

Sampai akhir-akhir babak pertama, Oxford tampil dengan permainan ala Eropa yang rapi. Namun, Teerasak Phoeipimai melepaskan bola gantung yang brilian untuk membuat pertandingan menjadi 1-1.

Empat puluh lima menit pertama berjalan sempurna untuk final Piala Presiden 2025. Namun, hujan makin deras di awal babak kedua dan dalam situasi itu Port FC membalikkan keadaan melalui aksi individu Brayan Perea di menit ke-48.

Sampai akhirnya Pelatih Oxford United, Gary Rowett, memanggil para pemainnya untuk meninggalkan lapangan di tengah insiden pelanggaran yang berujung kartu merah yang dilakukan bek Port FC, Tanaboon Kesarat, lima menit setelah peluit sepakmula babak kedua ditiupkan.

Rowett tampaknya tak mau ambil risiko dan genangan air di lapangan tak lagi bisa ditolerir. Pertandingan berhenti, tak lama kemudian hujan tiba-tiba berhenti, petugas masuk ke lapangan untuk meminimalisir genangan, dan pertandingan dilanjutkan.

Yang terbaik dari fakta-fakta tersebut adalah sungguhpun Gary Rowett berinisiatif meminta pemainnya tak melanjutkan permainan di tengah hujan, para pemain Oxford United tak kehilangan gairah: mereka ingin melanjutkan pertandingan.

Intensitas pertandingan tak berkurang dan Port FC sukses mempertahankan keunggulan sekaligus membawa pulang trofi Piala Presiden ke Bangkok, Thailand.

Istimewanya lagi, kemenangan mereka disaksikan langsung oleh Presiden Federasi Sepakbola Thailand yang juga eks bos mereka, Nualphan “Madam Pang” Langsam, yang berada di tribun Si Jalak Harupat.

Gerbang Sepakbola Nasional ke Dunia Internasional

Gambaran singkat tentang final Piala Presiden 2025 pada Minggu malam yang basah tersebut perlu disajikan sejak awal mengingat turnamen pramusim ini memiliki signifikansi yang semakin bermakna dari tahun ke tahun.

Sebagai pengingat, Piala Presiden 2025 menandai satu dekade sejak pertama kali digelar pada 2015 sebagai turnamen pengisi kekosongan di tengah pembekuan PSSI oleh FIFA.

Sepuluh tahun berlalu dan Piala Presiden berlangsung selama tujuh kali dan untuk kali pertamanya pada edisi 2025 mendatangkan tim dari luar Indonesia. Yakni Oxford United dari Inggris dan Port FC dari Thailand.

Dengan kata lain, satu dekade Piala Presiden ditandai dengan naiknya level turnamen pramusim dengan mendatangkan tim luar Indonesia dengan level yang meyakinkan.

Port FC adalah tim lima besar Liga Primer Thai sementara Oxford United adalah tim Championship alias kasta kedua sepakbola Inggris. Port adalah tim yang dihuni pemain Tim Nasional Thailand sementara Oxford memiliki pemain Tim Nasional Indonesia di skuadnya.

Memilih Port dan Oxford sebagai dua tim asing pertama di Piala Presiden dengan sendirinya mengisyaratkan bahwa reputasi sepakbola nasional cukup diperhitungkan.

Tidak sulit untuk menduga bahwa posisi Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, sebagai salah satu pemilik saham Oxford dan persahabatannya dengan Madam Pang melancarkan jalan untuk membawa dua tim tamu itu ke Indonesia.

Lebih dari itu, jelaslah karena Oxford United dan Port FC memiliki pemain Tim Nasional Indonesia. Di Oxford United ada Ole Romeny dan Marselino Ferdinan sedangkan di Port FC ada Asnawi Mangkualam Bahar.

Baca Juga: Piala Presiden: Kalahkan Indonesia All Star, Dewa United Juara 3 Plus Hadiah Rp2 Miliar

“Yang menarik di sini kita juga mengundang untuk memberi apresiasi ketika ada beberapa klub internasional yang bisa juga membantu mengembangkan kualitas pemain Timnas kita,” kata Erick saat peluncuran Piala Presiden di Jakarta, Jumat (13/6).

Di sisi lain, baik Oxford dan Port FC terkesan dengan Piala Presiden sebagai turnamen pramusim. Pelatih Port, Alexandre Gama, misalnya, merasa bahwa level kompetisi di Piala Presiden terasa seperti bukan pramusim.

“Kami gembira karena seperti yang sudah saya katakan pada Anda bahwa ini (Piala Presiden) adalah salah satu kompetisi yang sangat kuat, levelnya sangat tinggi, dan saya berharap kami diundang lagi untuk datang,” kata Alexandre Gama dalam sesi konferensi pers usai laga final.

“Karena ini adalah sebuah kompetisi yang bagus dan saya kira kami layak menjadi juara.”

Akan halnya Oxford FC yang datang dari Eropa yang dingin ke kelembaban tropis Indonesia mengaku mendapatkan pengalaman yang unik soal adaptasi iklim. Juga karena atmosfer penonton yang hangat meski sebatas turnamen pramusim.

“Anda bisa melihatnya di pertandingan ini bahwasannya Port FC jauh lebih terbiasa dengan hal ini (cuaca dan suhu). Saya pikir secara keseluruhan ini adalah pengalaman yang berharga,” kata Gary Rowett.

“Secara keseluruhan, Anda bisa melihat anak-anak di Indonesia bisa berselebrasi dengan pemain. Lalu, penonton di turnamen ini selama dua pekan. Ini adalah pengalaman yang berharga dari aspek kami. Para fans juga sangat brilian, Jadi, banyak hal positif yang kami bawa pulang.”

Komentar-komentar para pelatih asing ini sejatinya adalah modal untuk menjadikan Piala Presiden sebagai “gerbang” kepada dunia internasional untuk melihat bagaimana sepakbola Indonesia secara menyeluruh.

Dalam kapasitasnya sebagai turnamen pramusim yang didukung penuh oleh Pemerintah dan PSSI, maka sudah waktunya untuk memperlakukan Piala Presiden sebagai “tradisi” dan perhelatan ikonik yang kelak bisa mengundang tim-tim yang lebih mentereng lagi di masa depan.

Ya, doakanlah semoga tahun-tahun ke depan kita bisa meningkatkan klub-klub asing yang datang ya,” kata Ketua Steering Committee Piala Presiden 2025, Maruarar Sirait, di Si Jalak Harupat sehari sebelum final.

“Saya doakan suatu saat juga kita bisa (mendatangkan tim-tim asing). Ini pertamakali ada dari Inggris sama Thailand datang. Mereka dua-duanya masuk final, jadi kita mau buat sejarah yang baik.”

Keseimbangan Hiburan dan Permainan

Namun, karena posisinya sebagai gerbang untuk dunia internasional, maka demi kemajuan, kita harus apa adanya dengan realita. Yang paling tampak dalam sepekan perhelatan Piala Presiden adalah soal kualitas rumput lapangan.

Aspek ini mencapai klimaksnya pada menggenangnya air di lapangan Si Jalak Harupat ketika hujan turun deras di pertandingan final. Ke depan, sudah waktunya Piala Presiden lebih rinci untuk urusan yang sangat berhubungan dengan kesepakbolaan ini.

Ini menjadi penting untuk menyeimbangkan penyelenggaraan Piala Presiden yang kecenderungannya hendak dikemas sebagai perhelatan yang lebih “menghibur”.

Mendatangkan penyanyi seperti Edo Kondologit, Isyana Sarasvati, serta pertunjukan tari-tarian tradisional adalah upaya menuju ke sana. Juga pertunjukan yang lebih berbau teknologi dengan 4.200 drone yang menyajikan citra peta Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto.

Dengan penghargaan yang sudah meningkat dengan angka Rp5,5 miliar untuk juara dan Rp3,5 miliar untuk runner-up plus semua peserta mendapatkan hadiah, tidak ada salahnya Piala Presiden juga berinvestasi untuk meningkatkan kualitas lapangan jika hendak mengundang tim-tim kelas dunia di masa depan.

Selain untuk mendapatkan kualitas permainan, juga untuk melindungi pemain dari kondisi cedera akibat kondisi lapangan yang membuat laju bola tak sebagaimana mestinya.

“Begitu hujan turun sangat deras, dan itu membuat kami jauh lebih khawatir tentang kondisi dan keamanan para pemain kami daripada hasilnya (pertandingan),” kata Gary Rowett.

Pramusim di Tahun Paling Bersejarah

Aspek di luar turnamen yang membuat Piala Presiden 2025 menjadi istimewa adalah perhelatan ini digelar di tahun paling krusial dalam sejarah sepakbola Indonesia. Tak lain karena digelar ketika Indonesia sedang dalam posisi mengejar tiket pertama lolos ke Piala Dunia.

Maka di sela-sela kejuaraan, sejumlah klub Liga 1–kini disebut Super League–kedatangan gelombang pemain asing dan juga pemain keturunan Timnas Indonesia. Yang sudah resmi adalah Jordi Amat ke Persija Jakarta dan Rafael Struick yang hampir pasti ke Dewa United.

Sejumlah klub juga berbenah dengan mendatangkan sejumlah pelatih asing dan situasi bergairah ini mengisyaratkan bahwa setahun ke depan merupakan tahun yang penting untuk sepakbola nasional.

Oleh sebab itu, Piala Presiden 2025 tak lagi sekadar sebatas festival pramusim. Karena bagi tim peserta, Piala Presiden telah menjadi peluang untuk mengondisikan pemain agar bisa memulai musim baru dengan lebih matang.

Pelatih Dewa United, Jan Olde Riekerink, adalah salah satu yang melihat Piala Presiden sebagai sebuah keuntungan. Ia berkaca pada pengalamannya awal musim lalu di mana Dewa United tidak dalam level perlawanan yang sama ketika menghadapi Arema FC yang merupakan juara Piala Presiden.

“Yang pertama, saya kira seperti tahun lalu, kami tidak punya pertandingan (Piala Presiden. Saya ingat di pertandingan pertama (melawan) Arena. Dan Arema bermain di Piala Presiden,” kata Jan Olde Riekerink.

Baca Juga: Tampil Spartan Hingga Cedera, Ole Romeny Tunjukkan Sikap Profesional di Piala Presiden 2025

“Dan mereka dengan cepat, Anda lihat mereka sudah terbiasa melakukan perlawanan yang lebih tinggi. Jadi jika Anda ingin bersiap menyongsong musim, penting bagi Anda untuk bermain di pertandingan dengan intensitas tinggi.

“Jadi, saya kira sangat penting untuk membuat tim berkembang, juga secara fisik. Itu sebabnya saya kira ini (Piala Presiden) penting.”

Enam tim, delapan pertandingan dalam tujuh hari, dan puluhan ribu jumlah penonton yang diakui oleh Pelatih Oxford United tak akan mereka dapatkan jika mereka memainkan pramusim di Inggris adalah kronik yang membuat Piala Presiden Piala 2025 berbeda dari Piala-Piala Presiden sebelumnya.

Sebagai pembuka musim, Piala Presiden boleh menjadi semacam uji coba untuk menunjukkan kesiapan dan kualitas sepakbola nasional Indonesia untuk setahun ke depan. Tidak hanya kepada publik dalam negeri, namun juga ke dunia internasional.

Last but not least, keamanan dan kenyamanan turnamen relatif cukup terjaga di Piala Presiden tahun ini. Bandung sebagai venue utama juga melakukan tugasnya dengan baik sejalan mereka masih belum lepas dari euforia Persib menjuarai Liga 1 edisi terakhir.

“Makanya enggak salah Bandung jadi tuan rumah, itu enggak salah. Karena menurut saya (Bandung) jadi tuan rumah yang sangat baik. Bayangin, walaupun (Persib) belum berhasil (juara Piala Presiden), tapi aman, lancar. Semuanya happy,” kata Maruara Sirait.

“Saya pikir ini adalah contoh bagaimana tuan rumah yang baik. Walaupun belum berhasil, tapi sportif ya. Ramah. Saya pikir, saya harus katakan buat Persib Bandung, thank you berat, hatur nuhun.”

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H