Akurat

Hasrat Prabowo Ingin Jadi Ayah Garuda, Kemilau Rolex, dan Ambisi Erick Thohir

Badri | 7 Juni 2025, 09:05 WIB
Hasrat Prabowo Ingin Jadi Ayah Garuda, Kemilau Rolex, dan Ambisi Erick Thohir

AKURAT.CO, Drama kemenangan Tim Nasional Indonesia atas China di laga kesembilan Grup C Putaran Ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 agaknya tak selesai dengan perayaan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) saja.

Akhir yang bahagia itu ternyata berbuntut panjang dan klimaksnya boleh jadi terbaca pada sebuah video yang diunggah oleh salah satu pemain bertahan Tim Nasional Indonesia, Justin Hubner, di akun Instagramnya.

Video tersebut menunjukkan momen ketika para pemain Timnas Indonesia sedang bersama-sama membuka sebuah kotak yang berisi jam tangan merk Rolex di dalam sebuah bus. Disertai dengan respons suara “ooooo” dengan nada terkesan mendapatkan barang dalam kategori mewah.

Baca Juga: Prabowo Jamu Timnas Indonesia Makan Siang di Rumah Pribadinya, Apresiasi Kemenangan Lawan China

Harga jam tangan Rolex itu sendiri, jika Anda mengecek langsung di laman resminya, yang termurah adalah Rp95.161.000. Dari situ bisa dibayangkan berapa harga termahal untuk jam tangan buatan Swiss ini.

Yang paling signifikan dari video tersebut bukan saja jam tangan dan ungkapan “oooo” tersebut, tetapi dari mana para pesepakbola tersebut mendapatkan benda jenis Rolex tersebut.

Adalah Presiden Prabowo Subianto yang konon memberikan jam tangan tersebut kepada penggawa Garuda. “Konon” harus digunakan di sini karena tidak ada pernyataan resmi atau langsung yang menyebutkan bahwa Prabowo adalah yang berbaik hati pada aksi itu.

Publik tahu bahwa jam Rolex itu adalah pemberian sang Presiden karena para pemain yang berada di bus tersebut sedang berada dalam perjalanan pulang dari jamuan makan siang di rumah pribadi Prabowo di Jalan Kertanegara V, Kebayoran, Baru, Jakarta, Selatan, Jumat (6/5).

Dan seandainya pemberian di Hari Raya Idul Adha itu “dirahasiakan” maka signifikansinya bisa menjadi tidak ada karena pemberian bonus dengan barang-barang mewah adalah hal biasa dalam sepakbola.

Peristiwa ini menjadi signifikan karena ia terbuka untuk umum dan yang lebih penting lagi, diberikan oleh seorang kepala negara.

Antara Ritz Carlton dan Istana Negara

Pun begitu, bagi publik yang terbiasa mengamati sepakbola nasional, permainan tanda dalam urusan Rolex ini menjadi klimaks karena gejalanya sudah bisa terlihat dua hari sebelumnya.

Yakni ketika Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dipanggil mendadak oleh Prabowo ke Istana Negara ketika sang ketua umum selesai berpidato di Kongres Biasa organisasinya di Hotel Ritz Carlton, Jakarta.

Sedianya selepas pidato laporan pada Rabu (3/6) siang itu kongres akan dilanjutkan dengan sejumlah pembahasan agenda. Namun ditunda sampai sekitar pukul 16.00 WIB karena Erick Thohir harus memenuhi panggilan Presiden ke Medan Merdeka.

Di masa-masa ketika Erick menghadap Prabowo sejumlah spekulasi bisa muncul. Misalnya, apakah ada urusan negara yang genting sehingga memaksa Erick yang juga anggota kabinet dengan posisi Menteri BUMN itu harus bertemu dengan Prabowo?

Atau yang berpikir negatif bisa berspekulasi bahwa Prabowo sengaja memanggil Erick di tengah-tengah Kongres untuk mendapatkan perhatian publik sepakbola. Tidak adakah waktu lain untuk memanggil menterinya jika bukan karena soal yang genting?

Erick kembali ke Ritz Carlton menjelang maghrib dan pada saat bersamaan ia menyampaikan bahwa PSSI meminta Prabowo untuk menjadi Dewan Kehormatan PSSI. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Kongres dan posisi Prabowo sebagai Dewan Kehormatan dimasukkan ke dalam Statuta PSSI.

Baca Juga: Prabowo Subianto Sah Jadi Dewan Kehormatan PSSI, Masuk dalam Statuta

Pada saat yang sama, Erick juga menyampaikan bahwa Prabowo kemungkinan hadir menyaksikan secara langsung pertandingan Timnas Indonesia melawan China di GBK keesokan malamnya. Namun, kata Erick, jika Prabowo punya waktu.

“Cuman kan tentu kesibukannya beliau, tentu yang memutuskan (datang atau tidak), ya beliau,” kata Erick Thohir.

Skenario berjalan sesuai keinginan Erick di mana Prabowo esok malamnya duduk di tribun biasa tempat presiden-presiden sebelumnya menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia di GBK.

Laga diakhiri dengan kemenangan 1-0 Indonesia atas China dan beberapa jam kemudian selepas Bahrain dikalahkan Arab Saudi maka Garuda lolos ke putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 yang merupakan sejarah baru bagi sepakbola nasional.

Usai laga, Prabowo, sebagaimana yang pernah dilakukan pendahulunya, Jokowi, turun ke lapangan menyalami para pemain dan staf kepelatihan Timnas Indonesia untuk mengucapkan selamat.

Yang sudah-sudah biasanya rangkaian kejadian yang berhubungan dengan momen-momen Timnas Indonesia ini selesai sampai di situ saja. Namun tidak kali ini karena keesokan harinya Prabowo mengundang Timnas Indonesia ke rumahnya di Kebayoran Baru.

Déjà vu Piala AFF 2010

Lebih dari setahun Pilpres 2024 berlalu di mana Prabowo Subianto adalah pemenangnya. Dan sulit menghindari kesan bahwa sepakbola memainkan peranan penting dalam kemenangan mantan Komandan Jenderal Koppasus itu dalam kontestasi tersebut.

Sejumlah pihak menyadari bahwa kemenangan Prabowo juga pengaruh dari manuver salah satu pesaingnya, Ganjar Pranowo, yang kala itu menyuarakan penolakan terhadap Tim Nasional Israel U-20 yang berakibat batalnya perhelatan Piala Dunia U-20 2023 yang semestinya digelar di Indonesia pada Mei-Juni tahun itu.

Tanpa perlu berpanjang lebar soal argumen penolakan itu, yang tampak adalah Prabowo merespons tindakan Ganjar untuk mengasosiasikan diri dengan sepakbola nasional.

Pada saat yang sama, Erick Thohir yang sebelumnya sempat disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon presiden, memberikan dukungannya kepada Prabowo.

Perlu diingat, Erick adalah orang yang harus bolak-balik menemui Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meyakinkan orang nomor satu di organisasi sepakbola dunia itu untuk tak membatalkan Piala Dunia U-20.

Dengan rangkaian peristiwa ini, maka tidak sulit untuk memaknai mengapa aksi yang dilakukan Prabowo dalam tiga hari terakhir di momen di mana publik akan memusatkan perhatian pada sepakbola dan Timnas Indonesia mengandung “rasa-rasa politik”.

Tidak ada yang salah dalam peristiwa tersebut. Bagi pemain dan staf kepelatihan Tim Nasional, undangan makan siang dan hadiah jam Rolex adalah wujud bahwa Pemerintah melalui kepala negara menunjukkan kepedulian terhadap sepakbola dengan keterlibatan langsung.

Soalnya kini bukan salah dan benar. Namun, kadar dan porsi seberapa jauh tokoh politik seperti Presiden Prabowo Subianto mengambil “spotlight” pada momen-momen sepakbola yang tidak bisa tidak selalu menjadi perhatian besar publik nasional.

Publik tidak ingin pengalaman serupa terjadi sebagaimana Piala AFF 2010. Ketika itu euforia meledak saat Timnas Indonesia melaju ke final dan diundang makan siang ke rumah Ketua Umum Partai Golkar kala itu, Aburizal Bakrie.

Setelah undangan Bakrie tersebut sejarah mencatat bahwa Timnas Indonesia berakhir dengan kekalahan menyakitkan atas Malaysia di final Piala AFF tahun itu. Setelah itu situasi memburuk diikuti dengan dualisme federasi berujung dualisme kompetisi dan pembekuan oleh FIFA.

Pun, ini bukan untuk mengenang kembali masa-masa kelam tersebut. Namun, sekali lagi, perhatian Presiden terhadap Tim Nasional semestinya harus proporsional dan seimbang agar kabut politik tak terlalu mengisi atmosfer sepakbola yang sedang dalam jalur menuju Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah.

Dalam situasi ini, adalah Erick Thohir yang berambisi menjawab ekspektasi publik untuk membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia mesti berperan menavigasi untuk memisahkan urusan sepakbola dan urusan politik. Tugas ini adalah keniscayaan bagi Erick karena posisinya sendiri sebagai tokoh politik dengan jabatan menterinya Prabowo.

Dan juga atas nama keyakinannya bahwa negara seperti Indonesia masih membutuhkan Pemerintah untuk membangun sepakbola.

"Kita ini Asia, bukan Eropa yang semua independen, di sini tidak jalan. Kalau Pemerintah dan PSSI jalan seiring, insyaallah isu-isu intervensi Pemerintah ini kita bisa minimalisasi. Membangun sepakbola tidak mungkin PSSI sendiri," tegas Erick.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H