Terlalu Unggul, Pelari Wanita Afsel Tolak Aturan Pengurangan Testoteron

AKURAT.CO, Juara lari 800 meter putri Olimpiade London 2012 dan Rio De Janeiro 2016, Caster Semenya, bersiap menghadapi sidang untuk ujian jenis biologis kelaminnya. Federasi Atletik Internasional (IAAF) akan mencari tahu apakah Semenya memiliki level biologis yang menyerupai level atlet putra.
Pengacara Semenya menegaskan bahwa kliennya adalah "perempuan tulen". Ia juga menegaskan bahwa pelari pemilik rekor dunia 800 meter itu akan berjuang untuk tetap bisa berkompetisi tanpa mengalami intervensi medis dalam persidangan yang akan dijadwalkan pada pekan depan.
Keraguan tentang jenis kelamin Semenya dimulai ketika ia memecahkan rekor 800 meter secara drastis pada 2009. Kala itu, Semenya memecahkan rekor dengan unggul delapan detik pada 800 meter dan 25 detik untuk lari 1.500 meter.
Rekor ini membuat Semenya menjalani tes medis untuk melihat apakah pelari asal Afrika Selatan (Afsel) tersebut menggunakan doping. IAAF mengeluarkan permintaan untuk tes beberapa jam sebelum final 800 meter Kejuaraan Dunia 2009.
Semenya diduga memiliki kelebihan testoteron yang membuat perkembangan biologisnya cenderung seperti laki-laki (intersex). Dunia medis olahraga mengenal fenomena seperti ini dengan istilah difference in sexuals development (DSD).
Semenya tidak terkalahkan setelah Pengadilan Arbitrasi Olahraga (CAS) mengizinkan atlet dengan DSD berkompetisi pada 2015. Namun, pada 2018 IAAF mengumumkan aturan baru tentang kewajiban untuk menuruskan level testoteron dengan asumsi untuk membuat atlet bersaing setara.
"Perempuan dengan perbedaan perkembangan seksual memiliki perbedaan genetik yang tidak berbeda dengan variasi genetik lainnya harus dirayakan dalam olahraga. Ia meminta untuk dihormati dan diperlakukan sebagai atlet. Kelebihan genetiknya seharusnya dirayakan, bukan didiskriminasi," ucap pengacara Semenya sebagaimana dipetik dari The Guardian.
Sementara itu, IAAF menolak bahwa tes testoteron dilakukan karena mencurigai Semenya secara biologis adalah laki-laki. IAAF mengklaim bahwa mereka meminta atlet seperti Semenya harus menurunkan kadar testoteronnya agar ia bisa bersaing secara adil dengan kompetitor putri lainnya.
"Jika seorang atlet dengan DSD terbukti memiliki level testoteron laki-laki, mereka akan memiliki perkembangan tulang dan otot dengan ukuran dan kekuatan yang sama (dengan laki-laki) dan peningkatkan haemoglobin yang didapatkan laki-laki dalam masa pubertas mereka - yang memberikan laki-laki beberapa keuntungan ketimbang wanita," ucap IAAF.
Kontroversi ini telah memicu kritik dari sejumlah atlet dan penggiat hak asasi manusia. Salah satunya datang dari juara Olimpiade asal Amerika Serikat, Michael Johnson. Kasus ini dianggap telah melakukan aksi rasisme dan diskriminasi gender terhadap Senyema.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Menag Pimpin Salat Jenazah, Rano Karno Sampaikan Pesan Keluarga untuk Guruh Soekarnoputra
- 10Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla



