Perubahan Iklim Jadi Tantangan Baru Industri Kopi Indonesia

AKURAT.CO Pertumbuhan industri kopi Indonesia masih menunjukkan tren positif.
Namun, keberlanjutan sektor tersebut menghadapi tantangan dari perubahan iklim yang dapat berdampak langsung terhadap petani dan produksi kopi.
CEO Roemah Koffie, Felix TJ mengatakan persoalan keberlanjutan menjadi salah satu tantangan yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh perusahaan kopi.
Menurut Felix, kondisi petani serta dampak perubahan iklim terhadap produksi harus menjadi perhatian bersama karena keberlangsungan industri kopi sangat bergantung pada ekosistem tersebut.
Roemah Koffie, kata Felix, memiliki gerakan keberlanjutan yang berfokus pada pemberdayaan serta peningkatan pengetahuan petani.
Baca Juga: Merek Kopi Baru Bermunculan, Industri Bijih Kopi Indonesia Tumbuh 3-5 Persen
Upaya itu dilakukan agar petani memiliki kemampuan menghadapi perubahan iklim dan dampak pemanasan global.
“Bagaimana kita bisa memperdayakan dan bagaimana memintarkan petani yang ada untuk melawan global warming,” kata Felix di acara IdeaFest di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Felix menilai dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian sudah semakin nyata. Ia mencontohkan bencana banjir bandang yang terjadi di Sumatera dan berdampak terhadap hasil panen serta kehidupan pemasok kopi.
“Ada kejadian yang banjir bandang, itu suatu Sumatera bisa dibilang kehilangan gagal panen. Bahkan salah satu supplier saya kehilangan rumah,” ujarnya.
Menurut Felix, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan perubahan iklim tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga kehidupan masyarakat yang berada dalam rantai pasok industri kopi.
Karena itu, ia menilai keberlanjutan industri kopi membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari perusahaan, pemerintah, pelaku industri, petani hingga masyarakat.
“Meaning adalah kita harus jaga sama-sama. Kita yang harus sadar sebagai warga Indonesia untuk bisa benar-benar bergandengan tangan dari sektor apa pun untuk jaga rumah kita,” katanya.
Felix juga melihat adanya upaya kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan dalam industri kopi. Ia mencontohkan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) yang dinilainya menjalankan berbagai program untuk mengembangkan dan membangun industri kopi Indonesia.
Pemerintah, kata Felix, juga telah berupaya bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan dan merek di industri kopi.
Menurut dia, kolaborasi diperlukan untuk menjaga pertumbuhan industri sekaligus menghadapi tantangan yang muncul, termasuk persoalan keberlanjutan.
Baca Juga: Tomoro Coffee Hadirkan Master S.O.E Series Yirgacheffe Ethiopia, Bawa Spesialisasi Kopi Lebih Dekat
Di sisi lain, Felix mengatakan industri kopi Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan. Ia menyebut pertumbuhan industri kopi berada di kisaran 3-5% dan ditandai dengan bermunculannya merek-merek baru di berbagai wilayah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







