Akurat Logo

Pemerintah Dorong Kampus Cetak Pengusaha, Bukan Pencari Kerja

Andi Syafriadi | 22 Agustus 2026, 14:21 WIB
Pemerintah Dorong Kampus Cetak Pengusaha, Bukan Pencari Kerja
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman - Dok. Kementerian UMKM

AKURAT.CO Tingginya minat anak muda Indonesia untuk menjadi pengusaha belum otomatis berujung pada lahirnya lebih banyak usaha baru.

Pemerintah kini mendorong perguruan tinggi mengambil peran lebih besar untuk mengubah minat tersebut menjadi bisnis yang mampu bertahan sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman mengatakan sekitar 81% anak muda Indonesia menyatakan memiliki keinginan untuk menjadi wirausaha berdasarkan data United Nations Development Programme (UNDP) yang disampaikannya dalam orasi ilmiah di Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.

Baca Juga: QRIS Sudah Dipakai 44,86 Juta Merchant, Bank Indonesia Bidik Digitalisasi UMKM

Namun, besarnya minat tersebut masih menjadi tantangan untuk diterjemahkan menjadi jumlah pengusaha baru yang benar-benar menjalankan dan mengembangkan bisnis.

Persoalan itu menjadi semakin penting karena pasar kerja Indonesia masih menghadapi tekanan. Maman menyebut terdapat sekitar 7,2 juta pengangguran di Indonesia. Di sisi lain, sekitar 85,3 juta pekerja masih berada di sektor informal.

Menurut Maman, kondisi tersebut menunjukkan perlunya perubahan cara pandang generasi muda terhadap dunia kerja. Lulusan perguruan tinggi tidak hanya didorong untuk mencari pekerjaan, tetapi juga memiliki pilihan untuk membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.

“Masih sangat jarang yang berpikir, bagaimana caranya saya lulus cepat, setelah itu saya menjadi pencipta pekerja atau entrepreneur,” kata Maman melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta.

Ia menilai perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menjembatani minat mahasiswa dengan praktik kewirausahaan. Kampus, kata dia, dapat berfungsi sebagai laboratorium sekaligus inkubator yang membantu mahasiswa mengembangkan gagasan bisnis sejak masih menempuh pendidikan.

Dorongan tersebut tidak hanya menyangkut pelatihan kewirausahaan. Pemerintah ingin ekosistem kampus mampu menyediakan pendampingan, pengembangan model bisnis, akses pembiayaan, legalitas, sertifikasi, hingga koneksi dengan pasar.

Maman mencontohkan perjalanan pengusaha Chairul Tanjung yang mulai merintis usaha ketika masih menjadi mahasiswa. Ia mengawali aktivitas bisnis dengan menjual buku dan membuka jasa fotokopi bahan kuliah.

Baca Juga: Pemerintah Ubah Paradigma Lapas, dari Tempat Penghukuman Jadi Pusat Pembinaan dan Wirausaha

Contoh tersebut menunjukkan bahwa usaha tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Kebutuhan yang muncul di lingkungan sekitar dapat menjadi titik awal untuk membangun bisnis.

Meski demikian, pemerintah menghadapi pekerjaan rumah agar tingginya minat wirausaha tidak berhenti pada keinginan. Usaha yang lahir juga harus mampu bertahan, berkembang, dan menyerap tenaga kerja.

Karena itu, Kementerian UMKM mendorong perguruan tinggi memperkuat fungsi inkubator bisnis. Mahasiswa diharapkan tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kewirausahaan, tetapi juga memperoleh pengalaman membangun dan menguji model bisnis secara langsung.

Pemerintah juga berupaya memperluas kemudahan legalitas dan sertifikasi bagi pelaku UMKM. Sinergi pemerintah pusat dan daerah diarahkan untuk membuat proses tersebut lebih cepat dan mudah diakses oleh calon maupun pelaku usaha.

Di tengah perubahan teknologi yang cepat, Maman juga mengingatkan mahasiswa untuk mempersiapkan diri menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Menurutnya, perkembangan teknologi akan mengubah model bisnis sekaligus membuka jenis pekerjaan dan peluang usaha baru yang sebelumnya belum tersedia.

“Artinya, tantangan kita ke depan tidak sederhana. Kita harus mulai mengubah cara melihat masa depan dengan bergandengan tangan antara pemerintah, sivitas akademika, dan mahasiswa untuk memberikan bekal menghadapi tantangan global,” ujar Maman.

Kementerian UMKM juga memperkenalkan SAPA UMKM sebagai platform digital yang diarahkan memperluas akses layanan bagi sekitar 57 juta UMKM. Platform tersebut mencakup layanan seperti pelatihan, pembiayaan, dan pemasaran.

Dengan berbagai dukungan tersebut, pemerintah berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang masuk ke pasar kerja, tetapi juga melahirkan pelaku usaha baru.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar seberapa banyak anak muda yang ingin menjadi pengusaha, melainkan seberapa banyak dari mereka yang mampu mengubah keinginan tersebut menjadi usaha yang produktif, bertahan, dan menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.