Mengenal Sosok Han Kang, Penulis Perempuan Asal Korea Selatan Peraih Nobel Sastra 2024

AKURAT.CO Penulis Han Kang meraih Nobel dalam bidang sastra dan menjadi orang Korea Selatan pertama yang menerima penghargaan prestisius ini, pada Kamis (10/10/2024).
Akademi Swedia memberikan penghargaan tersebut kepada Han Kang, yang kini berusia 53 tahun atas gaya prosa puitisnya yang mendalam dan intens.
Penghargaan Nobel ini bernilai 11 juta mahkota Swedia, setara dengan 1,1 juta dolar AS.
Dikutip dari berbagai sumber, Jumat (11/10/2024), berikut sosok Han Kang peraih Nobel Sastra asal Korsel.
Mengenal sosok Han Kang
Han Kang lahir di Korea Selatan pada tahun 1970.
Ayahnya adalah seorang guru dan novelis. Tumbuh di rumah yang dipenuhi buku, Han semakin terinspirasi untuk mendalami sastra.
Dia melanjutkan studinya di bidang bahasa dan sastra Korea di Universitas Yonsei, Seoul, dan lulus pada tahun 1993.
Di tahun yang sama, ia menerbitkan puisi pertamanya di sebuah majalah sastra Korea dan kemudian memenangkan penghargaan sastra tahunan dari surat kabar Seoul Shinmun pada tahun berikutnya.
Pada 1995, Han merilis buku cerita pendeknya berjudul Yeosu.
Ia juga berpartisipasi dalam Program Penulisan Internasional di Universitas Iowa pada 1998, tahun yang sama saat novel pertamanya, Misteri Rusa Hitam diterbitkan.
Han mulai dikenal di dunia internasional setelah novelnya, The Vegetarian dirilis pada 2007.
Sepanjang kariernya, Han Kang telah menerbitkan banyak karya, termasuk Yeosu, The Fruit of My Woman, Your Cold Hands, Black Deer, The Wind is Blowing dan Greek Lessons.
Dia juga dikenal dengan karya-karya seperti Aje aje bara-aje, Chusa dan The Life of Dasan.
Awal tahun ini, Han menerbitkan novel otobiografi berjudul The Path of Humans.
Selain novel, Han juga berkarya di berbagai genre sastra lainnya, termasuk puisi dan sastra anak-anak.
Dia menerbitkan kumpulan puisi I Put the Evening in the Drawer serta buku anak-anak seperti My Name is Sunflower dan Tear Box.
Salah satu karya terbarunya, We Do Not Part yang dirilis pada 2021, mengisahkan tragedi pembantaian warga sipil tahun 1948 di Pulau Jeju dari perspektif tiga perempuan yang membuatnya meraih penghargaan Prix Medicis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








