Akurat Logo

Spons bukan Kayu, Cara Akademisi Kenalkan Topeng Panji ke Generasi Milenial

| 30 Juli 2019, 01:05 WIB
Spons bukan Kayu, Cara Akademisi Kenalkan Topeng Panji ke Generasi Milenial

AKURAT.CO, Kampung Budaya Polowijen (KBP), salah satu kampung tematik budaya yang kondang di Kota Malang, secara konsisten terus merawat tradisi dan melestarikan budaya.

Momen Hari Anak Nasional belum lama ini, KBP menggelar event Festival Dolanan Panji Milenial dengan menggandeng Program Studi Seni Tari dan Musik (PTSM) Universitas Negeri Malang (UM). Acara ini dihelat di KBP, Polowijen, Blimbing, Kota Malang, Minggu, (28/7).

Pelatihan mengenalkan topeng Panji yang dipandu oleh dosen PTSM UM, Dr. Roby Hidajat ini melibatkan puluhan murid SDN Polowijen 3 Kota Malang, serta belasan mahasiswa dari pelbagai perguruan tinggi di Malang.

Pelatihan mengenalkan topeng Panji yang dipandu oleh dosen PTSM UM, Dr. Roby Hidajat yang melibatkan puluhan murid SDN Polowijen 3 Kota Malang. Dok. KBP

Yang menarik, pembuatan topeng Panji tidak menggunakan kayu, melainkan menggunakan bahan spons.

Menurut Roby, ia sengaja menggunakan bahan spons untuk memudahkan anak-anak sebagai tahap awal mengenalkan topeng Panji ke kaum milenial itu. Menariknya, anak-anak yang masih siswa SD ini tidak kesulitan ketika membuat topeng budaya Panji itu yang terkenal akan kerumitannya.

“Kita ke anak-anak ini menggunakan spons saja bukan kayu,” kata Roby.

Roby mengatakan, sebagai langkah awal, memang mesti menggunakan medium yang mudah saja. Pasalnya, melestarikan budaya cukup dengan minimal bisa tahu tahapnya, tak langsung ke aslinya.

"Kan jauh jaraknya bagi kaum milenial ini,” tuturnya.

Pelatihan mengenalkan topeng Panji yang dipandu oleh dosen PTSM UM, Dr. Roby Hidajat yang melibatkan puluhan murid SDN Polowijen 3 Kota Malang. Dok. KBP

Ia menambahkan, apabila pada langkah awal ini anak-anak milenial bisa membuat topeng, maka nantinya ada rasa suka terhadap budaya dan mereka lanjutkan dengan membuat topeng dengan bahan yang asli, yakni kayu.

“Kalau sudah begitu kan enak. Setidaknya mereka pernah membuatnya. Supaya nanti siapa tahu mereka tertarik membuat aslinya dan budaya terlestarikan, nggak asal bilang lestarikan budaya,” tegas Robby.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.