Akurat Logo

Menapaki Sejarah Proklamasi di Bekas Rumah Laksamana Maeda

| 24 November 2018, 16:33 WIB
Menapaki Sejarah Proklamasi di Bekas Rumah Laksamana Maeda

AKURAT.CO, Kamu yang tinggal di Jakarta bisa jadi sudah tahu, tapi tentu tak sedikit juga yang belum. Bahwa tak jauh dari Taman Suropati, ada Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Bagunannya diarsiteki oleh JFL Blankenberg berkebangsaan Belanda, yang dibangun pada 1920, di atas tanah seluas 3.914 m2, dengan luas bangunan mencapai 1.138 m2.

Awalnya, bangunan ini adalah milik PT Asuransi Jiwasraya, lalu kemudian berpindah kepemilikan ke British Konsul General. Perpindahan kepemilikan ini terus berganti-ganti sampai Jepang masuk ke Indonesia.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi. INSTAGRAM/gitagut

Saat pendudukan itulah, bangunan ini dijadikan tempat tinggal Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Perhubungan Angkatan Laut dan Darat Jepang. Tapi tak lama setelah Jepang keok, bangunan ini dialihfungsikan lagi sebagai markas tentara Inggris, yang hingga 1982 dimanfaatkan sebagai Kantor Karyawan Perpustakaan Indonesia.

Melihat jauh ke belangkang saat bangsa ini berjuang melawan penjajah dan akhirnya merdeka, jasa bangunan ini lalu ditetapkan dalam SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1992. Bangunan bekas tempat tinggal Laksamana Maeda ini lalu dijadikan museum warisan peninggalan sejarah, bernama Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi. INSTAGRAM/gitagut

Museum ini mengisahkan detik-detik proklamasi 17 Agustus 1945. Ada satu ruangan besar sebagai ruangan utama yang dulunya dipakai sebagai ruang diplomasi Indonesia-Belanda, setelah Indonesia merdeka. Pada bagian kiri pintu masuk, kamu akan mendapati ruang yang dulunya digunakan para perancang teks proklamasi, yang kemudian ditulis pada sepucuk kertas oleh Soekarno.

Pada bagian bawah tangga, ada ruangan yang dulu dipakai Sayuti Melik ditemani BM Diah untuk mengetik naskah catatan goresan tangan Soekarno itu, dan pada sisi yang lain adalah ruangan pengesahaan, saat proklamasi ditandatangani.

Agar memberi kesan yang lebih nyata, dibuatkan diorama dengan skala 1:1. Salah satu diorama yang paling berkesan adalah saat Soekarno-Hatta dan Ahmad Soebardjo menandatangani naskah itu.

Museum Perumusan Naskah Proklamasi. INSTAGRAM/gitagut

Jika Anda menuju lantai 2, makin terasa jejak sejarah itu di sini. Ada pakaian Laksamana Maeda juga jam tangan serta kacamata milik Soekarno. Banyak nukilan pada dinding yang menceritakan detik-detik proklamasi dilakukan.

Untuk menapaki jejak sejarah ini, kamu cukup membayar 2 ribu rupiah saja untuk masuk museum. Kamu yang ingin merasakan momen-momen menegangkan, mengharukan dan membanggakan itu, bisa mendapatinya di sini.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.