Baca Buku Karya Kepala BIN Budi Gunawan, Atta Halilintar Semakin Bijak Bermedia Sosial
AKURAT.CO, YouTuber Atta Halilintar punya ketertarikan pada suatu karya tulisan. Atta Halilintar rupanya memuji karya buku yang ditulis Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan berjudul 'Demokrasi di Era Post Truth'.
Setelah membaca karya dari Budi Gunawan, Atta Halilintar punya kesan tersendiri. Ya Atta Halilintar mengaku dari karya Budi Gunawan menjadi belajar banyak hal tentang menggunakan media sosial. Pada intinya, istri Aurel Hermansyah itu jadi banyak belajar bagaimana menyaring informasi dan tidak mudah percaya dengan hoaks.
"Buku karya dari Prof Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan ini sangat luar bisa. Zaman sekarang sangat perlu kita belajar agar tidak jadi tangan-tangan hoaks," ujar Atta Halilintar belum lama ini.
Atta Halilintar mengaku sejujurnya dirinya sudah banyak menemukan berita bohong di berbagai platform media sosial. Oleh karena itu, Atta Halilintar menghimbau kepada siapapun, terutama pengguna aktif media sosial agar lebih pintar mencerna informasi.
"Tinggal gimana kitanya sebagai anak muda bisa memilih-milih, melihat berita yang bagus dan enggak, serta mencernanya. Jangan langsung gampang nge-post, itu bisa berakibat fatal untuk bangsa kita juga," jelasnya.
Selain banyak tahu tentang bagaimana bijak menggunakan media sosial, Atta Halilintar menilai bahasa yang digunakan di buku karya Budi Gunawan sangat-lah mudah dipahami.
Dengan kata lain, bahasa yang digunakan cukup ringan. Lebih dari itu, Atta Halilintar menjadi semakin terbuka karena disajikan dengan visual yang menarik.
"Maka penting sekali buku ini dibaca untuk anak-anak muda, karena banyak sekali pelajaran di dalamnya seperti perkembangan media sosial dan ada algoritmanya. Yang anak muda inginkan seperti bahasa yang ringan, ada gambar, dan lainnya ada di sini," tambahnya.
Sekedar info terkait buku karya Budi Gunawan berjudul 'Demokrasi di Era Post Truth' rupanya sebelumnya telah dicetak pertama pada bulan April 2021 dan cetakan kedua terbit pada Mei 2021.
Selain itu, buku tersebut juga membuka pikiran karena membahas tentang disinformasi di era post-truth sebagai ancaman kesehatan demokrasi elektoral.
Ditambah, buku tersebut juga menyoroti ihwal keyakinan personal yang lebih penting daripada fakta objektif dalam membangun opini publik, sehingga antara kebohongan dan kebenaran sulit diidentifikasi.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 8Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat
- 10KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji




