Akurat Logo

Soroti Ekonomi Syariah RI, Warek Universitas Paramadina: Tiap Negara Punya Konteks dan Tantangan Berbeda

Silvia Nur Fajri | 4 April 2024, 19:33 WIB
Soroti Ekonomi Syariah RI, Warek Universitas Paramadina: Tiap Negara Punya Konteks dan Tantangan Berbeda

AKURAT.CO Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menggarisbawahi pentingnya keseriusan dalam mendamaikan perbedaan standar antara Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama. 

Handi menyorotintantangan yang dihadapi dalam pengembangan sektor ini, sambil menekankan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan dan alokasi pendanaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah.

"Perlu ada upaya serius untuk mendamaikan perbedaan tersebut guna mencapai kesetaraan dalam kebijakan pendidikan," kata Handi dalam sebuah Diskusi Publik bertajuk Mengkonkritkan Omon-omon Ekonomi Syariah: 5 Tantangan Utama dan Opsi Solusi di Jakarta Kamis (4/4/2024).

Baca Juga: Guru Besar UIN Sebut Ketimpangan Standar Pendidikan Jadi Tantangan Ekonomi Syariah

Kemudian, Handi juga menyoroti masalah kelembagaan yang perlu ditangani oleh Kementerian Agama, dengan menekankan perlunya upaya lebih serius dalam menyusun masterplan ekonomi syariah untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Dalam konteks pembangunan ekonomi syariah, ia menekankan pentingnya belajar dari negara lain seperti Malaysia, namun juga menyadari bahwa setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang berbeda. 

"Kita harus belajar dari negara lain seperti Malaysia dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang berbeda," ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di bidang ekonomi dan keuangan syariah, serta perlunya peningkatan alokasi pendanaan dan beasiswa untuk mendukung pendidikan tersebut.

Selain itu, Handi menekankan perlunya fokus pada pengembangan ekonomi halal secara global, dengan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen dengan nilai tambah yang tinggi. 

"Kita harus fokus pada pengembangan ekonomi halal secara global. Indonesia tidak hanya boleh menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen dengan nilai tambah yang tinggi," tegasnya.

Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan kerjasama antarlembaga dan investasi dalam riset dan pengembangan untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan industri ekonomi syariah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.