Soroti Ekonomi Syariah RI, Warek Universitas Paramadina: Tiap Negara Punya Konteks dan Tantangan Berbeda

AKURAT.CO Dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, Wakil Rektor Universitas Paramadina, Handi Risza, menggarisbawahi pentingnya keseriusan dalam mendamaikan perbedaan standar antara Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama.
Handi menyorotintantangan yang dihadapi dalam pengembangan sektor ini, sambil menekankan pentingnya meningkatkan kualitas pendidikan dan alokasi pendanaan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi syariah.
"Perlu ada upaya serius untuk mendamaikan perbedaan tersebut guna mencapai kesetaraan dalam kebijakan pendidikan," kata Handi dalam sebuah Diskusi Publik bertajuk Mengkonkritkan Omon-omon Ekonomi Syariah: 5 Tantangan Utama dan Opsi Solusi di Jakarta Kamis (4/4/2024).
Baca Juga: Guru Besar UIN Sebut Ketimpangan Standar Pendidikan Jadi Tantangan Ekonomi Syariah
Kemudian, Handi juga menyoroti masalah kelembagaan yang perlu ditangani oleh Kementerian Agama, dengan menekankan perlunya upaya lebih serius dalam menyusun masterplan ekonomi syariah untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Dalam konteks pembangunan ekonomi syariah, ia menekankan pentingnya belajar dari negara lain seperti Malaysia, namun juga menyadari bahwa setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang berbeda.
"Kita harus belajar dari negara lain seperti Malaysia dalam pengembangan ekonomi syariah. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa setiap negara memiliki konteks dan tantangan yang berbeda," ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas pendidikan di bidang ekonomi dan keuangan syariah, serta perlunya peningkatan alokasi pendanaan dan beasiswa untuk mendukung pendidikan tersebut.
Selain itu, Handi menekankan perlunya fokus pada pengembangan ekonomi halal secara global, dengan Indonesia tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen dengan nilai tambah yang tinggi.
"Kita harus fokus pada pengembangan ekonomi halal secara global. Indonesia tidak hanya boleh menjadi konsumen, tetapi juga harus menjadi produsen dengan nilai tambah yang tinggi," tegasnya.
Untuk mewujudkan hal ini, diperlukan kerjasama antarlembaga dan investasi dalam riset dan pengembangan untuk mendorong inovasi dan pertumbuhan industri ekonomi syariah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah






