AKURAT.CO Startup platform gerbang pembayaran Xendit dikabarkan bakal melay-off 25% karyawannya, atu sekitar 200 karyawan.
Mengutif Ecommurz, PHK tersebut bakal terjadi secara bertahap dalam beberapa pekan ke depan, yang disampaikan manajemen dalam townhall sekitar 10 menit baru-baru ini.Seiring PHK tersebut, karyawan dikabarkan bakal meneriman kompensasi yang besar.
Kabar PHK ini datang tak lama setelah perusahaan mengumumkan ekspansi ke Malaysi adengan berinvestasi ke Payex.
Perusahaan belakangan aktif memperkuat ekosistem gerbang pembayarannya hingga ke pasar Filipina dan Malaysia serta ke banyak fintek lokal untuk memperkuat posisi perusahaan.
PHK ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang juga mencakup kalibrasi peran internal, dimana banyak karyawan didemosi serta dibebankan pekerjaan yang lebih banyak.
Baca Juga: Persaingan Kian Ketat, Lazada Dikabarkan PHK 30 Persen Karyawan
"Sebelumnya Xendir juga mengadakan karyawan trip ke Pattaya yang menelan biaya hingga USD1 juta dan melibatkan 600 karyawan. Trip ini bahkan direncanakan setahun sebelumnya sebelum lay-off 5% karyawan di kuartal III-2023," tulis Ecommurz dikutip Senin (22/1/2023).
Dikabarkan Xendit menghadapi tekanan persaingan bisnis dari kompetitor maupun kondisi makro ekonomi. Perusahaan sudah mencoba diversifikasi usaha dengan meluncurkan digibank di bawah Nex serta meluncurkan kartu kredit.
Hal ini menyusul banyaknya pelaku gerbang pembayaran (kecuali Midtrans milik GOTO Financial) yang memperlebar bisnisnya ke digibank seiring susutnya volume transaksi mereka.
Diketahui, Xendit dipimpin oleh perempuan asal Sukabumi, Tessa Wijaya yang mengantarkan perusahaan tersebut mencapai posisi perusahaan Unicorn bernilai US$1 miliar. Ia juga menjadi co-founder dan perempuan pertama yang memimpin perusahaan Unicorn di Indonesia, meskipun tanpa latar belakang pendidikan di bidang teknologi dan keuangan.
Tessa merupakan lulusan Master of Philosophy di University of Sydney. Tessa menyebutkan memulai bisnis Xendit karena melihat adanya peluang untuk memajukan ekonomi Indonesia dengan digitalisasi dan mempercepat peredaran uang.
Tessa membangun Xendit pada 2016 bersama rekannya Moses Lo dan Bo Chen. Saat itu, Moses dan Bo memulai perusahaan rintisannya di rumah yang dijadikan sebagai kantor. Mereka membangun Xendit dari awal tanpa gaji, hingga menjadi besar dan mendapatkan pendanaan ratusan juta dolar.
Xendit berhasil masuk dalam jajaran 10 perusahaan teratas di Asia Pasifik ini telah mengumpulkan pendanaan Seri D sebesar USD300 juta atau Rp4,4 triliun yang dipimpin oleh Coatue dan Insight Partners, dengan total pendanaan mencapai USD538 juta atau Rp7,9 triliun pada Mei 2022.
Perusahaan ini pun mengantongi status unicorn setelah berhasil mengamankan putaran pendanaan sebelumnya pada September 2021 dan sudah memiliki lebih dari 3.500 pelanggan dan melaporkan transaksi tahunan meningkat tiga kali lipat dari 65 juta menjadi 200 juta dari 2021 hingga 2022.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









