Pemuda Dorong Optimalisasi Cadangan Migas Indonesia

AKURAT.CO Pemerintah diminta menyiapkan strategi antisipasi dalam menghadapi krisis energi, mengingat ada kebutuhan mendesak dari dalam negeri terkait ketersediaan cadangan minyak dan gas di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Koordinator Tata Kelola dan Pengelolaan Komoditas Kegiatan Hilir Migas Mochamad Ilham Syah.
Menurut Ilham, perlu ada strategi dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional seperti peningkatan produksi, peningkatan kapasitas kilang domestik existing, mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi, peningkatan pembangunan jaringan gas kota, peningkatan produksi LPG domestik, dan pembangunan transmisi gas dan LNG receiving terminal. .
“Ujung-ujungnya adalah kita memperoleh kedaulatan energi, kita memperoleh ketahanan energi, dan pembangunan di negara kita bisa berkelanjutan,” papar Ilham di sela dialog interaktif yang digelar Pimpinan Pusat Kesatria Muda Respublika (PP KMR) bertajuk Mengoptimalkan Cadangan Minyak Nasional di Tengah Krisis Energi Dunia dikutip Sabtu (22/7/2023).
Senada, Direktur Eksekutif Parwa Institute, Jusrianto menjelaskan bahwa kebutuhan yang besar dalam pemenuhan kebutuhan minyak dan gas di Indonesia muncul pasca Covid-19 dan saat invasi Rusia ke Ukraina.
“Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki banyak komoditi yang dapat dijadikan sebagai posisi tawar untuk mengoptimalkan statute Indonesia di mata dunia,” katanya.
Menurut Jusrianto, diperlukan adanya peta jalan terkait bagaimana menghadapi atau menemukan solusi krisis energi dunia yang tidak terlalu berpengaruh pada kondisi domestik Indonesia.
Lembaga Eksekutif Mahasiswa Universitas Jayabaya, Farid Sudrajat menyebutkan jika ketahanan energi adalah dasar keamanan nasional. Menurutnya,ketahanan energi adalah aspek krusial dalam upaya negara memastikan ketersediaan energi yang cukup saat menghadapi situasi darurat.
Di tengah komitmen dunia pada transisi energi khususnya migas, lanjutnya, sektor minyak dan gas memiliki peran yang cukup penting. Peran penting tersebut meliputi kepastian pasokan energi nasional tetap stabil menuju transisi, turut berkontribusi pada pendapatan negara, sebagai alat negosiasi perdagangan dunia, serta sebagai pilar utama mewujudkan kedaulatan negara.
“Tentu ini diperlukan peran dari seluruh unsur, termasuk mahasiswa, seperti peningkatan kesadaran tentang pentingnya ketahanan energi, pengembangan dan advokasi kebijakan energi berkelanjutan, melakukan promosi inovasi teknologi dan riset di bidang migas, meningkatkan efisiensi energi dan penggunaan berkelanjutan, serta memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan energi,” paparnya.
Ketua Dewan Pembina PP KMR, Iwan Bento Wijaya menjelaskan bahwa selain penguasaan sumber daya alam negara khususnya migas juga perlu melakukan pengusahaan sumber daya alam, dalam hal ini berkaitan dengan industry hulu dan hilir sumber daya alam.
“Adapun Langkah-langkah yang dapat negara lakukan dalam penguasaan dan pengusahaan melalui penyertaan modal pada BUMN, menerapkan beberapa skema Busines to Busines, ” ujarnya.
Berdasarkan pantauannya, negara membutuhkan biaya yang sangat besar untuk melakukan penelitian, riset, dan eksplorasi migas. Sehingga skema-skema tersebut mendesak dilakukan oleh industri hulu dan hilir.
Saat ini, lanjutnya, langkah yang dilakukan oleh PT Pertamina Hulu Energi sudah tepat. Pertamina Hulu Energi menjalankan penguasaan dan pengusahaan negara terhadap sumber daya alam.
“Sehingga berdampak pada penumbuhan profesionalitas perusahaan, peningkatan image perusahaan, peningkatan nilai perusahaan, kepercayaan pada akses pemodalan, dan akses pendanaan pasar modal,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





