Akurat Logo

Pengamat Beberkan Manfaat Kompor Induksi, Lebih Murah Dibanding LPG?

| 17 Maret 2022, 12:10 WIB
Pengamat Beberkan Manfaat Kompor Induksi, Lebih Murah Dibanding LPG?

AKURAT.CO, Harga minyak dunia yang terus naik membuat harga acuan LPG yaitu CP Aramco terus mengalami kenaikan. Per Maret 2022 ini, harga CP Aramco sudah menyentuh di level USD900 per metrik ton. Padahal saat ini, 65 persen LPG yang digunakan berasal dari impor sehingga bisa meningkatkan defisit neraca perdagangan kita.

Direktur Executive Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan kenaikan harga minyak dunia juga berdampak pada meningkatnya penggunaan dolar yang dapat menyebabkan mata uang rupiah terdepresiasi terhadap mata uang dolar.

Oleh karena ini, Mamit menilai penggunaan kompor induksi akan membantu pemerintah untuk mengurang impor LPG.

“Melalui penggunaan kompor induksi, dapat membantu pemerintah dalam menghemat anggaran di APBN kita. Selain itu, penggunaan kompor induksi merupakan upaya untuk membangun kemandiri energi,” kata Mamit Setiawan dalam keterangan yang diterima Akurat.co, Kamis (17/3/2022).

Mamit menjelaskan impor LPG dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan seiring dengan konsumsi yang terus naik. Pada tahun 2024, impor LPG bisa mencapai Rp67,8 triliun.

Ia menambahkan bahwa dengan beralih ke kompor induksi, ketergantungan terhadap impor LPG bakal berkurang secara bertahap sehingga bakal mendorong kemandirian energi.

“Tak hanya itu, masalah defisit transaksi berjalan atau (current account defisit/CAD) akibat impor LPG secara perlahan juga dapat diselesaikan,” kata Mamit

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada November 2021 lalu juga telah menekankan untuk mengubah energi berbasis impor ke energi berbasis domestik. Pemanfaatan potensi energi dalam negeri adalah yang utama termasuk salah satunya melalui konversi penggunaan kompor LPG ke kompor induksi.

Manfaat dari perubahan penggunaan LPG ke kompor listrik bisa langsung terasa. Kata dia, dengan perubahan tersebut negara juga akan lebih menghemat karena ada pengurangan subsidi LPG.

Sehingga ini perlu adanya pergeseran gaya hidup, kultur, kebijakan, industri pendukung, yang pada intinya bagaimana pergeseran ini bisa berjalan.

Masyarakat juga akan mendapatkan manfaat dari penggunaan kompor induksi ini. Konsumsi menggunakan kompor induksi, jika dibandingkan 1 kg LPG adalah sebesar 7,1 kWh.

“Artinya, dengan memakai kompor listrik masyarakat hanya perlu merogoh kocek Rp Rp10.266, yang setara dengan 1 kg LPG Non subsidi dengan harga Rp15.500 per kg,” ucap Mamit.

Dengan asumsi pemakaian 1 bulan sebanyak 9 kg, maka biaya yang dikeluarkan rumah tangga mencapai Rp139.500. Sedangkan pemakaian 1 bulan kompor induksi setara dengan 64,7 kWh atau hanya Rp93.556.

“Artinya, penggunaan energi LPG lebih mahal Rp 45.944 per bulan jika dibandingkan dengan penggunaan kompor induksi,” tuturnya.

Selain untuk mengurangi angka impor, langkah konversi ini juga bakal menekan subsidi LPG dalam APBN yang terus membengkak.

Pada tahun ini saja pemerintah menganggarkan Rp61 triliun untuk subsidi LPG dengan asumsi ICP USD63 per barel. Per Februari 2022, ICP sudah menyentuh di level USD95,72 per barel.

Kenaikan ini akan berdampak terhadap beban subsidi LPG dimana setiap kenaikan USD1 ICP maka beban subsidi LPG akan meningkat sebesar Rp1,47 triliun.

“Jadi bisa dibayangkan berapa beban penambahan untuk subsidi LPG 3 kg saat ini,” pungkas Mamit.[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.