Meski Manfaatkan Batubara, PLTU Cirebon Ramah Lingkungan

AKURAT.CO, Pemanfaatan batubara sebagai sumber energi pembangkit listrik terus diupayakan lebih ramah lingkungan. Berbagai teknologi dan langkah-langkah pengelolaan lingkungan juga dikelola sedemikan rupa, sehingga pengoperasian pembangkit listrik dapat berjalan beriringan bersama dengan lingkungan yang baik.
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1x660 MW Cirebon telah menggunakan teknologi Supercritical Boiler untuk mengoperasikan pembangkitnya. PLTU peraih ASEAN Federation Organizations (AFEO) untuk pelopor penerapan teknologi batubara bersih ini juga menerapkan berbagai langkah agar pembangkit tidak membawa dampak buruk bagi masyarakat sekitar.
Adapun terdapat enam langkah yang dapat dilakukan, sehingga PLTU Cirebon berbeda dengan PLTU-PLTU lain. Langkah pertama yang dilakukan adalah penggunaan teknologi untuk pembangkit, yakni menggunakan Supercritical Boiler dan pemanfaatan batubara rendah kalori serta sulfur yang tidak menghasilkan limbah B3 gypsum.
Di Indonesia, Cirebon Power bersama PLTU Paiton III merupakan pionir yang menggunakan teknologi supercritical boiler untuk mengoperasikan pembangkit.
"PLTU Cirebon menghasilkan gas rumah kaca atau emisi yang lebih rendah karena menggunakan teknologi yang tinggi dan efisien tersebut," lanjut Environmental Manajer Cirebon Power Edi Wibowo, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (24/11).
Langkah ketiga, penggunaan sumber daya alam yang efisien. Total Penggunaan Energi berada di Top 25 persen perusahaan sejenis. Cooling tower menghemat penggunaan air hingga 86 persen dibanding Once Through.
Keempat, pemantauan udara ambien selama 24 jam. Alat Pemantau Udara Ambien/Ambient Air Monitoring Station beroperasi aktif dan online 24 jam terus dilakukan perawatan hingga saat ini.
" Ini penting kami sampaikan, karena setiap PLTU mempunyai alat ini sejak awal tetapi alat ini tidak bertahan lama karena alat ini sangat rentan sekali. Dan alat di PLTU Cirebon masih beroperasi dengan baik karena terus kita rawat setiap hari," ucap Edi.
Langkah berikutnya adalah pemanfaatan limbah B3 secara optimal, di mana 99,3 persen itu dimanfaatkan (bukan ditimbun) oleh perusahaan pemanfaat berizin. Ini menjadi kelebihan buat perusahaan karena limbah B3 dari PLTU itu yang paling besar adalah Fly ash dan Bottom Ash.
" Kita perusahaan pembangkit batubara yang tidak mempunyai landfill, berbeda dengan PLTU lain yang umumnya mempunyai landfill yang sangat besar. PLTU kita 100 persen fly ash dan bottom ash tersebut dimanfaatkan oleh pabrik semen," jelasnya.
Langkah terakhir, PLTU Cirebon tidak memiliki limbah bahang. "PLTU Cirebon adalah PLTU pertama yang menggunakan cooling tower sehingga membuat suhu air limbah yang keluar tidak jauh berbeda dari suhu air laut yang masuk (28 derajat celcius - 31 derajat celcius) sehingga tidak menyebabkan kerusakan pada biota laut," pungkasnya.[]
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat



