Telan Rp17 Triliun, Biorefinery Cilacap Beroperasi Penuh pada 2029

AKURAT.CO PT Pertamina Patra Niaga resmi memacu proyek strategis Biorefinery Cilacap Fase 2. Proyek yang telah memulai proses groundbreaking pada Februari 2026 ini dirancang sebagai standalone dedicated green refinery pertama di Indonesia.
Tujuannya memproduksi bahan bakar ramah lingkungan skala besar guna memperkuat kemandirian energi hijau dan penyediaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) nasional.
Menurut Executive General Manager RU IV Cilacap PT Pertamina Patra Niaga, Hermawan Budiantoro, pengembangan biorefinery ini menelan nilai investasi sekitar USD1,1 miliar (setara Rp17,5 triliun) dengan kapasitas total 6 KBPD.
Baca Juga: Menko Zulhas Ajak Swasta Kelola Sampah Cilacap
Sebagai catatan, proyek ini telah masuk dalam Green Book 2026 untuk skema pinjaman luar negeri via Bappenas.
Proyek ini memulai tahap Engineering Design (FEED) pada 2025, lalu proses FID & Partnership pada 2026. Lalu dijadwalkan Engineering, Procurement, Construction (EPC) pada 2027 serta onstream (Beroperasi Penuh) pada 2029.
"Yang eksisting (fasilitas blending dengan presentase maksimal hingga 2-3% biofuel) tetap bisa digunakan dengan kapasitasnya terbatas TDHT (Treated Distillate Hydrotreating) nya. Yang standalone green refinery itu nanti terealisasi penuh sekitar 3 tahun lagi," ujar Hermawan di Cilacap, Kamis (10/9/2026).
Untuk pemenuhan bahan baku atau feed stock sendiri, diakui Hermawan pihaknya menjalankan beberapa skenario. Yang pertama, skema business to customer atau B2C atau langsung ke masyarakat dan komunitas. Kedua skema business to business atau B2B.
Kapasitas Produksi & Pengolahan Bahan Baku
Proyek seluas 17,5 Hektar (inside battery limit) ini dirancang mengolah bahan baku berbasis nabati serta limbah ramah lingkungan, utamanya minyak goreng bekas (Used Cooking Oil/UCO/jelantah), Crude Palm Oil (CPO), dan Palm Oil Mill Effluent (POME).
Adapun target outputnya sebesar 860 Kilo Liter (KL)/hari SAF atau setara 870 KL/hari HVO (Hydrotreated Vegetable Oil)dari produksi saat ini sekitar 27 KL/hari (TDHT Cilacap).
Jalur Distribusi Bioavtur (SAF)
Refinery Unit (RU) Cilacap yang saat ini telah memasok kebutuhan avtur domestik ke bandara di Pulau Jawa dan Bali—termasuk dua bandara terbesar di Indonesia, Bandara Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara I Gusti Ngurah Rai (DPS).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 24 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 4Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 5Materi Matematika TKA SMA 2026, Cek Kisi-Kisi dan Contoh Soal Terbaru
- 6Kalender Jawa 27 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pahing Dikenal Cerdas dan Banyak Akal
- 7Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 8Biaya Marketplace Makin Tinggi, Brand Lokal Mulai Mengandalkan Website Sendiri
- 9Silmy Karim Didakwa Terima Rp1,2 Miliar dari Pungli Dokumen Imigrasi
- 10KPK Ingatkan Nusron Wahid untuk Kooperatif dan Berharap Dukungan Penuh Pemerintah








