Danantara Ungkap Biang Kerok Motor Listrik Sulit Berkembang di Indonesia

AKURAT.CO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mendorong pembangunan infrastruktur pengisian daya untuk mempercepat adopsi motor listrik di Indonesia.
Managing Director Industrialisasi BPI Danantara, Ardy Muawin mengatakan, ketersediaan infrastruktur menjadi salah satu kendala yang membuat penetrasi motor listrik masih rendah.
Sekadar informasi, adopsi motor listrik belum menunjukan tren yang signifikan. Pada tahun 2024, adopsi Molis di Tanah Air mencapai 77 ribu unit. Namun, pada tahun 2025 adopsinya hanya berada diangka 55 ribu unit atau turun sekitar 28,6%.
Baca Juga: Intensifkan Restrukturisasi WIKA dan PTPP, COO Danantara: Kita Enggak Mau Yang Akal-akalan
Danantara, kata Ardy telah berdiskusi dengan sejumlah operator fleet seperti Grab, Gojek, Pos Indonesia, dan perusahaan logistik last mile terkait potensi penggunaan motor listrik.
Ardy menyebut penggunaan motor listrik dapat menekan biaya operasional sekitar Rp10.000-Rp20.000 per hari dibandingkan motor berbahan bakar bensin.
“Nah, kalau bisa ngirit, saya ngitung aja Rp20.000 kali 25 hari, Rp500.000 per bulan. That's a lot of money buat teman-teman itu,” kata Ardy dalam BIG Industrial Insight, Kamis (20/8/2026).
Namun, menurut Ardy, adopsi motor listrik masih menghadapi persoalan infrastruktur pengisian daya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara mendorong pembangunan charging station melalui program motor listrik nasional atau Molinas dengan memanfaatkan jaringan SPBU Pertamina maupun SPKLU PLN yang telah tersedia.
“Jadi diharapkan nanti, Molinas ini juga akan membangun charging station, dengan kami memanfaatkan jaringan yang ada di daerah-daerah,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Danantara juga mendorong standardisasi baterai motor listrik untuk menciptakan skala ekonomi industri.
Ardy menyampaikan, peserta program Molinas yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto akan diarahkan menggunakan baterai dengan spesifikasi yang terstandar, mulai dari ukuran, kapasitas, konektor, hingga sistem pengisian.
“Kalau kamu mau ikutan Molinas, baterainya ambil dari IBC, kotaknya sekian, wattnya sekian, colokannya sekian, chargingnya tipe sekian, nah dapet subsidi,” tutur Ardy.
Menurutnya, standardisasi tersebut diperlukan agar produsen baterai, manufaktur motor listrik, penyedia infrastruktur, dan konsumen dapat membentuk ekosistem yang terintegrasi.
Baca Juga: Danantara Petakan Aset BUMN Transportasi, Bakal Restrukturisasi?
“Harapannya, kita ini secara ekosistem, bisa tumbuh bareng-bareng,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen








