Menteri Bahlil: B50 Pangkas Impor Solar 300 Ribu Barel per Hari

AKURAT.CO Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan implementasi biodiesel 50 persen (B50) mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya solar.
Pemerintah menargetkan implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) siap diberlakukan mulai 1 Juli 2026.
Bahlil mengatakan, konsumsi solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun. Melalui kebijakan mandatori pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit, pemerintah berhasil menggantikan sebagian besar kebutuhan impor solar.
Baca Juga: Kementerian ESDM Ungkap 24 WNA Masuk Daftar Tersangka Tambang Ilegal Gunung Botak
"Yang namanya B10, kemudian ada petani bagus menjadi B40. Ternyata dengan B10 sampai B40 yang besok Juli akan kita resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita,” kata Bahlil dalam acara Energy Forum dikutip, Jumat (26/6/2026).
Bahlil menegaskan, sejak tahun ini Indonesia tidak akan lagi melakukan impor solar seiring meningkatnya porsi biodiesel dalam bauran energi nasional.
Dengan implementasi B50, sekitar 300 ribu barel per hari kebutuhan solar dapat dipenuhi dari bahan baku domestik berbasis kelapa sawit.
"Jadi dengan B50 ini 50% kita, kan kita konsumsi kita kan 50% dari solar itu kurang lebih sekitar 300.000 barel per day yang bisa kita cover," katanya.
Ia menjelaskan, langkah tersebut turut menekan total kebutuhan impor minyak Indonesia yang saat ini masih mencapai sekitar satu juta barel per hari. Dengan kontribusi biodiesel, angka impor dapat ditekan menjadi sekitar 700 ribu barel per hari.
"Jadi artinya impor solar, impor kulut kita yang 1 juta barel per day itu tinggal sekitar 700.000 barel per day, karena 300.000 barelnya itu dikonversi dengan B50, FAME itu," tutur Bahlil.
Ke depan, pemerintah membuka peluang peningkatan mandatori biodiesel hingga B70 atau bahkan B80 apabila ketersediaan bahan baku dan dukungan lahan memungkinkan.
Menurut Bahlil, minyak nabati dapat menjadi alternatif strategis ketika produksi migas konvensional menghadapi tantangan.
Baca Juga: Menteri ESDM Pastikan Impor Minyak Rusia Lanjut, Lemigas Sudah Kantongi Kontrak
"Saya lagi pikir-pikir ya, kalau begini bisa Pak Presiden perintahkan kalau memang ini, bisa gak kita buat B70, B80 tinggal kita tambah lahan. Tapi begitu kita ditambah lahan, ada yang gak setuju lagi,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 7Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 8Prediksi Spanyol vs Kroasia di UEFA Nations League: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 9KPK Geledah Kantor Bela Parahiyangan Investindo, Terkait Suap Kementerian ATR/BPN
- 10Kejagung Limpahkan Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana ke JPU, Dakwaan Disiapkan









