PIK2 Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Global di Sektor Properti

AKURAT.CO Industri properti menghadapi tantangan besar pada 2026 seiring meningkatnya tekanan biaya dan ketidakpastian global.
Pelaku usaha, pengamat, hingga sektor perbankan menilai kondisi ini menuntut strategi yang lebih adaptif agar tetap bertahan.
Director of Sales & Marketing PIK2, Lucian Aditjakra, menyebut tekanan biaya (cost pressure) menjadi tantangan utama dalam pengembangan proyek properti saat ini.
Hal ini dipicu oleh gangguan rantai pasok global yang membuat harga bahan baku menjadi tidak stabil dan cenderung meningkat.
“Cost pressure menjadi tantangan utama karena kondisi global masih volatil. Gangguan rantai pasok membuat biaya konstruksi berpotensi meningkat cukup signifikan,” ujarnya dalam Seminar Property Outlook bertajuk “Membaca Arah Perkembangan dan Peluang Pasar Properti di Tahun 2026” yang digelar dalam rangkaian ASG Expo 2026 di Main Atrium PIK Avenue, pekan lalu.
Menurut Lucian, kondisi tersebut menuntut pengembang untuk lebih disiplin dalam mengelola arus kas (cash flow management) serta mengubah strategi pengembangan proyek.
Ia menilai pendekatan big bang atau pembangunan besar sekaligus sudah tidak relevan, dan perlu digantikan dengan strategi bertahap (phased development) yang lebih terukur.
“Pengembangan harus dilakukan secara bertahap, terarah, dan berbasis kebutuhan pasar, bukan spekulasi seperti di siklus sebelumnya,” jelasnya.
Meski tahun 2026 dinilai bukan periode yang mudah, Lucian melihat masih ada peluang bagi pelaku usaha yang mampu beradaptasi dan mengelola risiko dengan baik.
Baca Juga: Respons Tuntutan Buruh di May Day 2026, DPR Siap Bahas RUU Ketenagakerjaan
Pandangan serupa disampaikan pengamat ekonomi Josua Pardede.
Ia menilai konflik global mulai memberi tekanan signifikan terhadap industri properti, terutama dari sisi biaya bahan baku dan logistik.
Menurutnya, terganggunya jalur distribusi internasional, termasuk kawasan strategis seperti Selat Hormuz, berdampak pada pengiriman barang dan pasokan energi global.
“Jika jalur logistik terganggu, distribusi bahan baku ikut terhambat. Ini memicu kenaikan harga, terutama untuk komoditas turunan minyak dan material konstruksi,” ujar Josua.
Ia menambahkan, harga sejumlah material seperti besi bahkan dilaporkan mengalami kenaikan berulang dalam waktu singkat akibat tekanan pasokan.
Kondisi ini mendorong naiknya biaya pembangunan, terutama karena ongkos logistik yang ikut meningkat.
Meski demikian, Josua mencatat bahwa biaya tenaga kerja relatif masih stabil, sehingga dapat sedikit menahan lonjakan biaya secara keseluruhan.
“Tekanan utama memang berasal dari material dan logistik, sementara tenaga kerja relatif belum mengalami kenaikan signifikan,” katanya.
Selain faktor biaya, tantangan lain datang dari sisi permintaan.
Associate Director Bank Artha Graha Internasional, Andy Dharma, menyoroti penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada sektor properti.
“Dari profil nasabah, terlihat ada penurunan daya tahan keuangan, khususnya pada kelompok tertentu. Ini menjadi perhatian perbankan dalam penyaluran kredit,” ujarnya.
Menurut Andy, perubahan pola tabungan masyarakat menjadi indikator penting dalam membaca risiko.
Ketika kemampuan menabung menurun, permintaan terhadap kredit properti juga ikut tertekan.
Meski demikian, ia menegaskan kebutuhan hunian tetap menjadi faktor fundamental yang menjaga permintaan properti.
“Kebutuhan tempat tinggal tidak hilang. Namun, daya beli masyarakat yang menjadi tantangan utama saat ini,” jelasnya.
Baca Juga: Kenapa Paket Belanja Online Bisa Terlambat? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui
Dalam situasi tersebut, perbankan dituntut lebih selektif dan berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, sekaligus tetap adaptif terhadap dinamika pasar.
Ketiga narasumber sepakat bahwa industri properti masih memiliki prospek, meski dihadapkan pada tekanan eksternal dan domestik.
Kunci bertahan di tengah situasi ini adalah efisiensi, pengelolaan risiko yang baik, serta kemampuan menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar.
Dengan langkah tersebut, sektor properti diharapkan tetap mampu menjaga pertumbuhan, meskipun tidak seagresif pada periode sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan







