Akurat Logo

Mitigasi Dampak Penutupan Selat Hormuz: Tambah Subsidi Energi atau Sesuaikan Harga BBM

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 2 Maret 2026, 17:04 WIB
Mitigasi Dampak Penutupan Selat Hormuz: Tambah Subsidi Energi atau Sesuaikan Harga BBM
Selat Hormuz

AKURAT.CO Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berujung pada potensi penutupan Selat Hormuz diperkirakan akan memberikan dampak besar terhadap pasar energi global, termasuk bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah.

Praktisi migas, Hadi Ismoyo menjelaskan Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi titik sempit (choke point) bagi sekitar 20% ekspor minyak negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) serta sekitar 30% pasokan gas alam cair (LNG) dunia.

“Dengan ditutupnya Selat Hormuz, dunia akan kehilangan pasokkan yg setara dengan 17-20 juta bopd. Dengan sendirinya harga akan naik significant,” kata Hadi kepada Akurat.co, Senin (2/3/2026).

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz, Pemerintah Waspadai Lonjakan Harga Minyak

Hadi menilai, eskalasi konflik berpotensi semakin meningkat setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.

Kondisi tersebut diperkirakan akan memicu aksi balasan dari Iran yang dapat memperpanjang konflik di kawasan Teluk.

“Artinya Perang Teluk ini akan berlangsung brutal dan cukup lama. Iran akan membabi buta menyerang semua kepentingan US di Middle East termasuk menenggelamkan semua tanker asing yg lewat di Selat Hormuz,” ucapnya.

Dari sisi domestik, Hadi menyebut lonjakan harga minyak dunia berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Hal ini mengingat Indonesia masih bergantung pada impor minyak mentah dalam jumlah besar.

Saat ini, dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, kebutuhan impor minyak mentah Indonesia diperkirakan masih mencapai sekitar 1,2 juta barel per hari.

“Kenaikan ini tentu seharusnya back to back dengan kenaikam BBM dalam negeri. Namun Pertamina tidak bisa menaikkan harga BBM tanpa persetujuan Pemerintah dan DPR,” ujar Hadi.

Lebih lanjut, Hadi menjelaskan untuk jangka pendek pemerintah perlu segera menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi lonjakan harga energi global.

Salah satu opsi yang mungkin ditempuh adalah menambah anggaran subsidi energi dalam APBN atau memberikan izin penyesuaian harga BBM di dalam negeri.

Untuk jangka panjang, Hadi mendorong pemerintah mempercepat program konversi energi dari BBM ke gas dengan membangun infrastruktur gas secara masif.

“Resource Gas kita Jauh lebih besar dari resources minyak. Gas lebih efesien dan lebih bersih dari minyak interm of dalam menghasilkan emisi karbon. Mengurangi ketergangungan import Minyak dan BBM dari LN. Menghemat devisi dan subsidi negara,” tuturnya.

Sementara itu, Founder ReforMiner Institute, Pri Agung Rakhmanto menilai dampak konflik terhadap pasar energi global akan sangat bergantung pada skala dan eskalasi perang yang terjadi dalam beberapa waktu ke depan.

Ia mengatakan Amerika Serikat sendiri telah mempersiapkan skenario konflik yang dapat berlangsung hingga empat minggu ke depan, sehingga perkembangan situasi di Iran dan kawasan Timur Tengah akan menjadi faktor penentu.

“Pelaksanaan Penutupan selat hormuz akan bergantung pada ini semua. Tapi pada prinsipnya, dari sisi kepentingan ekonomi, bahkan untuk semua negara, penutupan selat hormuz tidak akan menguntungkan bagi siapa pun, termasuk bagi Iran sendiri,” ucap Pri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.